
Jumlah wisatawan domestik Tiongkok terus meningkat, mengalihkan fokus perjalanan ke keindahan alam di dalam negeri, dengan air terjun ikonik seperti Huangguoshu di Guizhou dan Nuorilang di Lembah Jiuzhaigou menjadi magnet utama yang menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya. Fenomena ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal tetapi juga menimbulkan tantangan signifikan terkait konservasi lingkungan dan pengelolaan pariwisata massal.
Huangguoshu, yang terletak di Provinsi Guizhou, telah lama diakui sebagai air terjun terbesar di Tiongkok dengan ketinggian 77,8 meter dan lebar 101 meter, menawarkan pengalaman unik melalui Gua Tirai Air di belakang alirannya. Destinasi ini secara konsisten menarik keramaian besar, terutama pada musim puncak, meskipun pihak pengelola merekomendasikan kunjungan pada Mei-Juni atau September-Oktober untuk menikmati aliran air yang deras tanpa kepadatan pengunjung pada liburan musim panas. Di sisi lain, Lembah Jiuzhaigou di Provinsi Sichuan, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO, terkenal dengan serangkaian air terjun bertingkat dan danau berwarna-warni, dengan Air Terjun Nuorilang sebagai salah satu puncaknya, memiliki tinggi 24,5 meter dan lebar 320 meter. Hingga 24 Oktober 2025, kawasan ini mencatat lebih dari 6 juta kunjungan, di mana 93,81 persen di antaranya adalah wisatawan domestik, menunjukkan lonjakan 24,13 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi angka tertinggi dalam empat dekade terakhir. Pada Agustus 2024 saja, rata-rata harian pengunjung mencapai 27.000, dengan batas harian ditetapkan 41.000 untuk mengelola tekanan terhadap lingkungan.
Pertumbuhan masif pariwisata domestik Tiongkok didukung oleh investasi pemerintah dalam infrastruktur dan promosi, menjadikan air terjun sebagai komponen penting dalam strategi pengembangan pariwisata. Air Terjun Detian, air terjun transnasional terbesar di Asia yang berbatasan dengan Vietnam, secara resmi dibuka untuk wisatawan pada 15 Oktober 2024, setelah periode uji coba yang sukses. Dalam kurun waktu 15 September 2023 hingga 11 Oktober 2024, situs ini telah dikunjungi oleh 16.092 wisatawan lintas batas, dengan 10.902 wisatawan Tiongkok menyeberang ke sisi Vietnam. Otoritas kedua negara telah menyederhanakan prosedur bea cukai, termasuk pembebasan sidik jari dan stempel masuk/keluar bagi wisatawan Tiongkok yang melakukan perjalanan kelompok, untuk mendorong mobilitas lintas batas.
Namun, popularitas ini juga membawa implikasi serius. Tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan konservasi ekologi. Jiuzhaigou secara eksplisit bergulat dengan isu-isu ini, karena peningkatan jumlah wisatawan memberikan tekanan besar pada ekosistemnya yang rapuh. Situasi ini diperparah oleh insiden seperti di Air Terjun Yuntai, di Provinsi Henan, yang pada Juni 2024 menjadi subjek kontroversi setelah terungkap bahwa pipa digunakan untuk "meningkatkan" aliran air selama musim kemarau. Pengakuan dari pihak pengelola taman bahwa "peningkatan kecil selama musim kemarau" dilakukan untuk "memperkaya pengalaman berkunjung" memicu perdebatan luas di media sosial tentang otentisitas keindahan alam dan etika intervensi manusia. Insiden ini menyoroti tekanan pada pengelola tempat wisata untuk memenuhi ekspektasi pengunjung yang terus meningkat, bahkan jika itu berarti mengorbankan keaslian alam. Pada tahun 2023, kawasan wisata Gunung Yuntai sendiri menarik lebih dari tujuh juta kunjungan.
Selain itu, dampak lingkungan dari pariwisata massal di Tiongkok meliputi masalah sampah, polusi air, dan kerusakan ekosistem. Sebuah laporan tahun 2021 menyoroti bagaimana desa-desa yang berpartisipasi dalam proyek "Desa Indah" pemerintah menghadapi tumpukan sampah plastik yang meningkat dari wisatawan. Kasus-kasus seperti perusakan padang rumput dan tebing granit oleh pejalan kaki juga menjadi berita utama, menunjukkan kurangnya kesadaran lingkungan di kalangan sebagian wisatawan.
Ke depan, pemerintah Tiongkok dan pengelola tempat wisata menghadapi tugas kompleks untuk mengembangkan pariwisata air terjun secara berkelanjutan. Diperlukan investasi yang lebih besar dalam infrastruktur pengelolaan limbah, edukasi lingkungan bagi pengunjung, dan kebijakan yang lebih ketat untuk membatasi dampak negatif. Strategi ini harus mencakup pengembangan produk pariwisata yang lebih bertanggung jawab dan memastikan bahwa keuntungan ekonomi tidak mengorbankan warisan alam yang menarik jutaan warga Tiongkok untuk menjelajahi keindahan air terjun di negara mereka sendiri.