
Pertumbuhan signifikan terjadi dalam industri perjalanan hewan peliharaan, dengan maskapai khusus hewan peliharaan kini menawarkan layanan premium yang bertujuan mengatasi kekhawatiran umum pemilik hewan, sekaligus menyoroti pergeseran pandangan terhadap hewan peliharaan sebagai anggota keluarga yang setara. Pasar layanan perjalanan hewan peliharaan global diperkirakan mencapai nilai 2,4 miliar dolar AS pada tahun 2024, diproyeksikan melonjak menjadi 3,9 miliar dolar AS pada tahun 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 8,9% dari tahun 2025 hingga 2030. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan adopsi dan humanisasi hewan peliharaan, meningkatnya jumlah wisatawan yang bepergian bersama hewan pendamping mereka, serta ketersediaan layanan dan hotel ramah hewan peliharaan yang semakin banyak.
Secara historis, perjalanan udara bagi hewan peliharaan seringkali menjadi pengalaman yang penuh stres, umumnya mengharuskan hewan ditempatkan di dalam ruang kargo yang gelap dan bising. Kecelakaan tragis, seperti kematian seekor anjing bulldog Prancis di kompartemen bagasi atas pada penerbangan United Airlines pada tahun 2018, menyoroti risiko dan kurangnya standar kenyamanan yang memadai pada maskapai konvensional. CEO United Airlines, Oscar Munoz, mengakui insiden tersebut, menyatakan, "Ini seharusnya tidak pernah terjadi sama sekali. Kami menangani ini dengan sangat serius." Insiden semacam itu secara signifikan memicu permintaan akan solusi perjalanan udara yang lebih aman dan berpusat pada hewan peliharaan.
Menanggapi kebutuhan pasar ini, maskapai seperti Bark Air, yang dimiliki oleh perusahaan produk hewan peliharaan Bark, mulai beroperasi pada Mei 2024, secara eksplisit menargetkan anjing sebagai penumpang utama. Bark Air menawarkan kabin mewah yang tidak seperti kandang hewan, lengkap dengan fasilitas seperti camilan, mainan, proses check-in cepat, dan bahkan spa di dalam pesawat untuk anak anjing. Penerbangan ini melayani rute-rute internasional, termasuk dari New York ke London, dengan harga tiket satu arah mencapai 8.000 dolar AS (sekitar Rp129 juta) untuk satu anjing dan satu pendamping manusia. CEO Bark Air, Matt Meeker, menekankan misi maskapai ini untuk "membuat penerbangan bersama anjing terasa tidak merepotkan dan lebih seperti suguhan." Meeker bahkan secara pribadi mengalami terbang di dalam peti kargo untuk memahami penderitaan hewan, menyatakan, "Saya tidak tahu mengapa ada orang yang memilih melakukan ini pada anjing mereka. Ini adalah pertunjukan horor mutlak di sini. Pasti ada cara yang lebih baik."
Layanan lain seperti Pet Air Carrier, LLC dan Woof Airlines juga menyediakan transportasi hewan peliharaan internasional, menawarkan layanan door-to-door, reservasi penerbangan, izin pengiriman, dan persiapan dokumentasi yang rumit untuk memastikan penerimaan hewan di negara tujuan. Pet Air Carrier, LLC, yang merupakan anggota IPATA dan disetujui USDA, mengkhususkan diri dalam pengiriman ke lebih dari 85 negara, membantu dengan tes darah dan peraturan karantina.
Implikasi dari tren ini melampaui kenyamanan semata. Dengan segmen transportasi yang menguasai 74,4% pangsa pasar layanan perjalanan hewan peliharaan pada tahun 2024, peningkatan opsi penerbangan khusus menyoroti perubahan fundamental dalam hubungan manusia-hewan. Hewan peliharaan semakin dianggap sebagai anggota keluarga yang memerlukan kenyamanan dan keamanan yang sama selama perjalanan. Dominasi anjing sebagai jenis hewan peliharaan yang paling banyak bepergian, menyumbang 58,4% pangsa pasar pada tahun 2024, menunjukkan tren "humanisasi hewan peliharaan" yang kuat, mendorong permintaan akan layanan perjalanan yang disesuaikan.
Namun, industri ini menghadapi tantangan signifikan. Peraturan perjalanan hewan peliharaan internasional tetap kompleks dan bervariasi antar negara, seringkali memerlukan sertifikasi kesehatan, vaksinasi rabies, dan masa karantina. Misalnya, Australia memberlakukan karantina minimal 10 hari untuk anjing atau kucing yang masuk, dengan biaya minimal A$2.000. Indonesia sendiri memiliki batasan ketat terhadap hewan penular rabies seperti anjing dan kucing yang tidak diperbolehkan masuk ke wilayah bebas rabies seperti Jawa Tengah atau Bali. Maskapai konvensional, meskipun beberapa mengizinkan hewan peliharaan di kabin dengan batasan ukuran dan biaya, memiliki kebijakan yang tidak seragam.
Meskipun maskapai khusus hewan peliharaan menawarkan solusi mewah, isu keberlanjutan juga muncul. Patrick Hansen, CEO Luxaviation, sebuah perusahaan maskapai mewah, menyatakan bahwa memiliki tiga anjing peliharaan dapat memiliki jejak karbon yang setara dengan terbang menggunakan jet pribadi, berdasarkan estimasi bahwa seekor anjing Labrador memiliki jejak karbon tahunan sekitar 770 kg. Namun, para ahli perjalanan seperti Hans Mast dari Golden Rule Travel membantah klaim ini, menekankan bahwa emisi CO2 jet pribadi per penumpang secara signifikan lebih tinggi daripada penerbangan komersial, dan jejak karbon hewan peliharaan sebagian besar terkait dengan produksi makanan mereka.
Ke depannya, ekspansi pasar layanan perjalanan hewan peliharaan diproyeksikan akan terus berlanjut, didorong oleh pertumbuhan sektor pariwisata global dan peningkatan pendapatan sekali pakai yang memungkinkan pemilik hewan untuk berinvestasi lebih banyak pada kenyamanan hewan peliharaan mereka. Inovasi dalam layanan, termasuk integrasi teknologi, fokus pada kesehatan dan keselamatan, serta pengalaman yang disesuaikan, akan menjadi kunci. Pasar Amerika Utara diperkirakan akan mempertahankan dominasinya, menyumbang 40,2% pangsa pendapatan pada tahun 2035, didukung oleh infrastruktur ramah hewan peliharaan yang berkembang dan permintaan yang tinggi akan layanan perjalanan hewan profesional. Seiring pemilik hewan peliharaan di seluruh dunia semakin memperlakukan hewan pendamping mereka sebagai bagian integral dari kehidupan mereka, industri perjalanan hewan peliharaan yang khusus dan mewah diperkirakan akan menjadi pilar yang semakin penting dalam ekosistem perjalanan global.