Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Bandang Sumatera Rusak 43 Cagar Budaya, Aceh Dominasi Daftar Kerugian

2025-12-05 | 08:30 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-05T01:30:08Z
Ruang Iklan

Banjir Bandang Sumatera Rusak 43 Cagar Budaya, Aceh Dominasi Daftar Kerugian

Pulau Sumatra baru-baru ini dilanda banjir bandang dan tanah longsor yang berdampak signifikan pada warisan budaya. Kementerian Kebudayaan melaporkan bahwa sedikitnya 43 cagar budaya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengalami kerusakan. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan bahwa kerusakan ini bervariasi dari ringan hingga parah, dengan mayoritas situs terdampak berada di Provinsi Aceh.

Dari total 43 cagar budaya yang terdampak, 34 di antaranya berlokasi di Aceh, tujuh di Sumatra Utara, dan dua di Sumatra Barat. Cagar budaya yang rusak sebagian besar akibat genangan banjir, endapan lumpur, hingga longsor di sekitar situs. Menteri Fadli Zon menjelaskan bahwa sebagian besar situs yang terdampak di Aceh berdekatan dengan sungai, yang secara historis merupakan pusat peradaban manusia.

Beberapa cagar budaya penting di Aceh yang mengalami kerusakan meliputi Komplek Makam Putroe Balee, Makam Sultan Ma'ruf Syah, Komplek Bangunan Masjid Poteumereuhom, Makam Putri Sani, dan Makam Daeng Mansyur di Kabupaten Pidie yang terendam banjir. Di Pidie Jaya, Masjid Madinah dan Masjid Tgk. Pucok Krueng terendam banjir dan lumpur dengan kerusakan yang tergolong berat. Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, Makam Tun Srilanang dan Masjid Tuha Bugeng juga terendam banjir dan lumpur dengan kerusakan berat.

Aceh Tengah juga tidak luput dari dampak bencana, dengan rumah adat Toweren yang terendam banjir cukup parah dan Situs Loyang Ujung Karang yang terkena longsor. Situs Bukit Kerang dan Bukit Remis di Aceh Tamiang juga dilaporkan terendam banjir parah. Selain itu, di Aceh Utara, komplek makam seperti Makam Sultanah Nahrisyah, Makam Said Syarif, Makam Perdana Menteri Muhammad Yakob, Makam Batee Balee, dan Makam Raja Kanayan tergenang banjir.

Di Sumatra Utara, beberapa cagar budaya yang terdampak termasuk Rumah Tjong A Fie, Masjid Raya Al Osmani, dan Masjid Raya Al Mashun di Kota Medan. Di Langkat, Masjid Azizi juga terdampak banjir. Sementara di Sumatra Barat, Rumah Rasuna Said dan beberapa segmen Jalur Kereta Api Sawahlunto-Teluk Bayur di Pesisir Selatan juga mengalami kerusakan.

Selain kerusakan fisik pada situs budaya, bencana ini juga berdampak pada sumber daya manusia kebudayaan. Sebanyak 72 juru pelihara (jupel) cagar budaya terdampak, meskipun dalam kondisi sehat, namun rumah mereka mengalami kerusakan akibat banjir. Kementerian Kebudayaan telah menggalang dana sebesar Rp1,5 miliar untuk membantu penanganan dampak bencana dan proses pemulihan. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) di ketiga provinsi tersebut menjadi ujung tombak dalam pendataan, penelitian, dan penyaluran bantuan.

Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk menjaga warisan budaya bangsa dan memastikan kesejahteraan para pelaku kebudayaan, serta akan terus memperbarui data kerusakan seiring dengan verifikasi lapangan. Upaya pemulihan akan dilakukan setelah masa tanggap darurat bencana selesai, dengan fokus pada pengamanan, perbaikan, dan perlindungan lanjutan berdasarkan prioritas dan tingkat keparahan dampak.