
Sektor pariwisata Semarang terus menunjukkan vitalitasnya, dengan industri oleh-oleh tradisional menjadi pilar penting yang tidak hanya melestarikan warisan kuliner tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal secara signifikan. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, kontribusi UMKM di sektor kuliner dan oleh-oleh mencapai angka krusial dalam menarik serta mempertahankan kunjungan wisatawan, menegaskan peran strategisnya di tengah persaingan destinasi regional.
Salah satu ikon kuliner Semarang yang paling dikenal adalah lumpia. Lumpia Semarang memiliki sejarah panjang sejak abad ke-19, dimulai dari perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa, yang membedakannya dari lumpia di daerah lain dengan isian rebung manis gurih, udang, atau ayam. Produksi lumpia, khususnya dari gerai legendaris seperti Lumpia Gang Lombok dan Lumpia Mataram, diperkirakan mencapai ribuan per hari, menjadi tumpuan pendapatan bagi puluhan keluarga produsen dan pedagang. "Lumpia bukan sekadar makanan, melainkan cerita akulturasi yang menjadi identitas kota kami," ujar seorang pelaku UMKM Lumpia Semarang yang telah turun-temurun mengelola bisnisnya selama lebih dari lima dekade.
Wingko babat, penganan berbahan dasar kelapa muda parut, gula, dan tepung ketan, juga memegang posisi kuat sebagai oleh-oleh wajib. Wingko babat yang awalnya populer di daerah Babat, Lamongan, kemudian berkembang pesat di Semarang sejak era kolonial. Pabrik-pabrik seperti Wingko Babad Cap Kereta Api dan Wingko Babad Dyriana, mampu memproduksi tonase wingko setiap bulannya, yang didistribusikan ke seluruh Indonesia. Popularitasnya mencerminkan daya tahan dan adaptasi kuliner tradisional terhadap selera modern.
Bandeng presto, inovasi kuliner ikan bandeng berduri lunak, telah mengubah persepsi terhadap ikan lokal ini. Dengan proses pemasakan bertekanan tinggi, duri bandeng menjadi lunak dan aman dikonsumsi, membuka pasar yang lebih luas. Berbagai merek seperti Bandeng Presto Juwana telah menjadi ikon, dengan omzet yang signifikan, mendukung ratusan nelayan dan pekerja pengolahan ikan. Inovasi ini menunjukkan bagaimana teknologi sederhana dapat meningkatkan nilai tambah produk lokal secara drastis.
Tahu bakso, perpaduan tahu dan bakso sapi, adalah oleh-oleh lain yang mengalami peningkatan popularitas signifikan. Sentra produksi seperti Tahu Bakso Ungaran (meskipun secara geografis di luar kota Semarang, namun sangat identik dengan oleh-oleh Semarang) menunjukkan bagaimana produk dengan bahan baku lokal dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. “Permintaan tahu bakso meningkat hingga 30% pada musim liburan,” jelas seorang pemilik toko oleh-oleh di Jalan Pandanaran, menyoroti dampak langsung pariwisata terhadap penjualan.
Moaci, kue kenyal dengan taburan wijen dan isian kacang, merupakan warisan kuliner Tionghoa yang telah lama berakar di Semarang. Moaci Gemini menjadi salah satu produsen terkemuka, mempertahankan resep otentik yang telah diwariskan lintas generasi. Produk ini tidak hanya menawarkan cita rasa unik tetapi juga melambangkan keberagaman budaya Semarang.
Roti Ganjel Rel, kue tradisional dengan tekstur padat dan rasa khas kayu manis, adalah kuliner yang terancam punah namun kini kembali populer berkat upaya pelestarian. Nama "Ganjel Rel" sendiri merujuk pada bentuknya yang mirip bantalan rel kereta api. Keberadaannya kini menjadi simbol upaya pelestarian kuliner lokal yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah dan komunitas.
Kue Leker Paimo, meskipun lebih sering dinikmati di tempat sebagai jajanan jalanan, seringkali disebut sebagai salah satu pengalaman kuliner khas Semarang yang "harus dibawa pulang" dalam memori. Leker Paimo, yang telah beroperasi sejak tahun 1970-an, menunjukkan bagaimana satu gerai kecil dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri berkat konsistensi rasa dan reputasi legendaris.
Pia Semarang, dengan beragam isian seperti cokelat, keju, atau kacang hijau, menawarkan alternatif oleh-oleh yang lebih modern namun tetap mengakar pada tradisi. Pia Cap Mangkok menjadi salah satu merek yang dikenal. Perkembangan varian rasa menunjukkan adaptasi produsen terhadap preferensi konsumen yang terus berubah.
Kopi Semarangan, khususnya varietas lokal dari pegunungan sekitar seperti Kopi Kendal atau Temanggung yang diproses dan dipasarkan di Semarang, mulai menarik perhatian sebagai oleh-oleh. Ini menunjukkan pergeseran tren di mana produk agrikultur lokal juga turut menjadi komoditas pariwisata.
Terakhir, Batik Semarang atau produk batik dengan motif khas Semarang, meskipun bukan kuliner, merupakan oleh-oleh non-makanan yang penting. Motif seperti Tugu Muda, Warak Ngendog, atau Lawang Sewu yang terintegrasi dalam desain batik, tidak hanya menjadi cinderamata tetapi juga media promosi budaya dan ikon kota. Sentra batik di Kampung Batik Gedong Semarang menjadi bukti bagaimana industri kreatif berbasis budaya dapat menjadi motor ekonomi.
Pentingnya industri oleh-oleh bagi Semarang melampaui sekadar transaksi ekonomi. Ini adalah cerminan identitas kota, sejarahnya, dan kapasitas masyarakatnya untuk berinovasi sambil tetap melestarikan warisan. Dengan terus meningkatnya arus wisatawan domestik dan internasional pasca-pandemi, industri ini diperkirakan akan terus berkembang, menuntut inovasi berkelanjutan dan dukungan regulasi untuk memastikan keberlanjutannya dalam jangka panjang. Tantangan ke depan termasuk standardisasi kualitas, peningkatan kapasitas produksi, dan strategi pemasaran digital yang lebih agresif untuk menjangkau pasar yang lebih luas.