Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tirta Gangga: Misteri Air Suci yang Konon Berhulu di Sungai Gangga

2025-11-26 | 03:27 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-25T20:27:06Z
Ruang Iklan

Tirta Gangga: Misteri Air Suci yang Konon Berhulu di Sungai Gangga

Taman air Tirta Gangga di Karangasem, Bali, bukan sekadar destinasi wisata biasa, melainkan tempat yang menyimpan keyakinan mendalam mengenai keistimewaan sumber airnya. Konon, aliran air di kompleks istana air kerajaan ini diyakini berasal dari Sungai Gangga yang disucikan di India.

Nama "Tirta Gangga" itu sendiri secara harfiah berarti air suci dari Sungai Gangga, mencerminkan penghormatan mendalam umat Hindu terhadap air sebagai sumber kehidupan dan kesucian. Istana air yang memukau dengan labirin kolam, air mancur berjenjang, taman rimbun, dan patung-patung bergaya Hindu dan Tiongkok ini dibangun pada tahun 1948 oleh Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Pembangunan tersebut terinspirasi dari mata air Rejasa yang memiliki debit air melimpah dan keindahan alam di sekitarnya.

Keyakinan akan asal-usul air dari Sungai Gangga ini berakar dari sebuah wahyu. Anak Agung Made Kosalya, ketua badan pengelola Taman Tirta Gangga, menjelaskan bahwa Raja Karangasem pernah bermeditasi di bawah pohon leci dan menerima wahyu dari Dewi Gangga. Dalam wahyu tersebut, Dewi Gangga meminta agar nama Taman Rijasa diganti menjadi Taman Tirta Gangga, dengan kesan bahwa air yang keluar dari mata air (kelebutan) di sana memiliki aliran dari Sungai Gangga di India.

Berangkat dari keyakinan tersebut, Raja Karangasem kemudian membangun sebuah struktur seperti gedong untuk melindungi sumber mata air utama, menyucikan dan menyakralkannya agar tidak sembarang orang dapat masuk. Bagi masyarakat, terutama umat Hindu, air dari Tirta Gangga dianggap sebagai air suci (tirta) yang sering diminta untuk upacara keagamaan. Banyak pula yang meyakini bahwa air suci di Tirta Gangga memiliki khasiat penyembuhan berbagai penyakit, sehingga tak jarang pengunjung membawa galon untuk mengambil air. Namun, ada larangan bagi wanita yang sedang datang bulan untuk memasuki area sumber mata air yang disakralkan ini. Selain untuk keperluan spiritual, mata air Tirta Gangga juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air penduduk kota Amlapura melalui sistem perpipaan.

Kompleks Tirta Gangga sempat mengalami kerusakan parah akibat letusan Gunung Agung pada tahun 1963. Namun, dengan penuh kecintaan, taman ini berhasil dibangun kembali dan dipulihkan melalui upaya pemugaran yang dilakukan oleh putra Raja Karangasem, Anak Agung Made Djelantik, dan kemudian dilanjutkan oleh cucu beliau, Anak Agung Gede Dharma Widoere Djelantik, hingga menjadi bentuknya yang megah seperti saat ini. Kini, Tirta Gangga tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah kerajaan, tetapi juga destinasi yang memadukan keindahan arsitektur, lanskap alam, dan nilai spiritual yang tak lekang oleh waktu.