
Gunung Ciremai, yang menjulang megah di Provinsi Jawa Barat, terus memikat para pendaki dan pencinta alam dengan pesona keindahan pagi harinya yang menakjubkan. Terletak di perbatasan Kabupaten Kuningan dan Majalengka, gunung berapi strato ini merupakan titik tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut.
Dikenal sebagai "Atap Jawa Barat," Gunung Ciremai menawarkan pemandangan 360 derajat yang spektakuler dari puncaknya, termasuk hamparan awan, perbukitan di Majalengka dan Kuningan, bahkan pesisir Laut Jawa dan Kota Cirebon saat cuaca cerah. Salah satu momen paling dinanti adalah menyaksikan matahari terbit yang memancarkan warna jingga keemasan di antara awan dan pegunungan sekitar, memberikan pengalaman spiritual dan memukau bagi para pendaki. Keindahan sunrise ini menjadi daya tarik utama yang membuat banyak pendaki rela memulai perjalanan sejak dini hari.
Gunung Ciremai masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang memiliki luas sekitar 15.000 hektar. TNGC merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk hutan tropis yang lebat dengan pepohonan besar, lumut, serta berbagai jenis flora seperti 119 koleksi tumbuhan yang mencakup 40 jenis anggrek, kantong semar, dan dadap jingga. Fauna yang bisa ditemui antara lain lutung jawa, macan tutul, dan elang jawa.
Untuk mencapai puncak Ciremai, tersedia beberapa jalur pendakian resmi, yaitu Linggarjati, Palutungan, Apuy, Linggasana, dan Trisakti Sadarehe. Jalur Linggarjati, yang dimulai dari Desa Linggarjati di Kabupaten Kuningan, dikenal sebagai jalur terberat dengan medan terjal dan trek panjang, cocok untuk pendaki berpengalaman. Sementara itu, jalur Apuy di Kabupaten Majalengka sering direkomendasikan bagi pendaki pemula karena medannya yang lebih bersahabat dan relatif landai. Jalur Palutungan, juga di Kuningan, menawarkan kombinasi trek yang tidak terlalu ekstrem dengan pemandangan indah. Pendakian menuju puncak umumnya memakan waktu sekitar 7-8 jam, meskipun total perjalanan pulang pergi bisa mencapai 12-14 jam tergantung kondisi fisik dan jalur yang dipilih.
Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) menerapkan prinsip pengelolaan terintegrasi yang menyeimbangkan kelola ekologi, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat sekitar, serta mengalokasikan dana untuk usaha ekonomi produktif berbasis konservasi. Pengelolaan objek wisata alam di kawasan TNGC ditegaskan tidak akan diserahkan kepada pihak ketiga, melainkan oleh masyarakat desa sekitar sebagai pelaku utama.
Para calon pendaki disarankan untuk mempersiapkan fisik dan mental dengan baik, serta membawa perlengkapan yang memadai. Pendaftaran pendakian dilakukan secara daring melalui situs resmi Taman Nasional Gunung Ciremai, dan pendakian minimal dilakukan dalam kelompok empat orang. Penting juga untuk selalu menjaga kelestarian alam dengan membawa turun kembali sampah dan mengikuti aturan yang berlaku. Waktu terbaik untuk mendaki Gunung Ciremai dan menikmati pemandangan indahnya adalah antara bulan Juli hingga September.
Di sekitar kaki Gunung Ciremai, wisatawan juga dapat menemukan berbagai destinasi menarik lainnya, seperti Desa Bantaragung dengan hamparan sawah dan Curug Cipeuteuy, Curug Putri di Bumi Perkemahan Palutungan, serta situs-situs sejarah seperti Situ Sangiang dan Sumur Tujuh. Keindahan alam dan kekayaan budaya di kaki gunung ini menjadikannya tujuan liburan favorit di Jawa Barat.