
Sebanyak ribuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta warga lokal terpaksa dievakuasi dari pulau-pulau Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air di lepas pantai Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 6 Agustus 2018, menyusul gempa bumi berkekuatan 7,0 skala Richter yang melanda wilayah tersebut pada Minggu malam, 5 Agustus 2018. Operasi evakuasi besar-besaran ini mengerahkan sembilan kapal dan melibatkan tim gabungan dari TNI, Polri, Badan SAR Nasional (Basarnas), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, serta kapal-kapal swasta untuk mengangkut para pengungsi ke Pelabuhan Bangsal di Lombok Utara dan tujuan lain seperti Padangbai dan Benoa.
Gempa dahsyat tersebut, yang berpusat di darat sebelah utara Gunung Rinjani, tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan di ketiga pulau tersebut, namun juga memicu kepanikan massal di kalangan turis dan penduduk lokal. Peringatan dini tsunami sempat diaktifkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), meskipun kemudian dicabut beberapa jam kemudian, namun hal ini sudah mendorong banyak orang untuk mencari perlindungan di dataran tinggi, seperti bukit di belakang perkampungan Gili Trawangan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB saat itu, Sutopo Purwo Nugroho, menyatakan bahwa inisiatif evakuasi sebagian besar datang dari para turis yang mengalami trauma akibat kejadian tersebut.
Pada puncak operasi evakuasi, sekitar 2.700 orang berhasil dipindahkan dari tiga Gili tersebut hingga pukul 17.00 WIB pada 6 Agustus 2018, menurut data BNPB. Sumber lain menyebutkan total evakuasi mencapai 8.381 wisatawan dan warga dari Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Sabrar Fadhilah menjelaskan bahwa evakuasi dilakukan melalui jalur laut menggunakan berbagai kapal, termasuk RB 220 Mataram dan boat KPLP. Sementara itu, Humas Basarnas Mataram Agus Hendra Sanjaya melaporkan bahwa proses evakuasi yang dimulai sejak pukul 06.00 WITA pada 6 Agustus tersebut menggunakan kapal-kapal dari Basarnas, KPLP, dan Polisi Air. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto saat memimpin penanganan operasi tanggap gempa di Lombok Utara menegaskan evakuasi dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan.
Dampak gempa bumi tersebut melumpuhkan sektor pariwisata di Gili Trawangan, yang dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan di Nusa Tenggara Barat. Gili Trawangan berubah menjadi "pulau mati" dengan banyak toko, restoran, dan penginapan mengalami kerusakan parah, sementara sebagian besar wisatawan telah meninggalkan pulau. Menteri Pariwisata, Arief Yahya, memperkirakan kerugian ekonomi pariwisata akibat bencana ini mencapai 100 juta dolar Amerika Serikat.
Pasca-bencana, pemerintah dan berbagai pihak terkait meluncurkan upaya pemulihan yang komprehensif. Kementerian Pariwisata menyelenggarakan program trauma healing bagi ratusan pelaku industri pariwisata di Gili Trawangan, Gili Meno, dan Sembalun, dengan tujuan memulihkan kondisi psikologis mereka dan mendorong kebangkitan kembali sektor pariwisata. Program ini melibatkan narasumber dari kepolisian bagian psikologi, BNPB, BPBD, serta Politeknik Pariwisata Lombok. Selain itu, fokus pemulihan juga diarahkan pada perbaikan dan penambahan fasilitas yang rusak atau belum tersedia di objek wisata, serta penguatan aspek keamanan untuk memulihkan kepercayaan wisatawan. Studi terbaru menunjukkan bahwa upaya pemulihan tersebut menyoroti pentingnya perbaikan infrastruktur dan peningkatan fasilitas untuk menarik kembali wisatawan.