Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jepang Berpacu dengan Waktu: Desak China Pinjamkan Panda Baru Jelang Kepergian Dua Terakhir

2025-12-31 | 03:39 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T20:39:40Z
Ruang Iklan

Jepang Berpacu dengan Waktu: Desak China Pinjamkan Panda Baru Jelang Kepergian Dua Terakhir

Pemerintah Jepang, di tengah upaya memperkuat daya tarik pariwisatanya pascapandemi dan memelihara ikatan budaya dengan Tiongkok, sedang menghadapi dilema diplomatik seiring dengan semakin dekatnya jadwal kepulangan dua panda raksasa terakhir dari kebun binatang Jepang ke negara asalnya. Tokyo saat ini tengah melakukan lobi intensif kepada Beijing untuk meminjam panda baru, sebuah langkah yang menyoroti pentingnya "diplomasi panda" Tiongkok dalam hubungan bilateral.

Kepulangan Shuan Shuan dan Xiao Xiao dari Kebun Binatang Ueno di Tokyo pada tahun 2025 akan menandai berakhirnya era kehadiran panda di salah satu institusi paling ikonik Jepang. Sebelumnya, pada tahun 2024, tiga panda lain, Yuhin, Liang Liang, dan Eimei, juga telah kembali ke Tiongkok dari Adventure World di Shirahama, Prefektur Wakayama. Absennya panda di Jepang tidak hanya menimbulkan kekhawatiran di kalangan penggemar satwa, tetapi juga berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan pariwisata dan keunikan pengalaman pengunjung kebun binatang yang telah lama menjadi daya tarik utama.

Secara historis, panda raksasa telah lama menjadi simbol persahabatan dan alat diplomatik yang kuat bagi Tiongkok. Sejak tahun 1972, ketika Tiongkok pertama kali meminjamkan panda ke Jepang menyusul normalisasi hubungan kedua negara, kehadiran satwa-satwa ini selalu diiringi dengan antusiasme publik yang luar biasa dan peningkatan signifikan jumlah pengunjung kebun binatang. Program pinjaman panda ini, yang dikenal sebagai "diplomasi panda", seringkali dipandang sebagai barometer tidak resmi bagi kondisi hubungan politik antara Tiongkok dan negara penerima. Kontrak pinjaman panda biasanya berlangsung selama 10 tahun dengan biaya tahunan yang substansial, diperkirakan mencapai sekitar 1 juta dolar AS per pasang panda, yang dialokasikan untuk upaya konservasi panda di Tiongkok.

Dampak ekonomi dari kehadiran panda tidak dapat diremehkan. Kebun Binatang Ueno, misalnya, melaporkan peningkatan kunjungan yang luar biasa setiap kali panda baru tiba atau anak panda lahir. Kelahiran bayi panda kembar, Xiao Xiao dan Lei Lei, pada tahun 2021 memicu kegembiraan nasional dan meningkatkan jumlah pengunjung secara drastis, memberikan dorongan ekonomi yang signifikan bagi kebun binatang dan bisnis lokal di sekitarnya. Kepergian mereka diperkirakan akan menciptakan kekosongan yang sulit diisi dalam hal daya tarik pengunjung.

Pemerintah Jepang dan asosiasi kebun binatang telah berulang kali menyampaikan minat mereka untuk terus meminjam panda baru dari Tiongkok. Negosiasi yang sedang berlangsung ini mencerminkan keinginan kuat Jepang untuk mempertahankan ikatan budaya dan ilmiah yang terjalin melalui kerja sama konservasi panda. Namun, keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Tiongkok, yang seringkali mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi politik bilateral, kesiapan fasilitas kebun binatang, dan komitmen terhadap program konservasi.

Dalam konteks hubungan Jepang-Tiongkok yang kadang-kadang tegang, terutama terkait isu-isu regional dan historis, perpanjangan atau penolakan pinjaman panda baru dapat diinterpretasikan sebagai sinyal diplomatik. Bagi Jepang, mendapatkan kembali panda bukan hanya tentang daya tarik wisata, melainkan juga tentang memelihara salah satu jembatan persahabatan yang paling terlihat dan populer dengan Tiongkok. Kegagalan untuk mengamankan panda baru berpotensi menghilangkan magnet pariwisata yang telah teruji dan secara simbolis mengikis salah satu saluran "soft power" Tiongkok di Jepang.

Pakar hubungan internasional dan konservasi satwa memantau ketat situasi ini. Beberapa analis berpendapat bahwa Tiongkok mungkin menggunakan panda sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi yang lebih luas, sementara yang lain percaya bahwa Tiongkok memiliki pertimbangan konservasi yang ketat dan hanya akan meminjamkan panda ke mitra yang berkomitmen penuh pada standar perawatan dan konservasi yang tinggi. Terlepas dari motif di baliknya, harapan Jepang untuk kembali menyambut panda raksasa tetap menjadi prioritas diplomatik dan budaya yang signifikan.