Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Detik-detik Karamnya Pinisi di Labuan Bajo: Kisah Fernando Martin Terungkap

2025-12-29 | 08:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-29T01:08:18Z
Ruang Iklan

Detik-detik Karamnya Pinisi di Labuan Bajo: Kisah Fernando Martin Terungkap

Empat anggota keluarga Fernando Martin Carreras, seorang pelatih sepak bola wanita dari Valencia CF B, hingga kini masih dinyatakan hilang setelah kapal pinisi wisata KM Putri Sakinah yang mereka tumpangi tenggelam di perairan Selat Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat malam, 26 Desember 2025, sekitar pukul 20.30 Wita. Insiden tragis ini, yang menewaskan Fernando Martin bersama ketiga anaknya—Maria Lia Martinez Ortuno, Martin Garcia Mateo, dan Martinez Ortuno Enriquejavier—memicu respons cepat dari otoritas setempat serta menimbulkan pertanyaan serius mengenai standar keselamatan maritim di salah satu destinasi pariwisata super prioritas Indonesia.

Kronologi kejadian menunjukkan KM Putri Sakinah berlayar dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar dengan membawa total 11 orang, terdiri dari enam wisatawan asal Spanyol, empat kru kapal, dan satu pemandu wisata. Setelah sekitar 30 menit perjalanan dari Pulau Kalong, kapal tiba-tiba mengalami mati mesin di tengah laut. Dalam kondisi tanpa daya dorong, kapal dihantam dua kali oleh gelombang tinggi yang mencapai sekitar dua meter, menyebabkan kapal oleng, terbalik, dan tenggelam dengan cepat. Istri Fernando Martin, Mar Martinez Ortuno, dan putri bungsu mereka yang berusia tujuh tahun, Ortuna Andrea, berhasil menyelamatkan diri bersama beberapa kru dan pemandu wisata dengan memanjat dinding kapal dan berenang menuju sekoci. Mereka kemudian diselamatkan oleh kapal lain dan tim SAR. Namun, Fernando Martin dan ketiga anaknya, yang saat itu berada di dalam kamar di bagian lambung kapal, diduga kuat terjebak dan tidak sempat keluar.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden ini dan menegaskan bahwa Kementerian Pariwisata telah berkoordinasi intensif dengan Kementerian Perhubungan, Basarnas, Kementerian Luar Negeri, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, otoritas kesyahbandaran, pemerintah daerah, serta Kedutaan Besar Kerajaan Spanyol di Jakarta untuk mendukung proses pencarian dan penanganan pascakejadian. Widiyanti menambahkan bahwa Staf Ahli Menteri dan pejabat Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores telah dikirim langsung ke lapangan untuk memantau operasi SAR. Kepala Kantor Basarnas Maumere, Fathur Rahman, menjelaskan bahwa tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap empat korban yang hilang, meskipun menghadapi tantangan kondisi cuaca laut yang menantang. Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), operasi pencarian akan dilanjutkan selama tujuh hari dengan evaluasi berkala.

Sebagai langkah antisipasi dan demi keselamatan wisatawan, otoritas kesyahbandaran di bawah Kementerian Perhubungan telah memberlakukan larangan sementara pelayaran kapal wisata di perairan Labuan Bajo dan Kepulauan Komodo. Larangan ini berlaku mulai 26 Desember hingga 1 Januari 2026, atau sampai pemberitahuan lebih lanjut. Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, menjelaskan bahwa gelombang tinggi yang terjadi merupakan jenis swell yang muncul secara mendadak dengan ketinggian antara dua hingga tiga meter.

Insiden tenggelamnya KM Putri Sakinah ini menyoroti kembali urgensi pengawasan ketat terhadap standar keselamatan maritim di Labuan Bajo, yang terus mengalami lonjakan jumlah wisatawan. Data Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Budaya Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan peningkatan signifikan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo, dari 60.439 pada tahun 2021 menjadi 170.354 pada tahun 2022. Peningkatan aktivitas pariwisata ini, menurut WWF-Indonesia, belum diimbangi dengan peningkatan tata kelola destinasi yang memadai. Labuan Bajo, sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan destinasi super prioritas, sangat bergantung pada wisata bahari. Tragedi seperti ini berpotensi merusak citra Labuan Bajo sebagai tujuan wisata aman dan berkelanjutan, terutama di mata wisatawan internasional. Adanya larangan sementara pelayaran kapal wisata mengindikasikan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan kapal, pelatihan kru, serta sistem peringatan dini cuaca ekstrem. Ke depan, kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku industri pariwisata, serta organisasi non-pemerintah menjadi krusial untuk memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata di Labuan Bajo tidak mengorbankan keselamatan dan kelestarian lingkungan.