Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kontroversi Pembongkasan Jembatan Kereta Api Warisan Dunia UNESCO Ombilin Memanas

2025-12-26 | 21:11 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T14:11:47Z
Ruang Iklan

Kontroversi Pembongkasan Jembatan Kereta Api Warisan Dunia UNESCO Ombilin Memanas

Silakan temukan berita mendalam Anda di bawah ini:

Rencana pembongkaran dua jembatan kereta api ikonik di Lembah Anai, Sumatera Barat, yang merupakan bagian integral dari Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto) yang diakui UNESCO pada 2019, memicu kontroversi sengit di kalangan komunitas pelestarian budaya, pemerintah daerah, dan Kementerian Kebudayaan. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Padang mengusulkan pembongkaran ini menyusul kerusakan parah akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda area tersebut pada 27 November 2025 dan 11 Mei 2024, menimbulkan pertanyaan mendalam tentang prioritas antara keselamatan infrastruktur dan pelestarian warisan dunia.

Situs Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto ditetapkan oleh UNESCO pada 6 Juli 2019, mengakui kompleks industri ini sebagai contoh luar biasa pertukaran teknologi pertambangan antara Eropa dan koloninya, serta sistem terintegrasi yang efisien untuk ekstraksi, pemrosesan, dan transportasi batubara berkualitas tinggi dari daerah terpencil di Sumatra Barat. Jalur kereta api sepanjang 155 kilometer, termasuk jembatan-jembatan lengkung parabolik dan terowongan, menjadi penghubung vital dari tambang di Sawahlunto menuju pelabuhan Emmahaven (kini Teluk Bayur) di pesisir Samudra Hindia, memungkinkan ekspor batubara ke seluruh Hindia Belanda dan Eropa sejak akhir abad ke-19.

Rencana pembongkaran, yang tertuang dalam surat Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Padang Nomor KA.008/4/10/2025 tertanggal 11 Desember 2025, segera direspons oleh berbagai komunitas seperti Sumatrain, Sumbar Tempo Dulu, dan Solok City Heritage. Mereka menolak keras usulan tersebut, menegaskan bahwa sebagai Warisan Budaya Dunia, situs ini harus dilindungi, dirawat, dan dikelola secara berkelanjutan oleh negara. Komunitas-komunitas tersebut mendesak penundaan pembongkaran hingga studi kelayakan komprehensif terhadap struktur cagar budaya tersebut selesai dilakukan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, setelah meninjau langsung lokasi pada 24 Desember 2025, menyatakan bahwa meskipun kondisi jembatan cukup parah akibat banjir bandang, pihaknya tidak setuju dengan pembongkaran dan berharap situs ini dapat diperbaiki dengan penguatan yang teruji. Ia telah berdiskusi dengan perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum dan menyampaikan perlunya mempertimbangkan langkah-langkah penguatan struktur, apakah dengan meninggikan jalan, jembatan, atau jalur kereta api, mengingat debit air terjun yang kini semakin besar dan sering menutup jalan saat hujan.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi juga menekankan pentingnya kajian mendalam dan analisis komprehensif sebelum mengambil keputusan. Ia menyatakan telah berkomunikasi dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan sepakat untuk mengedepankan opsi perbaikan atau penguatan bangunan peninggalan Belanda tersebut. Mahyeldi mempertanyakan urgensi pembongkaran jika struktur warisan dunia masih dapat diperkuat. Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, melalui surat bernomor 1070/LLA/KB09.06/2025 tanggal 12 Desember 2025, merekomendasikan pembongkaran dua jembatan (BH 171 Km 69+297 dan BH 163 Km 67+524) dengan ketentuan melibatkan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Namun, kementerian ini juga meminta penundaan pembongkaran sambil menunggu studi kelayakan dan teknis selesai, dengan komitmen untuk melakukan studi hingga akhir Desember 2025 guna mencari metode terbaik, termasuk konsolidasi struktur.

Nurmatias, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III, menyebut bahwa pihaknya telah diminta melakukan kajian singkat dan melaporkannya sebelum akhir Desember 2025. Dilema ini menyoroti tantangan besar dalam pengelolaan situs warisan dunia, di mana keseimbangan antara pelestarian nilai budaya dan keselamatan publik harus dicapai, khususnya saat berhadapan dengan bencana alam dan keterbatasan kebijakan jangka panjang. Kehilangan struktur kunci berisiko mereduksi status warisan dunia menjadi pengakuan administratif tanpa substansi, mengingat UNESCO menilai tidak hanya keutuhan fisik tetapi juga efektivitas sistem pengelolaan dan keberlanjutan nilai universal situs.

Pada 2023, Sawahlunto mencatat kunjungan 34.137 wisatawan, didominasi oleh wisatawan domestik. Sektor pariwisata telah menjadi salah satu pilar ekonomi Sawahlunto, menyumbang 29 persen dari pendapatan kota pada tahun 2014. Ancaman terhadap integritas Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin tidak hanya berimplikasi pada kerugian historis dan budaya yang tak tergantikan, tetapi juga dapat berdampak signifikan pada potensi pariwisata dan ekonomi lokal yang telah dibangun di atas status pengakuan internasional ini. Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk memastikan upaya pemulihan pascabencana berjalan seiring dengan prinsip pelestarian budaya, sehingga Situs Ombilin dapat terus lestari dan aman bagi generasi mendatang.