Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kopi Santen Blora: Kekentalan Rasa Otentik yang Menggoda Selera

2025-12-29 | 03:53 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T20:53:26Z
Ruang Iklan

Kopi Santen Blora: Kekentalan Rasa Otentik yang Menggoda Selera

Kopi santen, sebuah sajian unik yang memadukan kopi hitam dengan santan kelapa, telah menjadi daya tarik kuliner utama di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menarik wisatawan domestik dan pemerhati budaya sejak awal 2000-an. Minuman khas ini tidak hanya merepresentasikan kekayaan gastronomi lokal tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi mikro di wilayah tersebut, di tengah lanskap kuliner kopi Indonesia yang didominasi oleh varian modern.

Popularitas kopi santen berakar kuat dalam tradisi masyarakat Blora, khususnya di kalangan petani dan buruh yang secara historis mengonsumsi minuman berkalori tinggi ini sebagai sumber energi. Sejarahnya dapat ditelusuri kebiasaan turun-temurun di desa-desa sekitar Blora, di mana kelapa melimpah dan kopi robusta menjadi komoditas pertanian. Adaptasi resep ini, yang diyakini telah ada sejak puluhan tahun lalu, kemudian menyebar ke warung-warung kopi di pusat kota Blora. Pada 2023, diperkirakan lebih dari 150 warung kopi dan penjual kaki lima di Blora menyajikan kopi santen sebagai menu andalan, dengan rata-rata penjualan mencapai 100 hingga 200 cangkir per hari di warung-warung populer. Perputaran ekonomi dari penjualan kopi santen di Blora diperkirakan mencapai miliaran rupiah setiap tahun, memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal.

Pemerintah Kabupaten Blora, melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar), telah berupaya mempromosikan kopi santen sebagai ikon wisata kuliner daerah. Upaya ini terlihat dari partisipasi aktif dalam festival kuliner regional dan nasional, serta edukasi kepada pelaku usaha untuk mempertahankan kualitas dan keaslian rasa. Kepala Dinporabudpar Blora, Hariyanto, pernah menyatakan bahwa kopi santen bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas budaya Blora yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Inisiatif ini selaras dengan tren pariwisata berbasis pengalaman yang mencari otentisitas lokal.

Namun, pengembangan kopi santen sebagai destinasi wisata menghadapi beberapa tantangan. Standardisasi rasa dan kualitas masih menjadi isu, mengingat sebagian besar penjual adalah UMKM yang menggunakan resep turun-temurun. Selain itu, upaya pemasaran digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas masih terbatas. Diperlukan investasi lebih lanjut dalam pelatihan barista lokal, pengemasan produk yang menarik, dan promosi yang terarah untuk meningkatkan daya saing. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa kontribusi subsektor kuliner terhadap PDB ekonomi kreatif Indonesia terus meningkat, mencapai sekitar 41% pada 2023, menunjukkan potensi besar bagi kopi santen untuk berkontribusi lebih besar jika dikelola secara strategis.

Implikasi jangka panjang dari keberadaan kopi santen ini mencakup penguatan identitas budaya Blora di mata wisatawan, peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal, dan diversifikasi penawaran pariwisata Jawa Tengah. Untuk memastikan keberlanjutan, kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha kopi menjadi krusial. Pengembangan varian produk olahan kopi santen, seperti bubuk instan atau makanan ringan, dapat memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan nilai ekonomi. Apabila inovasi dan promosi dapat terus digalakkan, kopi santen Blora berpotensi tidak hanya menjadi magnet pariwisata kuliner regional tetapi juga ikon budaya yang diakui secara nasional, bahkan internasional, seiring dengan meningkatnya minat global terhadap kopi spesial dan pengalaman kuliner otentik.