Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Destinasi Rahasia Korea: Pesona Unik yang Belum Terjamah

2025-12-29 | 17:17 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-29T10:17:29Z
Ruang Iklan

Destinasi Rahasia Korea: Pesona Unik yang Belum Terjamah

Seiring Korea Selatan mencatat lonjakan signifikan dalam kedatangan wisatawan asing pasca-pandemi, melampaui 12,1 juta pengunjung hingga September 2024 dan menargetkan 20 juta wisatawan pada akhir tahun, fokus industri pariwisata nasional bergeser dari pusat-pusat metropolitan yang ramai seperti Seoul dan Busan menuju permata tersembunyi di provinsi-provinsi. Pergeseran strategis ini bertujuan untuk mengatasi kekhawatiran atas kelebihan wisatawan di lokasi populer, seperti Desa Hanok Bukchon yang kini menghadapi "area manajemen khusus" dan jam malam untuk pengunjung, serta untuk menyebarkan manfaat ekonomi pariwisata secara lebih merata ke seluruh wilayah.

Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata (MCST), bekerja sama dengan Organisasi Pariwisata Korea (KTO), secara aktif mempromosikan destinasi regional melalui inisiatif seperti "Visit Korea Year 2023-2024" dan "Korea Berbudaya 2035," sebuah visi jangka panjang yang menekankan pengembangan konten pariwisata di kawasan danau, pegunungan, laut, sejarah, dan Hallyu. Strategi ini juga mencakup kemudahan visa bagi wisatawan dari negara-negara seperti Vietnam, Filipina, dan Indonesia, serta pengembangan infrastruktur pembayaran dan transportasi untuk pengalaman yang lebih mulus.

Salah satu destinasi yang muncul adalah Pulau Jeungdo di Provinsi Jeolla Selatan, yang dikenal sebagai rumah bagi lahan garam terbesar di Korea, Taein Salt Farm. Pulau ini menawarkan pengalaman eko-wisata yang unik, memungkinkan pengunjung untuk mengamati atau bahkan berpartisipasi dalam panen garam tradisional antara Januari hingga April. Jembatan kayu panjang yang menghubungkan pulau-pulau kecil di sekitarnya menambah daya tarik bagi pecinta alam dan mereka yang mencari ketenangan jauh dari keramaian kota. Keunikan lanskap alam dan fokus pada konservasi lingkungan menempatkan Jeungdo sebagai contoh model pariwisata berkelanjutan yang dicari oleh wisatawan modern.

Lebih jauh ke selatan, Hadong di Provinsi Gyeongsang Selatan memikat dengan sejarah teh hijau tertuanya. Desa ini dikelilingi oleh perkebunan teh organik yang telah mempraktikkan tradisi minum teh sejak era Silla. Wisatawan dapat menyelami budaya teh lokal, mencicipi Hadong Wild Tea di kedai-kedai lokal, dan berpartisipasi dalam festival teh tahunan yang biasanya diselenggarakan pada bulan Mei. Hadong menawarkan pandangan otentik tentang kehidupan pedesaan Korea dan warisan budaya yang mendalam, menarik bagi mereka yang ingin memahami lebih dari sekadar citra Hallyu Korea modern.

Di wilayah Chungcheongbuk-do, Kompleks Warisan Budaya Cheongpung menyajikan perjalanan kembali ke masa lalu. Terletak di tepi Danau Cheongpungho yang indah, kompleks ini mengumpulkan berbagai artefak dan bangunan bersejarah yang dipindahkan dari daerah yang terendam akibat pembangunan bendungan. Pengunjung dapat menjelajahi desa budaya ini, melihat arsitektur tradisional, dan menikmati perjalanan feri di danau yang menawarkan pemandangan bukit-bukit sekitarnya. Destinasi ini menjadi bukti bagaimana Korea Selatan berupaya melestarikan warisan budayanya sambil menawarkan pengalaman rekreasi yang menawan.

Pengembangan destinasi-destinasi ini merefleksikan perubahan signifikan dalam pola perjalanan internasional, di mana wisatawan semakin mencari pengalaman yang lebih otentik dan imersif, jauh dari jalur turis yang biasa. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Yu In Chon pada forum November 2023, "Saat ini tren turis asing sudah bergeser ke wisata individual. Oleh karena itu, kita harus mengganti strategi kita menuju target turis individu.". Fokus pada destinasi regional ini tidak hanya membantu mendiversifikasi penawaran pariwisata Korea tetapi juga memberdayakan ekonomi lokal dan mendorong konservasi budaya serta lingkungan di luar pusat-pusat urban yang dominan. Tantangan ke depan termasuk pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan, pelatihan pemandu lokal, dan pemasaran yang efektif agar daya tarik unik dari wilayah-wilayah ini dapat menjangkau audiens global yang tepat, sekaligus memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak mengorbankan keaslian yang membuat mereka menarik.