Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kain Sasirangan Tanah Laut: Pesona Lokal yang Memikat Belgia

2025-12-22 | 17:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T10:08:54Z
Ruang Iklan

Kain Sasirangan Tanah Laut: Pesona Lokal yang Memikat Belgia

Kain Sasirangan khas Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mencatat sejarah baru di panggung mode internasional pada 13-14 Desember 2025, ketika berhasil memikat desainer Belgia dan menembus pasar Eropa melalui ajang Indonesia Creative Week (ICW) Belgia 2025 yang diselenggarakan di Antwerpen Central Station. Keberhasilan ini tidak hanya menempatkan Tanah Laut sebagai satu-satunya kabupaten di Indonesia yang terpilih secara khusus untuk mewakili negara dalam perhelatan prestisius tersebut, tetapi juga membuktikan daya saing global produk budaya lokal Indonesia.

Pengakuan internasional ini berawal dari komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Tanah Laut, yang di bawah kepemimpinan Bupati H. Rahmat Trianto dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tanah Laut Hj. Dian Rahmat Trianto, secara konsisten mempromosikan Sasirangan dari tingkat lokal hingga nasional. Sebelumnya, Sasirangan Tanah Laut telah sukses mencuri perhatian dalam Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) 2025 pada 4 Oktober lalu dengan tema "Mel Ahyar Archipelago Tanah Laut," di mana kain ini diperagakan oleh sejumlah figur publik dan model ternama. Perjalanan dari Jakarta ke jantung Eropa menandai puncak upaya promosi yang masif.

Di Belgia, Sasirangan Tanah Laut tidak hanya dipamerkan, melainkan mendapatkan kehormatan untuk menjadi material utama kreasi busana sejumlah desainer ternama Belgia. Kolaborasi lintas budaya ini menunjukkan bahwa warisan tradisional mampu berdialog dengan selera global tanpa kehilangan jati dirinya, sekaligus menegaskan potensi Sasirangan untuk bersaing dan beradaptasi di kancah mode dunia. Duta Besar Indonesia untuk Belgia, Dr. Andri Hadi, menyampaikan respons positif dan antusias atas pencapaian Tanah Laut. Bahkan, Kedutaan Besar Kerajaan Belgia untuk Indonesia secara khusus mengundang Hj. Dian Rahmat Trianto dan Duta Besar Belgia untuk Indonesia, H.E. Frank Felix, turut menyampaikan apresiasi serta memberikan cendera mata kehormatan, yang memperkuat diplomasi budaya antara kedua negara.

Dampak ekonomi dari penetrasi pasar Eropa ini sangat signifikan. Satu lembar kain Sasirangan Tanah Laut yang di Tanah Laut hanya berkisar Rp 150.000, berhasil terjual seharga 80 Euro atau sekitar Rp 1.560.000 di Belgia, menunjukkan peningkatan nilai jual lebih dari sepuluh kali lipat. Penjualan produk Sasirangan Tanah Laut dilaporkan ludes terjual selama ICW Belgia, mengindikasikan daya tarik kuat di mata konsumen Eropa. Angka ini menjadi sinyal positif bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk terus berinovasi dan berani berekspansi, sebab kualitas dan keunikan kerajinan Indonesia terbukti sangat dihargai di kancah internasional.

Secara historis, upaya pengembangan Sasirangan sebagai produk unggulan daerah telah dimulai dengan peresmian Gedung Pusat Promosi Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Sasirangan di Kecamatan Tambang Ulang pada 13 Februari 2020 oleh Bupati Tanah Laut saat itu, H. Sukamta, yang bertujuan meningkatkan produksi dan kualitas SDM perajin. Keberhasilan di Belgia saat ini adalah buah dari komitmen berkelanjutan tersebut. Kehadiran Sasirangan Tanah Laut di panggung Eropa diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperluas pengakuan global, membuka peluang pasar ekspor yang lebih luas, dan meningkatkan nilai tambah bagi para perajin lokal. Inovasi dalam pemanfaatan Sasirangan juga terungkap, di mana kain ini tidak terbatas pada pakaian semata, melainkan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif seperti tas, topi, hingga syal. Ini menunjukkan fleksibilitas material Sasirangan dalam beradaptasi dengan tren fashion modern dan kebutuhan pasar yang beragam. Sinergi antara pemerintah daerah, perajin, dan pihak swasta seperti PT BGMPA, PT Dua Mas, dan PT LCM, menjadi kunci dalam memperkuat promosi dan daya saing budaya Nusantara di tingkat internasional. Ke depan, diharapkan capaian ini akan mendorong keberlanjutan pelestarian budaya daerah sekaligus menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Tanah Laut.