
Bali, Indonesia – Perjalanan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026 di Bali diselimuti narasi kontradiktif, di mana laporan mengenai kelesuan wisatawan bersanding dengan klaim resmi tentang lonjakan tingkat hunian hotel, memicu pertanyaan tentang dinamika pemulihan pariwisasa pulau dewata pasca-pandemi. Gubernur Bali I Wayan Koster baru-baru ini mengungkapkan penurunan signifikan kedatangan harian wisatawan internasional menjadi antara 11.000 hingga 16.000, jauh di bawah rata-rata musim puncak yang mencapai sekitar 20.000, mengaitkan kondisi ini dengan persepsi banjir lokal dan minimnya narasi tandingan yang terkoordinasi. Namun, di sisi lain, sektor perhotelan di Badung, pusat pariwisata Bali, melaporkan proyeksi optimis, dengan beberapa area utama mengklaim reservasi kamar mencapai 90 persen untuk periode Natal 2025.
Disfungsi antara persepsi publik dan statistik resmi ini menyoroti kompleksitas pemulihan pariwisata Bali. Meskipun Asosiasi Pengelola dan Penyewaan Vila Bali (BVRMA) mencatat penurunan okupansi vila menjadi 55-60 persen dari 65 persen tahun sebelumnya akibat kekhawatiran banjir yang meluas di media sosial, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC), pengelola kawasan The Nusa Dua di Badung, mencatat tingkat hunian hotel di areanya mencapai rata-rata 76,56 persen sepanjang tahun 2024, menjadi angka tertinggi dalam enam tahun terakhir dan melampaui capaian pra-pandemi 2019. Angka ini meningkat 18,48 persen dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 64,62 persen. Untuk Nataru 2023-2024 sebelumnya, tingkat hunian hotel di kawasan The Nusa Dua juga mencapai 73 persen, naik 3,28 persen dari periode yang sama tahun 2022. General Manager The Nusa Dua I Gusti Ngurah Ardita pada saat itu menyatakan optimisme terhadap pencapaian angka tersebut. InJourney, sebagai operator pariwisata negara, memproyeksikan kenaikan okupansi hotel di bawah manajemen mereka sebesar 3,3 persen, dengan tingkat hunian mencapai sekitar 74 persen untuk Nataru 2025-2026, dengan Bali dan Jawa menjadi klaster yang paling diantisipasi peningkatannya.
Data kedatangan secara keseluruhan menunjukkan tren pemulihan yang kuat. Bali menyambut 6,3 juta wisatawan internasional pada tahun 2024, melampaui target awal 5,5 juta. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Desember 2024 mencapai 63,71 persen, meningkat 4,10 poin persentase dibandingkan November 2024 dan 1,52 poin persentase dibandingkan Desember 2023. Sementara itu, per Januari hingga Juli 2025, lebih dari 4 juta wisatawan mancanegara telah mengunjungi Bali, meningkat dari 3,89 juta pada periode yang sama tahun 2024, dengan wisatawan domestik mencapai 5 juta kunjungan. Gubernur Bali I Wayan Koster pada Juni 2025 menegaskan bahwa sektor pariwisata Bali terus pulih dengan kuat, menampung 6,4 juta wisatawan internasional dan 9,5 juta pengunjung domestik pada tahun 2024, dan mencatat peningkatan 10 persen kedatangan internasional pada paruh pertama tahun 2025 dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Namun, tantangan yang lebih dalam dari sekadar fluktuasi musiman masih membayangi. Lonjakan kunjungan pasca-pandemi telah memunculkan kembali isu-isu kritis seperti manajemen sampah yang tidak memadai, masalah tata kota yang menyebabkan kemacetan parah, dan ketegangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan serta budaya lokal. Kekhawatiran akan "overtourism" bahkan telah mendorong beberapa operator tur Eropa dan Australia untuk mencari destinasi alternatif yang lebih tenang untuk tahun 2025-2026. Meskipun angka okupansi hotel di Badung dan proyeksi InJourney menunjukkan vitalitas sektor akomodasi, laporan mengenai penurunan kedatangan harian yang disampaikan oleh Gubernur Koster mengindikasikan bahwa distribusi wisatawan mungkin tidak merata atau ada faktor-faktor eksternal yang cepat mempengaruhi sentimen perjalanan, seperti dampak pemberitaan banjir. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pariwisata Bali bukan hanya diukur dari angka volume, melainkan juga pada kualitas pengalaman, keberlanjutan, dan kemampuan pulau ini untuk mengelola pertumbuhan agar tidak mengikis daya tarik utamanya. Diversifikasi ekonomi di luar pariwisata, investasi dalam infrastruktur yang berkelanjutan, dan penegasan kembali fokus pada pariwisata berkualitas tinggi merupakan langkah krusial untuk memastikan ketahanan jangka panjang Bali sebagai destinasi global.