
Desa Garoga di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, nyaris lenyap setelah dihantam banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025. Bencana ini menyebabkan desa tersebut tertimbun oleh tanah, lumpur, serta gelondongan kayu, menciptakan pemandangan yang digambarkan mirip pasca-tsunami Aceh tahun 2004 silam.
Peristiwa memilukan ini terjadi di tengah curah hujan ekstrem yang mencapai hampir 450 milimeter pada tanggal 24 dan 25 November 2025. Curah hujan yang sangat tinggi ini membuat lanskap di hulu Sungai Garoga, yang dikenal memiliki topografi curam dan merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) terbesar kedua setelah DAS Batang Toru, tidak mampu menahan beban. Akibatnya, terjadi keluruhan tanah masif yang membawa serta lumpur dan material kayu. Penyumbatan masif oleh material kayu gelondongan di Jembatan Garoga I dan Jembatan Anggoli (Garoga II) disebut menjadi pemicu kritis yang memperparah laju banjir bandang pada sekitar 25 November 2025 pukul 10 pagi, mengubah secara tiba-tiba alur sungai.
Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq, setelah meninjau lokasi pada Sabtu (6/12/2025), menyatakan bahwa hampir semua rumah di Desa Garoga tertimbun tanah dan kayu. Analisis awal pemerintah juga menemukan adanya pembukaan lahan sawit berskala besar sekitar 200 hektare di hulu Sungai Garoga yang turut berkontribusi memperparah aliran permukaan saat curah hujan tinggi. Sebagian dari kayu gelondongan yang terseret banjir juga diidentifikasi ada yang dipotong menggunakan mesin gergaji, mengindikasikan adanya material kayu yang masuk secara tidak alami ke badan sungai.
Tragedi ini tidak hanya meluluhlantakkan Desa Garoga, tetapi juga berdampak pada desa-desa tetangga seperti Aek Ngadol dan Huta Godang di Kecamatan Batang Toru. Hingga 29 November 2025, setidaknya 31 jenazah korban banjir bandang telah dievakuasi ke Puskesmas Rawat Inap Batang Toru, dengan 10 jenazah masuk pada hari tersebut. Selain itu, 166 pasien mengalami luka ringan hingga berat di puskesmas, dan sekitar 200 orang di posko pengungsian. Banyak warga dilaporkan kehilangan anggota keluarga dan harta benda mereka, hanya menyisakan pakaian basah di badan.
Upaya evakuasi dan penanganan bencana telah dilakukan oleh tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Polda Sumatera Utara. Akses jalan menuju Batang Toru yang sempat terputus akibat longsor, kini telah bisa dilalui secara bertahap, dengan prioritas untuk kendaraan pembawa logistik bantuan. Kepolisian juga terlibat aktif dalam membantu warga, mulai dari membersihkan masjid dan rumah yang terendam lumpur, mengevakuasi warga yang sakit, hingga mendampingi masyarakat melewati jalur berbahaya, bahkan memasang internet darurat untuk komunikasi.
Menanggapi insiden ini, pemerintah telah memutuskan menghentikan sementara operasional tiga perusahaan di hulu DAS Batang Toru, yaitu PT Agincourt Resources, PT Perkebunan Nusantara III, dan PT North Sumatera Hydro Energy, terhitung mulai 6 Desember 2025. Perusahaan-perusahaan ini diwajibkan menjalani audit lingkungan, dan pemanggilan resmi untuk pemeriksaan dijadwalkan pada 8 Desember 2025. PT Agincourt Resources sendiri membantah tudingan bahwa operasional tambang emas Martabe menjadi pemicu banjir, menjelaskan bahwa lokasi banjir di Desa Garoga berada pada DAS Garoga yang berbeda dengan area aktivitas tambang mereka di DAS Aek Pahu. Menteri Lingkungan Hidup juga menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan evaluasi total terhadap persetujuan lingkungan di lokasi yang terdampak bencana.