
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, tersembunyi sebuah permata sejarah yang memukau di kawasan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, yang dikenal sebagai Kampung Arab. Sebuah masjid kuno berdiri megah dengan sentuhan arsitektur Eropa klasik, memancarkan keindahan dan pesona yang tak lekang oleh waktu. Ini adalah Masjid Jami An-Nawier, yang juga populer dengan sebutan Masjid Pekojan, sebuah destinasi wisata religi yang kaya akan sejarah dan keunikan.
Masjid Jami An-Nawier diperkirakan mulai berdiri sebagai sebuah surau kecil pada tahun 1760 Masehi atau 1180 Hijriah. Namun, bangunan permanen dengan bentuk khasnya seperti yang terlihat saat ini baru dibangun sekitar tahun 1800-an hingga awal abad ke-19. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi.
Keistimewaan Masjid Jami An-Nawier terletak pada perpaduan arsitekturnya yang memadukan unsur Arab, Betawi, dan Barat, dengan nuansa neo-klasik yang sangat menonjol. Begitu memasuki area masjid, pengunjung akan disambut oleh ornamen-ornamen cantik dan pilar-pilar raksasa yang memberikan kesan Eropa yang kental. Lantai masjid terbuat dari marmer, mencerminkan gaya bangunan Eropa pada masanya. Di bagian dalam, terdapat 33 pilar kokoh yang menopang atap, yang diinterpretasikan sebagai simbol jumlah butiran tasbih dalam ajaran Islam. Lima pintu utama yang menghadap kiblat melambangkan Rukun Islam, sementara enam pintu di sisi samping melambangkan Rukun Iman.
Selain keindahan arsitekturnya, Masjid Jami An-Nawier juga menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Masjid ini menjadi pusat penyebaran syiar Islam di Batavia dan konon merupakan induk dari masjid-masjid di sekitarnya. Beberapa tokoh ulama penting, seperti Habib Usman Bin Yahya, mufti Islam di Batavia, pernah mengajar di masjid ini. Masjid ini juga memiliki mimbar antik yang merupakan hadiah dari seorang Sultan Pontianak pada abad ke-18 dan masih terawat hingga kini.
Upaya pelestarian keaslian masjid ini terus dilakukan. Antara tahun 2014 hingga 2018, Masjid Jami An-Nawier menjalani restorasi komprehensif yang menghabiskan dana sekitar 4 miliar rupiah, yang berhasil dihimpun secara mandiri dari jamaah rutin. Restorasi ini meliputi perbaikan plafon dan lantai, sambil tetap menjaga otentisitas bangunan.
Pekojan sendiri, sebagai lokasi Masjid Jami An-Nawier, adalah sebuah kampung tua yang dahulu banyak dihuni oleh pedagang keturunan Arab dan Koja (India Muslim). Nama Pekojan bahkan dikisahkan diambil dari komunitas Koja ini. Keberadaan Masjid Jami An-Nawier menjadi simbol peradaban Arab di Jakarta dan menjadi daya tarik utama bagi para peziarah serta wisatawan yang ingin menelusuri jejak sejarah Islam dan mengagumi keindahan arsitektur masa lalu. Dengan kapasitas yang dapat menampung sekitar seribu jamaah, masjid ini tetap aktif digunakan untuk shalat dan berbagai kegiatan keagamaan, menjadikannya destinasi yang hidup dan mempesona.