
Anak serigala Eropa berusia tiga tahun, bernama Alpha, berhasil ditangkap kembali di area semak-semak dalam Kebun Binatang Nusantara, Jawa Barat, pada Selasa pagi setelah diketahui melarikan diri dari kandangnya sesaat setelah jam operasional kebun binatang dimulai, memicu prosedur darurat dan evakuasi pengunjung demi keselamatan publik. Insiden yang berlangsung sekitar empat jam ini, serupa dengan kejadian di Taman Zoologi Tama di Tokyo pada 28 Desember 2025 yang juga melibatkan serigala, kembali menyoroti kerentanan sistem keamanan fasilitas penangkaran hewan dan perdebatan seputar kesejahteraan satwa liar di lingkungan kebun binatang.
Pihak manajemen Kebun Binatang Nusantara segera mengaktifkan protokol respons darurat standar yang mencakup penguncian area, pembatasan pergerakan pengunjung, dan pengerahan tim respons terlatih. Langkah ini dilakukan setelah seorang penjaga kebun binatang melihat Alpha berkeliaran di jalur publik pada pukul 09:45 WIB. Pengunjung yang telah masuk ke area kebun binatang diarahkan untuk berlindung di dalam gedung-gedung aman atau dievakuasi keluar melalui gerbang yang telah ditentukan. Kolaborasi antara staf kebun binatang, tim medis hewan dengan peralatan penenang, dan pihak kepolisian setempat menjadi kunci dalam operasi penangkapan ini, di mana Alpha berhasil ditenangkan dan dikembalikan ke kandangnya pada pukul 13:50 WIB.
Investigasi internal tengah dilakukan untuk menentukan penyebab pasti insiden pelarian Alpha, namun insiden semacam ini seringkali disebabkan oleh kombinasi faktor. Menurut data dari Association of Zoos & Aquariums (AZA), sebagian besar insiden pelarian hewan di kebun binatang terakreditasi, yang rata-rata terjadi sekitar lima kali setahun, seringkali diakibatkan oleh kesalahan manusia, seperti pintu kandang yang tidak tertutup rapat, atau kegagalan desain fasilitas yang dieksploitasi oleh kecerdasan dan insting alami hewan. Sebuah laporan oleh World Animal Protection Canada juga mencatat lebih dari 200 insiden pelarian atau serangan hewan eksotis di Kanada selama 40 tahun terakhir, dengan rata-rata 12 insiden per tahun dalam dekade terakhir. Beberapa kasus lain melibatkan faktor alam, seperti pohon tumbang yang menyediakan jalur pelarian, atau bahkan tindakan perusakan yang disengaja, seperti insiden di Greater Vancouver Zoo pada tahun 2022 di mana pagar kandang serigala sengaja dipotong.
Kesejahteraan hewan di kebun binatang, termasuk kebutuhan akan ruang dan stimulasi yang cukup, menjadi pertimbangan penting dalam desain kandang modern. Meskipun kebun binatang berupaya menciptakan habitat yang menyerupai lingkungan alami, ada risiko inheren bahwa hewan dengan insting liar akan mencari peluang untuk melarikan diri, terutama jika mereka merasa stres atau kurang stimulasi. "Binatang di kebun binatang sangat jarang mencoba kabur jika lingkungan mereka ideal, namun tetap saja, mereka memiliki naluri dan kecerdasan untuk menemukan setiap celah," ujar seorang ahli perilaku hewan yang tidak ingin disebutkan namanya, menggarisbawahi tantangan dalam menyeimbangkan kebutuhan alami satwa dengan keamanan operasional yang absolut.
Insiden pelarian ini memunculkan pertanyaan penting tentang standar keamanan dan pengawasan yang berlaku di Kebun Binatang Nusantara, serta implikasinya terhadap kepercayaan publik. Standar keselamatan internasional, seperti yang ditetapkan oleh World Association of Zoos and Aquariums (WAZA) dan regional seperti AZA, menekankan pentingnya protokol darurat yang komprehensif, pelatihan staf yang ketat, dan sistem keamanan berlapis, termasuk pagar yang diperkuat dan sistem pemantauan elektronik. Pedoman ini juga mencakup prosedur untuk melatih staf dalam penanganan darurat, termasuk penggunaan senjata penenang atau, dalam situasi ekstrem di mana keselamatan manusia terancam, penggunaan kekuatan mematikan, meskipun opsi terakhir ini selalu menjadi pilihan terakhir yang tragis.
Ke depan, Kebun Binatang Nusantara kemungkinan akan menghadapi pengawasan ketat dari regulator dan organisasi kesejahteraan hewan. Transparansi dalam investigasi penyebab pelarian Alpha dan implementasi langkah-langkah perbaikan yang terukur, seperti peningkatan inspeksi kandang dan pelatihan ulang staf, akan menjadi krusial untuk memulihkan kepercayaan publik dan memastikan insiden serupa tidak terulang. Diskusi yang lebih luas mengenai etika penangkaran satwa liar dan peran kebun binatang dalam konservasi juga diperkirakan akan mengemuka kembali, seiring dengan tuntutan yang meningkat akan standar perawatan dan keamanan yang lebih tinggi di seluruh dunia.