:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456659/original/013734200_1766914974-588323593_18543344926026721_884352680808322773_n.jpg)
Penyanyi Korea Selatan Soyou, yang dikenal sebagai salah satu figur publik dengan kesadaran kebugaran tinggi, baru-baru ini menyelesaikan liburan sebulan penuh di Bali dan menyatakan terkejut saat mengetahui berat badannya justru menurun signifikan menjadi 49,1 kilogram, angka terendah yang dicapainya selama berada di pulau tersebut. Kejadian ini menyoroti bagaimana pengalaman individu di Bali dapat menyimpang dari persepsi umum tentang kenaikan berat badan selama liburan, terutama bagi mereka yang mengadopsi gaya hidup aktif.
Soyou secara eksplisit menyatakan bahwa ia tidak sengaja berusaha menurunkan berat badan, bahkan justru berusaha meningkatkannya dengan mengonsumsi banyak karbohidrat untuk membentuk otot. "Ini adalah berat badan terendah saya sejak datang ke Bali," ujarnya dalam sebuah video yang mendokumentasikan perjalanannya. Meskipun ia menikmati hidangan seperti taco dan makanan lokal, Soyou secara konsisten menjaga rutinitas kebugarannya dengan yoga dan latihan di pusat kebugaran. Ia bahkan berkelakar bahwa ia datang ke Bali hanya untuk berolahraga, menggambarkan siklus tanpa henti antara makan dan beraktivitas fisik. Pola makannya didominasi oleh makanan kaya protein seperti Americano, nasi goreng, dan sayuran tumis, serta menggunakan yoga untuk mengurangi kembung.
Pengalaman Soyou memberikan kontras menarik terhadap fenomena umum yang sering dikaitkan dengan perjalanan, di mana banyak wisatawan justru mengalami kenaikan berat badan karena pola makan yang tidak terkontrol dan kurangnya aktivitas fisik. Para ahli nutrisi mencatat bahwa sebagian besar "kenaikan berat badan liburan" seringkali merupakan retensi air akibat perubahan pola makan, asupan natrium tinggi, dan konsumsi alkohol. Namun, durasi tinggal Soyou selama sebulan di Bali, jauh melampaui rata-rata masa inap turis asing di hotel berbintang yang tercatat sekitar 2,751 hari pada Juni 2024, memberinya kesempatan untuk membangun rutinitas yang lebih berkelanjutan.
Bali sendiri telah lama berkembang sebagai tujuan wisata yang menawarkan spektrum kuliner yang luas. Dari hidangan tradisional yang kaya rasa, seringkali digoreng, dan berkalori tinggi seperti babi guling atau lawar, hingga tren makanan sehat "farm-to-table" dan restoran vegan yang marak di daerah seperti Ubud. Peningkatan fokus pada pariwisata gastronomi dan kesehatan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia untuk tahun 2026 dan seterusnya menunjukkan pengakuan akan keragaman ini, mendorong pengalaman yang menggabungkan cita rasa lokal dengan kesejahteraan.
Kisah Soyou menggarisbawahi pentingnya gaya hidup aktif, bahkan saat berlibur, dan bagaimana lingkungan yang kondusif seperti Bali dapat mendukung tujuan kesehatan tertentu, terutama bagi mereka yang mampu mempertahankan disiplin diri. Di tengah pertumbuhan jumlah wisatawan internasional yang mencapai 6,33 juta pada tahun 2024, pengalaman Soyou menjadi studi kasus yang menarik tentang bagaimana pariwisata dapat berinteraksi dengan kesehatan pribadi, melampaui narasi sederhana tentang indulgensi semata. Hal ini juga menyoroti adaptasi dan pilihan yang tersedia bagi wisatawan jangka panjang di Bali, yang memungkinkan mereka membentuk pengalaman yang unik dan sesuai dengan tujuan pribadi, baik itu relaksasi, eksplorasi kuliner, maupun menjaga kebugaran fisik.