Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Resiliensi Pariwisata Jepang: Prioritaskan Pasar Domestik, Tak Gentar Fluktuasi Turis China

2025-11-23 | 11:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-23T04:34:47Z
Ruang Iklan

Resiliensi Pariwisata Jepang: Prioritaskan Pasar Domestik, Tak Gentar Fluktuasi Turis China

Industri pariwisata Jepang menunjukkan ketahanan yang signifikan, bahkan di tengah gejolak diplomatik yang baru-baru ini menyebabkan penurunan jumlah wisatawan dari Tiongkok. Para pelaku usaha dan pejabat pariwisata mengandalkan basis wisatawan domestik yang kuat dan diversifikasi pasar internasional untuk menjaga momentum pemulihan pascapandemi.

Ketegangan antara Jepang dan Tiongkok memuncak setelah pernyataan kontroversial Perdana Menteri Sanae Takaichi pada 7 November 2025, mengenai potensi intervensi militer dalam konflik Taiwan, yang oleh Beijing dianggap sebagai ancaman. Respons Tiongkok adalah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya ke Jepang, yang secara langsung berdampak pada kunjungan turis. Data menunjukkan penurunan drastis jumlah wisatawan Tiongkok, yang sebelumnya merupakan penyumbang terbesar bagi pariwisata Jepang, dengan hampir 7,5 juta pengunjung pada sembilan bulan pertama tahun 2025. Wisatawan Tiongkok juga dikenal sebagai pembelanja besar, menghabiskan sekitar 1 miliar dolar AS per bulan pada kuartal ketiga 2025, hampir 30 persen dari total pengeluaran wisatawan. Penurunan ini telah memicu aksi jual saham perusahaan terkait pariwisata di Jepang, termasuk Isetan Mitsukoshi, Oriental Land (operator Tokyo Disneyland), Japan Airlines, Shiseido, dan Fast Retailing. Beberapa agen perjalanan Tiongkok bahkan telah menghentikan tur ke Jepang dan menawarkan pengembalian dana penuh.

Meskipun demikian, sektor pariwisata Jepang secara keseluruhan tetap optimistis. Pemulihan pariwisata pascapandemi telah sangat kuat. Pada tahun 2024, Jepang mencatat rekor kunjungan 36,8 juta wisatawan asing, melampaui rekor sebelumnya 31,88 juta pada tahun 2019. Total belanja wisatawan asing mencapai sekitar 8,1 triliun yen (53,3 miliar dolar AS) pada tahun 2024. Untuk tahun 2025, Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) memprediksi jumlah wisatawan mancanegara tahunan akan melampaui 40 juta untuk pertama kalinya. Pada bulan Oktober 2025 saja, Jepang menyambut 3.896.300 wisatawan, dengan total kumulatif Januari hingga Oktober mencapai 35.547.200.

Faktor pendukung utama di balik ketahanan ini adalah pelemahan nilai tukar yen, yang membuat Jepang menjadi destinasi yang lebih menarik bagi wisatawan internasional. Selain itu, Jepang telah mengalihkan fokusnya untuk lebih mengandalkan wisatawan domestik dan pengunjung dari pasar lain. Meskipun jumlah pelanggan Tiongkok menurun drastis, beberapa pengusaha seperti Shiina Ito, pemilik toko perhiasan di Tokyo, menyatakan bahwa mereka tidak terlalu khawatir karena pelanggan Jepang masih datang secara teratur. Wisatawan dari Korea Selatan menjadi kelompok terbesar pada Februari 2025 dengan 847.300 orang, diikuti oleh Tiongkok Daratan dengan 722.700 orang, yang didorong oleh liburan Tahun Baru Imlek.

Pemerintah Jepang memiliki target ambisius untuk menarik 60 juta wisatawan asing pada tahun 2030, dengan total belanja wisatawan sebesar 15 triliun yen. Untuk mencapai ini, pemerintah berencana menyebarkan kunjungan wisatawan ke berbagai wilayah di Jepang, bukan hanya di area metropolitan utama, guna mengurangi masalah overtourism yang telah menjadi perhatian. Langkah-langkah mitigasi overtourism sudah diterapkan di beberapa lokasi populer seperti Gunung Fuji, termasuk biaya masuk dan batas harian pendaki. Pejabat seperti Shigeki Murata, Komisaris Badan Pariwisata Jepang, menyatakan bahwa Jepang akan terus melakukan upaya promosi pariwisata yang diperlukan, dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Strategi ini juga mencakup promosi wisata budaya dan kuliner serta pengembangan program wisata khusus di daerah seperti Hokkaido dan Okinawa, untuk mengurangi ketergantungan pariwisata pada wilayah perkotaan.