Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Indonesia Jadi Magnet Baru Turis China di Tengah Pembatalan Liburan ke Jepang

2025-11-20 | 19:30 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-20T12:30:46Z
Ruang Iklan

Indonesia Jadi Magnet Baru Turis China di Tengah Pembatalan Liburan ke Jepang

Ribuan wisatawan Tiongkok dilaporkan membatalkan rencana liburan mereka ke Jepang menyusul memanasnya ketegangan diplomatik antara kedua negara terkait pernyataan Jepang mengenai Taiwan, serta isu pelepasan limbah air olahan Fukushima. Situasi ini membuka peluang besar bagi sektor pariwisata Indonesia untuk menarik perhatian pasar Tiongkok yang sangat potensial.

Pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengindikasikan kemungkinan intervensi militer jika Tiongkok menyerang Taiwan, telah memicu kemarahan Beijing. Sebagai respons, Tiongkok mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya untuk menghindari Jepang, yang berimbas langsung pada industri pariwisata Negeri Sakura. Diperkirakan sekitar 500.000 tiket penerbangan dari Tiongkok ke Jepang telah dibatalkan antara 15 hingga 17 November. Beberapa maskapai penerbangan Tiongkok bahkan menawarkan pembatalan gratis hingga 31 Desember.

Dampak pembatalan massal ini sangat signifikan bagi Jepang. Seorang operator tur di Tokyo yang berfokus pada klien Tiongkok melaporkan kehilangan 80% pemesanan untuk sisa tahun ini. Analisis Nomura Research Institute memperkirakan bahwa boikot perjalanan ini dapat mengakibatkan kerugian sekitar 2,2 triliun yen (sekitar 14,23 miliar dolar AS) setiap tahun bagi Jepang, sebuah pukulan telak bagi perekonomiannya. Tiongkok sendiri merupakan sumber wisatawan terbesar kedua bagi Jepang, dengan hampir 7,5 juta pengunjung pada sembilan bulan pertama tahun 2025.

Di tengah situasi ini, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk menarik lebih banyak wisatawan Tiongkok. Data menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Pada Juli 2024, tercatat 126.100 turis Tiongkok mengunjungi Indonesia, angka tertinggi sejak pembatasan perjalanan pascapandemi dicabut pada tahun 2023. Secara keseluruhan, dari Januari hingga Juli 2024, total wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia mencapai 695.000, meningkat 79% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk tahun 2024, jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia mencapai 1,19 juta, menunjukkan peningkatan 52% dibandingkan tahun 2023. Angka ini telah memenuhi target pemerintah Indonesia sebesar 1 hingga 1,5 juta wisatawan Tiongkok untuk tahun 2024.

Pemerintah Indonesia menargetkan dapat menyambut 2 juta wisatawan Tiongkok pada tahun 2025. Tiongkok dianggap sebagai mitra strategis dalam pengembangan sektor pariwisata dan sumber daya manusia, termasuk pelatihan bahasa Mandarin bagi mahasiswa politeknik pariwisata Indonesia. Keseriusan ini diperkuat dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Indonesia dan Tiongkok pada Mei 2025 untuk memperkuat kerja sama pariwisata dan meningkatkan kunjungan timbal balik.

Dalam upaya menarik pasar Tiongkok, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia secara aktif mempromosikan 13 destinasi unggulan. Destinasi tersebut mencakup Danau Toba, Batam dan Bintan, pantai Bangka Belitung, Jakarta, Yogyakarta-Borobudur-Prambanan, Bromo-Tengger-Semeru, Bali, Kepulauan Gili di Lombok, Komodo di Labuan Bajo, Manado, Wakatobi, Morotai, dan Raja Ampat. Penerbangan langsung juga telah menghubungkan 11 kota di Tiongkok dengan Jakarta, Bali, Manado, dan Surabaya.

Wisatawan Tiongkok dikenal memiliki daya beli yang tinggi, dengan rata-rata pengeluaran sebesar 1.188 dolar AS per kunjungan pada tahun 2024, angka yang relatif lebih tinggi dibandingkan wisatawan dari negara Asia lainnya. Mereka cenderung bepergian dalam rombongan dan gemar berbelanja, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Bali tetap menjadi tujuan paling populer bagi wisatawan Tiongkok di Indonesia, meskipun ada kekhawatiran terkait "overtourism" yang telah menyebabkan penangguhan pembangunan hotel baru di beberapa wilayah pulau tersebut.

Dengan adanya pergeseran minat wisatawan Tiongkok dari Jepang, ditambah dengan upaya promosi dan fasilitas yang terus ditingkatkan, Indonesia berada di posisi strategis untuk bersinar dan menarik pangsa pasar wisatawan Tiongkok yang sangat berharga.