
Sejumlah kota besar di seluruh dunia tengah mendefinisikan ulang fungsi toilet umum, mengubah fasilitas sanitasi dasar menjadi ikon arsitektur yang menarik wisatawan sekaligus meningkatkan standar kebersihan publik. Fenomena ini, yang dipimpin oleh inisiatif ambisius seperti The Tokyo Toilet Project, menandai pergeseran paradigma dari sekadar utilitarianisme menuju pengakuan akan nilai estetika dan sosial dalam infrastruktur perkotaan.
Secara historis, toilet umum seringkali diasosiasikan dengan kondisi yang kotor, gelap, dan tidak aman, menciptakan stigma negatif yang menghambat penggunaannya. Namun, kini, para perencana kota dan arsitek berupaya keras untuk menghilangkan persepsi tersebut dengan berinvestasi pada desain inovatif. Pergeseran ini didorong oleh kesadaran yang berkembang bahwa fasilitas sanitasi yang bersih dan dapat diakses adalah pilar penting bagi kesehatan masyarakat, pengalaman wisata yang positif, serta citra kota yang modern dan inklusif. Profesor Stephen Pratt dari Rosen College of Hospitality Management, University of Central Florida, menekankan bahwa sanitasi dan toilet "sangat penting bagi wisatawan, memainkan peran penting dalam memastikan pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, dan menyenangkan."
Proyek-proyek terkemuka menunjukkan bagaimana desain dapat melampaui fungsionalitas. Di Shibuya, Tokyo, The Nippon Foundation berkolaborasi dengan 16 arsitek dan desainer ternama, termasuk pemenang Pritzker Prize, Shigeru Ban, untuk menciptakan 17 toilet umum yang unik. Tujuan utama proyek ini adalah untuk mengubah citra negatif toilet umum dan mempromosikan masyarakat yang menghargai keragaman pengguna. Salah satu desain paling mencolok adalah toilet transparan karya Shigeru Ban yang menjadi buram saat dikunci, memungkinkan pengguna mengecek kebersihan dan okupansi dari luar. Contoh lain adalah "Hi Toilet" yang dioperasikan dengan perintah suara, mencerminkan kepemimpinan Jepang dalam teknologi toilet. Dampak proyek ini signifikan; sebuah survei menunjukkan kepuasan terhadap toilet umum di Tokyo meningkat dari 44% menjadi hampir 90%, sementara keengganan menggunakan toilet umum menurun drastis dari sekitar 30% menjadi hanya 3%. Tingkat penggunaan oleh wanita di dua lokasi bahkan meningkat tujuh hingga lima kali lipat pasca-renovasi.
Inovasi serupa terlihat di berbagai belahan dunia. Di London, Inggris, Wembley WCs karya Gort Scott dilapisi aluminium keemasan berlubang dengan pola berlian yang memberikan cahaya dan ventilasi, sekaligus menciptakan efek visual glamor di malam hari. Arsitek Jay Gort menyatakan bahwa tujuannya adalah menciptakan "bangunan istimewa yang mengingatkan pada masa ketika bangunan toilet umum adalah jenis bangunan sipil yang bertujuan untuk menginspirasi kepercayaan diri dan kebanggaan pada suatu tempat." Sementara itu, di Wellington, Selandia Baru, Kumutoto toilets rancangan Studio Pacific Architecture menonjol dengan bentuk patung cangkang baja berwarna merah, dijuluki "lobster loos", menjadi daya tarik visual di tepi laut. Sepanjang Rute Pemandangan Norwegia, beberapa toilet umum didesain untuk berbaur dengan lanskap dramatis, bahkan ada yang dilengkapi cermin satu arah untuk menikmati pemandangan sekitar saat di dalam. Di Amerika Serikat, Minturn Mining Toilet di Colorado mencerminkan sejarah pertambangan area tersebut, menyerupai pintu masuk tambang dengan 320 potongan kayu yang direplikasi menggunakan teknologi cetak 3D.
Para arsitek dan desainer melihat proyek toilet umum ini sebagai kesempatan untuk menantang konvensi dan menunjukkan bahwa "bahkan proyek yang paling sederhana pun dapat diubah menjadi pengalaman yang benar-benar unik dan berkesan." Nao Tamura, desainer yang merancang toilet merah berbentuk origami di Shibuya, menggarisbawahi universalitas fasilitas ini: "Kamar mandi adalah tempat di mana kita memenuhi kebutuhan fisik yang universal bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang usia, kebangsaan, agama, warna kulit, atau identitas seksual kita." Peran desain tidak hanya terbatas pada estetika, tetapi juga pada integrasi teknologi untuk efisiensi dan keberlanjutan. Beberapa fasilitas mengadopsi sistem pengumpul air hujan untuk menyiram toilet dan menggunakan material daur ulang.
Implikasi jangka panjang dari tren ini melampaui peningkatan kenyamanan individu. Toilet umum yang dirancang dengan baik dan terawat menjadi indikator kualitas hidup perkotaan dan komitmen kota terhadap warga serta pengunjungnya. Katherine Houston, editor web DesignCurial, menyatakan bahwa daftar toilet umum terbaik bertujuan "untuk menonjolkan desain internasional, terutama arsitektur unik yang mungkin terabaikan karena stereotip umum struktur tersebut." Ini tidak hanya menarik wisatawan yang mencari pengalaman unik, tetapi juga secara fundamental meningkatkan persepsi kebersihan dan keamanan kota secara keseluruhan. Sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di Sustainability menunjukkan bahwa peningkatan sanitasi dan pengelolaan limbah di destinasi ekowisata berkorelasi dengan peningkatan jumlah kedatangan wisatawan dan manfaat ekonomi. Namun, tantangan masih besar di beberapa wilayah. Sebuah survei global mengindikasikan bahwa toilet di Indonesia, misalnya, mendapatkan skor 40 dari skala 100, menyoroti kebutuhan signifikan akan peningkatan sanitasi dan desain. Perencanaan dan investasi yang berkelanjutan dalam desain toilet umum yang inovatif dan estetis pada akhirnya akan membentuk kota yang lebih sehat, inklusif, dan menarik di masa depan.