
Ketika perjalanan udara global semakin padat, beberapa bandara internasional terkemuka telah berinovasi menawarkan paket tur wisata gratis bagi penumpang transit, mengubah waktu tunggu menjadi pengalaman budaya yang tak terduga. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengalaman penumpang tetapi juga mempromosikan destinasi lokal kepada audiens global yang captive. Program-program ini dirancang untuk memaksimalkan layover penumpang, memungkinkan mereka menjelajahi kota di sekitar bandara tanpa biaya tambahan yang signifikan.
Salah satu pionir dalam program ini adalah Bandara Istanbul (IST) melalui "Touristanbul" yang diselenggarakan oleh Turkish Airlines. Program ini menawarkan tur kota gratis yang komprehensif bagi penumpang transit internasional Turkish Airlines dengan waktu singgah antara 6 hingga 24 jam. Touristanbul mencakup transportasi, pemandu profesional, santapan (sarapan dan/atau makan siang), serta biaya masuk ke berbagai situs bersejarah seperti Blue Mosque, Hagia Sophia, dan Grand Bazaar. Sejak diluncurkan kembali setelah pandemi, program ini telah menarik ribuan pelancong, dengan laporan hampir 3.000 peserta pada tahun ini saja, yang menunjukkan popularitasnya di kalangan penumpang dari Meksiko, Pakistan, India, Indonesia, Kazakhstan, dan negara-negara Arab. Untuk bergabung, penumpang harus mendaftar di meja Touristanbul di terminal kedatangan internasional setelah melewati kontrol paspor.
Bandara Changi Singapura (SIN), yang secara konsisten diakui sebagai salah satu bandara terbaik dunia, menawarkan "Free Singapore Tour" yang populer. Program ini, yang merupakan kolaborasi antara Changi Airport Group, Singapore Tourism Board, dan Singapore Airlines, kembali diluncurkan pada April 2023 setelah jeda dua tahun akibat pandemi. Penumpang transit dengan waktu singgah antara 5,5 hingga 24 jam memenuhi syarat untuk mengikuti salah satu dari empat tur berdurasi 2,5 jam. Itinerary yang ditawarkan bervariasi, meliputi "City Sights Tour" yang menampilkan Merlion Park dan Gardens by the Bay, "Heritage and Culture Tour" ke Chinatown dan Kampong Gelam, "Singapore River and Marina Bay Sands Tour", serta "Sentosa Discovery Tour". Seluruh biaya tur, termasuk transportasi dan pemandu, ditanggung oleh penyelenggara. Pendaftaran dapat dilakukan secara daring hingga 60 hari sebelumnya atau di konter tur yang terletak di area transit Terminal 2 dan Terminal 3.
Di Asia Timur, Bandara Internasional Incheon (ICN) di Korea Selatan juga mengoperasikan "Free Transit Tour". Program ini, yang didukung oleh pemerintah Korea dan Bandara Incheon, menyediakan tur keliling Seoul dan area Incheon bagi penumpang asing yang transit dengan waktu singgah antara 4 hingga 24 jam. Tur ini mencakup transportasi bus pulang-pergi dan layanan pemandu profesional, menawarkan berbagai pilihan durasi mulai dari 1 hingga 5 jam dengan tema sejarah, budaya, dan alam. Meskipun layanan pemandu dan bus tur gratis, peserta bertanggung jawab atas biaya masuk ke objek wisata tertentu dan biaya makan. Penumpang memerlukan persetujuan K-ETA atau visa yang valid untuk masuk ke Korea.
Taiwan Taoyuan International Airport (TPE) menawarkan "Free Half-Day Tour" bagi penumpang transit dan transfer dengan waktu singgah antara 7 hingga 24 jam. Tur ini, yang berlangsung sekitar empat jam, memiliki jadwal pagi dan sore hari, serta kadang-kadang tur malam untuk reservasi grup. Destinasi yang dikunjungi termasuk Kuil Lungshan, Chiang Kai-Shek Memorial Hall, dan Yongkang Street untuk tur pagi, sementara tur sore menjelajahi Daxi Old Street dan Daxi Puji Temple. Pendaftaran online dapat dilakukan 5 hingga 90 hari sebelum kedatangan, atau secara langsung di Pusat Layanan Turis di Terminal 1 dan 2 jika ada ketersediaan.
Meskipun konsep tur gratis yang sepenuhnya ditanggung bandara atau maskapai masih terbatas pada beberapa pusat transit utama, inisiatif ini menunjukkan tren yang berkembang dalam industri perjalanan. Program-program ini tidak hanya menjadi alat pemasaran destinasi, tetapi juga sebagai strategi diferensiasi bandara dalam lanskap perjalanan global yang kompetitif. Seiring dengan peningkatan permintaan perjalanan dan persaingan antar-hub, kemungkinan bandara lain akan mempertimbangkan model serupa untuk meningkatkan daya tarik mereka dan mengubah layover yang membosankan menjadi petualangan berharga.