Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

China Melesat Jadi Kuda Hitam Tren Wisata Halal 2026

2025-11-30 | 20:02 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-30T13:02:55Z
Ruang Iklan

China Melesat Jadi Kuda Hitam Tren Wisata Halal 2026

Sektor pariwisata ramah Muslim diproyeksikan akan terus tumbuh secara signifikan, dengan nilai pasar global diperkirakan mencapai lebih dari 300 miliar dolar AS pada tahun 2026, menurut laporan Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI). Angka ini bahkan diproyeksikan meningkat hingga 274 miliar dolar AS di kawasan ASEAN pada tahun yang sama, atau bahkan mencapai 410,9 miliar dolar AS secara global pada tahun 2032. Tren ini bergeser dari "Revenge Travel" pasca-pandemi menuju "Meaningful Travel", di mana wisatawan Muslim mencari pengalaman yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga spiritual dan aman secara nilai.

Ketua Umum Asosiasi Travel Halal Indonesia (ATHIN) Cheriatna memprediksi tren wisata halal 2026 akan semakin mengarah pada "personalized halal experience". Ini berarti wisatawan Muslim akan lebih menyukai tur privat atau kelompok kecil yang fleksibel, serta destinasi yang menawarkan perpaduan keindahan alam dan sejarah peradaban Islam. Integrasi teknologi, seperti aplikasi penunjuk arah kiblat dan pemindai komposisi makanan, akan menjadi standar wajib dalam perjalanan. Tiga faktor utama atau "3S" yang menjadi pertimbangan wisatawan Muslim adalah Syariah Compliance (ketersediaan makanan halal dan akses tempat salat), Safety & Comfort (destinasi yang ramah identitas Muslim seperti wanita berhijab), dan Story (destinasi bernilai edukasi atau sejarah). Indonesia sendiri telah menjadi pemain utama dalam sektor ini, berhasil mempertahankan peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia selama dua tahun berturut-turut (2023 dan 2024).

Di tengah geliat tren ini, Tiongkok muncul sebagai "kuda hitam" yang menarik perhatian sebagai destinasi wisata ramah Muslim. Negeri Tirai Bambu ini menunjukkan komitmen yang meningkat dalam menyambut wisatawan Muslim. China memiliki populasi Muslim yang signifikan, dengan lebih dari 20 juta Muslim dan 10 etnis minoritas Muslim, termasuk sekitar 12 juta suku Uighur yang mayoritas tinggal di wilayah barat laut China.

Sejarah Islam di Tiongkok pun sangat kaya, ditandai dengan keberadaan masjid-masjid bersejarah seperti Masjid Niujie di Beijing yang merupakan salah satu masjid tertua dan terpenting, serta Masjid Agung Xi'an yang dibangun pada tahun 742 Masehi. Beberapa wilayah di Tiongkok, seperti Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, Daerah Otonomi Suku Hui Ningxia, Provinsi Qinghai, dan Provinsi Gansu, kaya akan sumber daya pariwisata Islam yang terkonsentrasi dan sangat menarik bagi wisatawan Muslim.

Kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Xi'an kini semakin ramah bagi wisatawan Muslim dengan tersedianya makanan halal, masjid, dan akomodasi yang memahami kebutuhan Muslim. Di Shanghai, bahkan banyak produsen makanan yang mulai tertarik menyajikan hidangan halal, dan konsultan pangan halal membantu perusahaan lokal mendapatkan sertifikasi. Masyarakat lokal Tiongkok umumnya ramah dan menghargai perbedaan, memungkinkan wisatawan Muslim untuk beribadah dan berpakaian sopan dengan nyaman.

Pemerintah Tiongkok dan berbagai pemangku kepentingan pariwisata telah mengambil langkah-langkah untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan Muslim. Ini mencakup penyediaan makanan halal, fasilitas ibadah, serta layanan dan akomodasi yang sesuai dengan prinsip syariah. Bahkan, agen perjalanan seperti G-Tour mulai mengembangkan paket "China Halal" untuk mengubah persepsi publik dan mengekspos kekayaan sejarah Islam di Tiongkok, termasuk kunjungan ke makam Abbi Waqas, salah satu tokoh penyebar agama Islam di China. Malaysia juga memperkuat kerja sama di sektor halal dengan China, termasuk melalui promosi industri halal Malaysia di pasar Tiongkok. Dengan langkah-langkah progresif ini, China berpotensi besar menjadi destinasi Muslim-friendly yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang.