
Maskapai berbiaya rendah raksasa Asia, AirAsia Group, secara permanen menarik seluruh penjualan tiket penerbangannya dari platform agen perjalanan online (OTA) Traveloka pada Maret 2019, sebuah langkah yang dipicu oleh tuduhan perlakuan istimewa dan niat buruk dari pihak Traveloka. Keputusan krusial ini, yang diumumkan oleh Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan, telah membentuk ulang lanskap distribusi perjalanan di Asia Tenggara dan mendorong kedua entitas untuk mengintensifkan strategi digital dan langsung ke konsumen mereka hingga akhir 2025.
Perselisihan antara AirAsia dan Traveloka mencapai puncaknya setelah penerbangan AirAsia Indonesia dua kali menghilang tanpa penjelasan dari platform Traveloka dalam rentang waktu dua minggu. Insiden pertama terjadi antara 14-17 Februari 2019, yang bertepatan dengan peningkatan sistem jaringan AirAsia, dan Traveloka mengaitkannya dengan masalah teknis. Namun, hilangnya penerbangan AirAsia untuk kedua kalinya pada 2 Maret 2019, tanpa klarifikasi yang memadai dari Traveloka, memicu reaksi keras dari AirAsia. Dendy Kurniawan secara terbuka menyatakan bahwa "penghapusan penerbangan kami jelas telah merusak kerja sama antara AirAsia dan Traveloka. Traveloka tidak bertindak dengan itikad baik. Mereka menolak memberikan penjelasan resmi meskipun kami berulang kali mencoba mencari klarifikasi mereka.".
Kurniawan lebih lanjut menuduh Traveloka menunjukkan "perlakuan istimewa dan tindakan pilih kasih" dengan merekomendasikan maskapai lain kepada pelanggan yang menanyakan ketersediaan penerbangan AirAsia melalui media sosial. Dalam solidaritas, AirAsia Group pun menarik penjualan seluruh penerbangannya dari Traveloka secara efektif dan segera. Menanggapi penarikan ini, Direktur Hubungan Masyarakat Traveloka Sufinitri Rahayu pada saat itu menyatakan penyesalan dan menyampaikan bahwa pihaknya sedang berupaya menghubungi AirAsia untuk menemukan solusi terbaik bagi kedua belah pihak.
Setelah penarikan tersebut, AirAsia dengan cepat mengarahkan konsumen untuk melakukan pemesanan langsung melalui situs web airasia.com atau aplikasi seluler AirAsia, menjanjikan tarif terendah dan promosi hotel diskon. Langkah ini sejalan dengan strategi yang lebih luas dari AirAsia Group, yang kini beroperasi di bawah Capital A, untuk mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga dan membangun ekosistem digitalnya sendiri. Transformasi ini mencapai puncaknya dengan peluncuran AirAsia Super App pada Oktober 2020, yang kemudian di-rebranding menjadi AirAsia MOVE pada Januari 2024.
AirAsia MOVE saat ini berfungsi sebagai platform OTA all-in-one yang menawarkan berbagai layanan terkait perjalanan, termasuk pemesanan penerbangan (tidak hanya AirAsia), hotel, ride-hailing, makan, asuransi, dan belanja bebas bea. Pendiri dan CEO AirAsia, Tony Fernandes, telah menjadi pendorong utama di balik strategi diversifikasi ini, dengan tujuan agar bisnis non-maskapai berkontribusi 50 persen dari total pendapatan Capital A pada tahun 2026. Pada kuartal ketiga 2024, AirAsia MOVE mencatat pendapatan sebesar US$28,7 juta, didorong oleh pertumbuhan pemesanan penerbangan maskapai non-AirAsia (50% tahun-ke-tahun) dan pemesanan hotel (35% tahun-ke-tahun). Fernandes baru-baru ini juga menegaskan kembali rencana ekspansi armada maskapai, dalam pembicaraan dengan Airbus, Embraer, dan Comac untuk mengakuisisi 100 pesawat atau lebih.
Sementara itu, Traveloka tetap menjadi pemain dominan dalam lanskap agen perjalanan online di Asia Tenggara. Hingga 2024, Traveloka mencatat pendapatan US$4,5 miliar dan memiliki valuasi melebihi US$3 miliar. Platform ini telah mengokohkan posisinya sebagai agen perjalanan dan platform pemesanan online terkemuka di Asia Tenggara, dengan fokus pada pasar-pasar utama seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, dan Filipina. Pada Juli 2025, Traveloka melaporkan lebih dari 140 juta unduhan aplikasi dan lebih dari 40 juta pengguna aktif bulanan, sebagian besar dari generasi digital berusia 20-an dan 30-an yang mengandalkan perangkat seluler. Perusahaan ini terus memperluas jangkauannya, termasuk masuk ke pasar Jepang pada Mei 2025. Caesar Indra, Presiden Traveloka, mengungkapkan optimisme terhadap pertumbuhan industri perjalanan di Asia Tenggara pada tahun 2025, didorong oleh permintaan domestik dan internasional yang kuat.
Dampak dari penarikan AirAsia dari Traveloka bersifat multi-dimensi. Bagi AirAsia, langkah ini mempercepat strategi digitalisasi dan pengembangan ekosistem super-aplikasi yang lebih mandiri, memungkinkan kontrol lebih besar atas pengalaman pelanggan dan diversifikasi pendapatan di luar penjualan tiket. Bagi Traveloka, meskipun kehilangan salah satu maskapai penerbangan terbesar di kawasan ini, platform tersebut tetap mempertahankan dominasinya di pasar OTA, didukung oleh penawaran produk yang komprehensif, basis pengguna yang luas, dan ekspansi geografis.
Persaingan di pasar OTA Asia Tenggara tetap intens, dengan pemain besar seperti Agoda, Booking.com, Trip.com, KLOOK, dan Pelago terus bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar. Konflik antara AirAsia dan Traveloka menyoroti ketegangan yang melekat antara maskapai penerbangan yang berupaya membangun hubungan langsung dengan pelanggan dan platform OTA yang bertujuan untuk menjadi toko serba ada untuk semua kebutuhan perjalanan. Pada akhir 2025, terlihat jelas bahwa insiden tahun 2019 telah menjadi katalisator bagi kedua perusahaan untuk memperkuat posisi strategis mereka, AirAsia sebagai platform gaya hidup digital yang terintegrasi dan Traveloka sebagai pemimpin OTA regional, dengan konsumen sebagai penerima manfaat dari peningkatan inovasi dan pilihan saluran pemesanan.