Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bantul: Destinasi Padang Batu Eksotis, Saingan Gurun Pasir Mesir

2025-12-23 | 03:53 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T20:53:24Z
Ruang Iklan

Bantul: Destinasi Padang Batu Eksotis, Saingan Gurun Pasir Mesir

Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, semakin memposisikan diri sebagai destinasi wisata dengan lanskap geologis yang unik, menawarkan "padang batu" berupa kawasan kars yang luas dan formasi batuan kapur eksotis, yang secara visual dan ekologis kontras dengan gurun pasir. Kawasan kars ini, yang membentang di wilayah selatan dan tenggara Bantul termasuk Imogiri, Sedayu, dan Pundong, telah menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mencari pengalaman alam berbeda, meskipun jumlah kunjungan wisatawan ke Bantul secara keseluruhan mengalami penurunan pada tahun 2024 dibandingkan 2023.

Secara geologis, bentang alam kars Bantul merupakan bagian dari Zona Pegunungan Selatan Jawa yang didominasi oleh batuan kapur, yang mudah terlarutkan air dan membentuk topografi khas dengan bukit-bukit, lembah-lembah terjal, dan jaringan gua. Beberapa situs kars yang telah dikenal dan dikembangkan untuk pariwisata minat khusus meliputi Karst Tubing Sedayu, yang menawarkan pengalaman menyusuri Sungai Konteng di tengah formasi batuan kars yang alami. Selain itu, Gua Cerme dan Gua Selarong juga termasuk dalam objek wisata alam yang memanfaatkan keunikan geologis ini. Pemerintah Kabupaten Bantul juga telah mengidentifikasi 19 situs geodiversitas lainnya di wilayahnya, termasuk Watu Kapal di Piyungan, Goa Gajah di Mangunan, dan Watu Ngelak di Jetis, yang memiliki potensi geowisata.

Meskipun lanskap kars menawarkan potensi besar, Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul mencatat penurunan jumlah wisatawan dari 2,7 juta pada 2023 menjadi 2,3 juta pada 2024. Namun, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata justru meningkat dari Rp26,283 miliar pada 2023 menjadi Rp30,6 miliar pada 2024. Kenaikan PAD ini salah satunya disebabkan oleh penyesuaian tarif retribusi objek wisata di pantai selatan Bantul yang naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per wisatawan sejak 1 Mei 2024. Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata Bantul, Markus Purnomo Adi, mengonfirmasi bahwa PAD tersebut dihimpun dari seluruh destinasi wisata Bantul, termasuk kawasan pantai selatan hingga gua-gua seperti Goa Selarong. Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul menargetkan PAD sebesar Rp49 miliar dari sektor pariwisata pada tahun 2025.

Pengembangan pariwisata di kawasan kars tidak luput dari tantangan, terutama terkait keberlanjutan lingkungan. Kawasan kars dikenal sebagai batuan yang rentan terhadap proses pelarutan, menjadikannya lanskap yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan kars harus mengedepankan aspek kelestarian lingkungan dan budaya. Ahli Geologi dan Kebencanaan dari UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, sebelumnya menekankan pentingnya pemetaan akurat kondisi kars untuk memastikan pengelolaan yang berkelanjutan dan dapat diterima semua pihak. Pemerintah Kabupaten Bantul sendiri telah mengarahkan pembangunan pariwisata yang berbasis karakter lokal, alam, dan minat khusus yang berwawasan lingkungan, berkelanjutan, serta berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Hal ini diwujudkan melalui penguatan pariwisata berbasis komunitas (community based tourism) guna mendorong perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Visi jangka panjang pengembangan pariwisata Bantul adalah menciptakan destinasi utama Indonesia yang bernuansa harmoni alam untuk kesejahteraan masyarakat. Upaya ini mencakup peningkatan promosi, atraksi wisata, dan penambahan sarana prasarana yang disesuaikan dengan anggaran. Namun, di tengah ambisi pengembangan, pengalaman dari wilayah tetangga seperti Gunungkidul, yang juga bagian dari Kars Gunung Sewu, menunjukkan perlunya kehati-hatian terhadap eksploitasi berlebihan yang dapat mengancam ekosistem kars. Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan para ahli geologi menjadi krusial untuk memastikan bahwa "padang batu" Bantul tidak hanya menjadi magnet wisata, tetapi juga lestari sebagai warisan geologis yang vital bagi keseimbangan ekologi dan sumber daya air.