Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Raja Juli Antoni Menggema di Tesso Nilo: Jaga Benteng Terakhir Gajah Sumatera

2025-11-29 | 15:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-29T08:44:19Z
Ruang Iklan

Raja Juli Antoni Menggema di Tesso Nilo: Jaga Benteng Terakhir Gajah Sumatera

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk melindungi Taman Nasional Tesso Nilo sebagai habitat vital gajah Sumatera. Dalam kunjungannya ke Tesso Nilo pada akhir November 2025, Menteri Antoni menyatakan bahwa "rumah gajah jangan diganggu", menekankan pentingnya kawasan tersebut bagi kelangsungan hidup satwa liar. Pernyataan ini muncul di tengah maraknya gerakan #SaveTessoNilo di media sosial, yang diapresiasi oleh Menteri sebagai bentuk dukungan publik terhadap upaya konservasi.

Taman Nasional Tesso Nilo, yang terletak di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu, Riau, merupakan salah satu benteng terakhir hutan dataran rendah di Sumatera dan menjadi rumah bagi gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Namun, kawasan ini menghadapi ancaman serius akibat deforestasi dan perambahan ilegal, terutama untuk perkebunan kelapa sawit. Data menunjukkan bahwa tutupan hutan alami di Tesso Nilo kini hanya tersisa sekitar 15 hingga 16,8 persen dari total luas area, yang telah menyempitkan ruang jelajah gajah dan memicu konflik antara manusia dan satwa.

Dalam upaya restorasi, pemerintah menargetkan pemulihan ekosistem seluas 31.000 hektare sebagai fokus utama, dengan rencana pengembangan hingga mencapai 80.000 hektare sesuai Surat Keputusan terbaru. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dilaporkan telah memulai rehabilitasi awal seluas 511 hektare sekitar tiga minggu sebelum kunjungan Menteri Antoni. Menteri Antoni juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) untuk mengembalikan Tesso Nilo sebagai habitat gajah Sumatera.

Selain restorasi ekologis, pemerintah juga berencana melakukan relokasi persuasif terhadap 394 kepala keluarga (KK) yang bermukim di zona inti kawasan tersebut, paling lambat pada pertengahan Desember. Langkah ini diambil untuk mengurangi konflik manusia-gajah dan menjamin keamanan warga sekaligus kelangsungan hidup satwa. Meskipun diakui adanya resistensi dari masyarakat, Menteri Antoni menekankan bahwa persoalan di Tesso Nilo bukan masalah baru, melainkan telah berlangsung puluhan tahun. Beliau mengajak seluruh pihak, termasuk masyarakat, aparat, dan pemangku kepentingan, untuk bekerja sama dalam pemulihan Tesso Nilo sebagai tanggung jawab bersama.