
Penerbangan di India tengah dilanda kekacauan parah selama beberapa hari terakhir, utamanya disebabkan oleh maskapai terbesar negara itu, IndiGo, yang membatalkan ratusan penerbangan. Ribuan penumpang dilaporkan terlantar di berbagai bandara utama di seluruh negeri, memicu kemarahan dan frustrasi publik.
Krisis ini, yang telah berlangsung sejak awal Desember 2025, mencapai puncaknya pada Jumat (5/12/2025), dengan IndiGo membatalkan sekitar 500 penerbangan, termasuk seluruh keberangkatan dari New Delhi. Sebelumnya, pada Kamis (4/12/2025), setidaknya 175 penerbangan IndiGo dibatalkan, menyusul 150 pembatalan pada Rabu (3/12/2025). Data lain menunjukkan bahwa hingga Rabu (3/12/2025), IndiGo telah membatalkan lebih dari 1.200 penerbangan, jumlah tertinggi dalam 20 tahun operasional maskapai tersebut. Bandara-bandara yang paling terdampak termasuk Delhi, Mumbai, Hyderabad, Pune, dan Bengaluru.
Penyebab utama kekacauan ini adalah kegagalan IndiGo dalam menyesuaikan jadwal operasionalnya dengan regulasi keselamatan penerbangan baru yang ditetapkan pemerintah India. Aturan baru ini, yang mulai berlaku pada 1 November, bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dengan memberikan waktu istirahat yang lebih panjang bagi pilot dan kru, serta membatasi jam terbang, terutama pada operasi malam hari. IndiGo, yang menguasai lebih dari 60% pangsa pasar domestik, mengakui kurangnya perencanaan yang matang menjelang tenggat waktu penerapan aturan tersebut, terutama saat permintaan perjalanan udara meningkat tajam menjelang akhir tahun. Hal ini menyebabkan kekurangan pilot dan kru yang signifikan.
Ribuan penumpang terdampar di bandara selama berhari-hari, menghadapi penundaan hingga delapan jam dan minimnya bantuan dari staf maskapai. Keluhan membanjiri media sosial, dengan banyak yang mengungkapkan kekecewaan atas kurangnya informasi dan penanganan krisis. Bahkan, sebuah pasangan pengantin terpaksa menggelar resepsi pernikahan secara virtual karena penerbangan mereka dibatalkan.
Menanggapi situasi ini, IndiGo telah menyampaikan permintaan maaf kepada para pelanggannya. Maskapai menawarkan pengaturan perjalanan alternatif, pengembalian dana penuh, pembebasan biaya pembatalan atau perubahan jadwal untuk perjalanan antara 5 hingga 15 Desember, serta penyediaan transportasi darat dan ribuan kamar hotel bagi penumpang yang terdampak. IndiGo memperkirakan operasionalnya akan pulih sepenuhnya pada 10 Februari 2026, meskipun mereka berharap ada perbaikan bertahap mulai Sabtu (6/12/2025). Mulai 8 Desember, maskapai juga akan mengurangi frekuensi penerbangan untuk meminimalkan gangguan lebih lanjut.
Pemerintah India telah turun tangan memantau situasi dengan ketat. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DGCA) telah meluncurkan penyelidikan dan menyatakan "ketidaksenangan yang jelas" atas penanganan krisis oleh IndiGo. Regulator telah meminta IndiGo untuk menyerahkan rencana rinci terkait perekrutan pilot, pelatihan, penjadwalan ulang kru, serta analisis risiko keselamatan. Dilaporkan, otoritas penerbangan sipil India juga memberikan pengecualian sementara terhadap sejumlah aturan baru untuk membantu IndiGo menanggulangi krisis, meskipun asosiasi pilot mengkritik kemungkinan relaksasi aturan tersebut karena dapat membahayakan keselamatan.
Maskapai besar lain di India, seperti Air India dan Akasa, tidak mengalami pembatalan penerbangan akibat aturan baru tersebut. Krisis ini menjadi pukulan telak bagi industri penerbangan India yang sedang tumbuh pesat, dan menyoroti pentingnya perencanaan operasional yang cermat dalam menghadapi perubahan regulasi.