Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Visi Hijau Museum Majapahit: Membangun Warisan Berkelanjutan yang Representatif

2025-11-26 | 17:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-26T10:34:40Z
Ruang Iklan

Visi Hijau Museum Majapahit: Membangun Warisan Berkelanjutan yang Representatif

Pengembangan Museum Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, memasuki babak baru dengan visi besar untuk menciptakan institusi budaya yang representatif dan ramah lingkungan. Wacana ini semakin mengemuka mengingat koleksi puluhan ribu artefak Majapahit yang saat ini belum sepenuhnya dipajang dengan baik, serta narasi yang masih minim. Menteri Kebudayaan Fadli Zon telah menegaskan pentingnya museum baru yang dapat merepresentasikan kebesaran peradaban Majapahit sebagai "living chronicle" yang menginspirasi generasi kini dan mendatang.

Museum Majapahit saat ini memiliki lahan sekitar empat hektare, namun rencana pengembangan membutuhkan tambahan sekitar lima hektare lahan lagi, sehingga totalnya menjadi sekitar sepuluh hektare. Proses pembebasan lahan tambahan ini dijadwalkan akan dimulai tahun depan. Sebelumnya dikenal sebagai Pusat Informasi Majapahit (PIM), fasilitas ini diresmikan menjadi Museum Majapahit pada Juni 2025. Perubahan nama ini bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan fungsi utama situs ini sebagai museum yang menyimpan dan menginterpretasikan warisan Majapahit.

Untuk mewujudkan museum yang representatif, Kementerian Kebudayaan telah menyelenggarakan Sayembara Masterplan Museum Majapahit bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pemenang sayembara ini adalah tim JOSO yang diketuai arsitek Thoat Fauzi dengan karya berjudul "Surya Majapahit." Konsep "Surya Majapahit" mengusung harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas, dengan perhatian besar pada ruang terbuka hijau. Desain yang dihasilkan diharapkan tidak hanya berupa bentuk arsitektur, melainkan strategi kebudayaan yang mampu merepresentasikan nilai-nilai Majapahit seperti maritim, agraria, toleransi, dan kebhinekaan.

Aspek krusial lainnya adalah konsep ramah lingkungan atau eco-friendly. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa operasional museum memerlukan energi yang besar, terutama untuk pendingin ruangan, sehingga diperlukan sumber energi terbarukan seperti panel surya. Integrasi energi terbarukan ini tidak hanya sejalan dengan tren global, tetapi juga dapat menekan biaya pemeliharaan di masa depan. Konsep arsitektur hijau juga memperhatikan efisiensi energi, pencahayaan dan sirkulasi alami, serta penggunaan material bangunan berkelanjutan seperti bambu dan kayu, yang telah diterapkan di beberapa museum di Indonesia, termasuk Museum Subak di Bali yang menjadi museum pertama di Tanah Air yang menggunakan energi hijau berbasis Renewable Energy Certificate (REC).

Pembangunan Museum Majapahit yang baru ini akan dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan ketersediaan anggaran. Selain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pendanaan juga memungkinkan diperoleh melalui skema kerja sama antara pemerintah dan swasta, serta mengundang filantropis. Diharapkan, dengan perencanaan yang matang, museum ini tidak hanya akan menampilkan sekitar 10-15 persen dari 88.000 artefak koleksinya agar dapat diakses publik sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga menjadi pusat pelestarian, pendidikan, dan kebanggaan nasional. Tantangan dalam pelestarian situs Majapahit yang selama ini ditangani secara parsial juga diharapkan dapat teratasi melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi untuk pelestarian yang lebih komprehensif.