
Otoritas Tiongkok tengah gencar menerapkan berbagai strategi untuk mengatasi angka pernikahan dan kelahiran yang terus menurun. Salah satu upaya terbaru datang dari kota Ningbo di wilayah timur, yang menawarkan delapan voucher konsumsi pernikahan senilai total 1.000 yuan, atau setara dengan sekitar Rp2,2 juta hingga Rp2,3 juta, bagi pasangan pengantin baru. Kebijakan ini berlaku untuk pasangan yang mendaftarkan pernikahan mereka antara 28 Oktober hingga 31 Desember, dengan distribusi voucher berdasarkan prinsip siapa cepat dia dapat dan jumlahnya yang terbatas.
Voucher tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan terkait pernikahan, termasuk fotografi pernikahan, upacara dan perayaan, akomodasi hotel, belanja ritel, serta sektor-sektor lain yang berhubungan dengan pernikahan. Langkah serupa juga telah diadopsi oleh kota-kota lain di wilayah timur seperti Hangzhou dan Pinghu, yang akan menawarkan voucher tunai hingga akhir tahun.
Inisiatif ini muncul di tengah krisis demografi yang signifikan di Tiongkok, di mana angka pernikahan anjlok seperlima pada tahun lalu, menjadi penurunan terbesar yang pernah tercatat. Minat yang rendah di kalangan generasi muda untuk menikah dan memulai keluarga disebut-sebut dipengaruhi oleh tingginya biaya pengasuhan anak dan pendidikan, tekanan di tempat kerja, ketidakpastian ekonomi, serta beban merawat orang tua yang menua. Survei menunjukkan bahwa hampir 40 persen mahasiswa perempuan tidak menginginkan anak.
Pemerintah Tiongkok memandang peningkatan angka pernikahan dan kelahiran sebagai prioritas utama guna menghadapi populasi yang menua dengan cepat dan angkatan kerja yang menyusut. Selain insentif di tingkat kota, pemerintah pusat juga meluncurkan tunjangan anak nasional sebesar 3.600 yuan per tahun untuk setiap anak di bawah usia tiga tahun. Beberapa daerah bahkan menawarkan insentif yang lebih besar, seperti kota Tianmen di provinsi Hubei, yang memberikan subsidi perumahan senilai 120.000 yuan dan bonus pernikahan 60.000 yuan bagi pasangan yang mendaftar secara lokal, serta subsidi hingga 220.000 yuan untuk keluarga dengan tiga anak. Upaya ini juga mencakup promosi "pendidikan cinta" di perguruan tinggi dan universitas untuk menanamkan pandangan positif tentang pernikahan dan keluarga.
Meskipun berbagai insentif ini diluncurkan, tingkat pernikahan terus menurun. Pada tahun 2024, Tiongkok mencatat 6,1 juta pernikahan, turun dari 7,7 juta pada tahun sebelumnya, dan jauh di bawah lebih dari 13 juta pernikahan satu dekade lalu. Belum jelas apakah insentif finansial semata dapat membalikkan tren penurunan angka kelahiran di Tiongkok atau mengubah sikap sosial yang sudah mengakar kuat di kalangan generasi muda.