Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Air Terjun Dadakan Sembalun Lombok: Terungkap Fakta di Balik Fenomena Viral Ini

2025-12-23 | 22:58 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-23T15:58:48Z
Ruang Iklan

Air Terjun Dadakan Sembalun Lombok: Terungkap Fakta di Balik Fenomena Viral Ini

Fenomena air terjun mendadak muncul di lereng perbukitan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada sekitar tanggal 8 Desember 2025, memicu kekhawatiran publik sekaligus menjadi viral di media sosial dengan julukan "gunung menangis". Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera memberikan klarifikasi, menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan proses alamiah yang wajar dan bukan indikasi aktivitas vulkanik berbahaya.

Kemunculan aliran air yang deras dari tebing-tebing curam di beberapa lokasi seperti Bukit Telaga, Bukit Amben, Bukit Batu Nunggang, dan Bukit Long, terjadi setelah wilayah Sembalun diguyur hujan deras berturut-turut selama kurang lebih empat hari. Menurut penjelasan Badan Geologi, perbukitan Sembalun didominasi oleh batuan breksi vulkanik dan lava yang memiliki sifat relatif kedap air. Karakteristik ini membatasi kemampuan tanah untuk menyerap curah hujan tinggi, sehingga air mengalir di permukaan sebagai limpasan. Limpasan air tersebut kemudian mengikuti alur-alur alami di lereng-lereng curam, menciptakan ilusi air terjun sementara yang menghilang ketika intensitas hujan mereda.

Meskipun secara ilmiah dijelaskan sebagai fenomena alam biasa, kemunculan air terjun dadakan ini sempat menimbulkan kepanikan di kalangan warga setempat. Ketua Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup (KPLH) Sembapala Sembalun, Rijalul Fikri, menyatakan bahwa warga memiliki trauma masa lalu terkait banjir besar yang pernah menelan korban jiwa dan merusak permukiman serta persawahan. Banjir yang diakibatkan oleh luapan air dari perbukitan dilaporkan merendam sekitar tiga hektar lahan pertanian hortikultura warga. Volkanolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, juga mengidentifikasi fenomena ini sebagai "sungai intermiten", yakni aliran air yang hanya muncul pada waktu tertentu, seperti musim hujan, dan mengering saat kemarau.

Selain faktor curah hujan dan kondisi geologi, beberapa pihak, termasuk Rijalul Fikri, menduga adanya kontribusi dari alih fungsi lahan di lereng perbukitan Sembalun untuk perkebunan dan pembangunan vila. Mirzam Abdurrachman juga menekankan bahwa tanpa akar pohon yang menahan air, limpasan air hujan dapat langsung meluncur turun. Ia memperingatkan bahwa tanpa upaya perbaikan tata kelola lahan, fenomena ini berpotensi memicu bahaya lanjutan seperti tanah longsor dan banjir. Sembalun sendiri memiliki riwayat panjang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, dengan insiden longsor yang kerap terjadi di jalur wisata Pusuk Sembalun, terutama saat musim hujan.

Penyebaran video fenomena "gunung menangis" di media sosial, terkadang dengan narasi berlebihan seperti tagar #PrayForSembalun, berdampak negatif terhadap sektor pariwisata. Holkin, seorang pedagang stroberi lokal, dan Resil, pemilik camping ground, melaporkan penurunan drastis kunjungan wisatawan dan pembatalan pesanan menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2025. Kepala Desa Sembalun Bumbung, Sunardi, menyayangkan beredarnya video yang dinilai menyesatkan publik dan mengimbau pembuat konten untuk lebih bijak dalam menyebarkan informasi agar tidak merusak citra destinasi wisata.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah secara konsisten mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, termasuk Lombok Timur, sepanjang bulan November dan Desember 2025, mengindikasikan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Kondisi cuaca ekstrem ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Mengingat ketergantungan Sembalun pada sektor pariwisata dan pertanian, kejadian seperti air terjun dadakan ini menggarisbawahi urgensi mitigasi bencana, pengelolaan lahan yang berkelanjutan, dan edukasi publik yang akurat. Langkah-langkah ini krusial untuk melindungi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, serta memastikan keberlanjutan sektor pariwisata di tengah tantangan perubahan iklim.