Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Perjalanan Menemukan Rafflesia Hasseltii, Mendaki Gunung, Melewati Air Terjun

2025-11-29 | 01:40 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T18:40:19Z
Ruang Iklan

Perjalanan Menemukan Rafflesia Hasseltii, Mendaki Gunung, Melewati Air Terjun

Tim petualang dan peneliti baru-baru ini menyelesaikan perjalanan mendebarkan ke pedalaman hutan Sumatera Barat, berhasil menyaksikan mekarnya bunga langka Rafflesia hasseltii setelah penantian panjang 13 tahun. Penemuan ini terjadi pada 18 November 2025 di kawasan Hutan Hujan Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Ekspedisi ini dipimpin oleh konservasionis Septian Andriki dari Bengkulu, Dr. Chris Thorogood, Wakil Direktur dan Kepala Sains di Oxford Botanic Garden and Arboretum, serta peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) termasuk Joko Ridho Witono, didampingi pemandu lokal Iswandi dari Lembaga Pengelola Hutan Nagari Sumpur Kudus. Perjalanan menuju lokasi bunga ini bukanlah hal yang mudah, menuntut ketahanan fisik dan mental para penjelajah. Mereka menempuh perjalanan darat selama berjam-jam, diikuti dengan pendakian selama tiga jam melalui medan yang sangat menantang.

Rute tersebut meliputi pendakian gunung dengan kemiringan permukaan sekitar 90 derajat, menyeberangi tiga sungai, dan yang paling mendebarkan adalah melintasi air terjun dengan permukaan batu yang mudah lepas. Selain tantangan fisik, tim juga harus memperkuat insting karena kawasan ini merupakan habitat alami harimau Sumatera.

Momen ketika Rafflesia hasseltii mekar sempurna menimbulkan keharuan mendalam bagi tim, terutama Septian Andriki yang telah mendedikasikan 13 tahun pencarian untuk spesies ini. Bunga parasit ini dikenal sangat sulit dijumpai karena siklus hidupnya yang pendek, hanya mekar sempurna sekitar 5-7 hari sebelum layu. Terakhir kali Rafflesia hasseltii ditemukan mekar adalah pada tahun 2023 di perkebunan warga Desa Tanjung Gelang, Rejang Lebong, Bengkulu, namun proses mekarnya belum terdokumentasi secara penuh.

Rafflesia hasseltii merupakan tumbuhan holoparasit yang sepenuhnya bergantung pada spesies inang dari genus Tetrastigma, tanpa memiliki batang, daun, atau akar sejati. Bunga ini dikenal juga dengan nama lokal "Cendawan Muka Rimau" atau "Raflesia Merah Putih" karena corak merah kecokelatannya dengan lempengan putih yang tidak beraturan menyerupai wajah harimau. Status konservasi Rafflesia hasseltii sangat mengkhawatirkan, terdaftar sebagai spesies "genting" (endangered) oleh IUCN dan dilindungi di Indonesia. Diperkirakan sekitar 67 persen populasinya berada di luar kawasan hutan lindung, menjadikannya tantangan besar bagi upaya pelestarian. Penemuan di hutan Sumpur Kudus yang dikelola di bawah skema perhutanan sosial ini menegaskan pentingnya perlindungan habitat alami dan upaya konservasi berkelanjutan.