
Gangguan parah melanda sejumlah bandara di Australia dalam beberapa waktu terakhir, menyebabkan ribuan penumpang mengalami penundaan dan pembatalan penerbangan. Kondisi ini memicu kekacauan di terminal-terminal utama di tengah upaya maskapai dan otoritas bandara untuk mengatasi serangkaian masalah, mulai dari penarikan pesawat hingga insiden operasional.
Penyebab utama kekacauan penerbangan yang paling baru dan signifikan adalah penarikan mendadak sekitar 6.000 unit pesawat Airbus A320 di seluruh dunia. Instruksi penarikan ini dikeluarkan Airbus pada 28 November 2025, menyusul insiden di mana sebuah pesawat mengalami masalah kontrol penerbangan yang mengharuskan pengalihan pendaratan dan melukai 155 penumpang. Analisis menunjukkan bahwa radiasi matahari intens dapat merusak data penting untuk fungsi kontrol penerbangan.
Maskapai penerbangan berbiaya rendah Jetstar menjadi salah satu yang paling terdampak di Australia, membatalkan 90 penerbangan pada Sabtu (29/11/2025) untuk melakukan pembaruan perangkat lunak pada 34 pesawat Airbus A320 dalam armadanya. Pembatalan ini mempengaruhi banyak rute Jetstar dari Sydney menuju bandara Tullamarine dan Avalon di Victoria, Adelaide, Perth, dan Hobart. Kepala pilot Jetstar, Tyrone Simes, menyatakan bahwa komputer kontrol penerbangan pada pesawat yang terdampak menunjukkan anomali, dan pembaruan perangkat lunak memerlukan waktu dua hingga tiga jam per pesawat. Gangguan ini diperkirakan akan berlanjut hingga Minggu. Ribuan siswa kelas 12 yang hendak bepergian ke Gold Coast dan Byron Bay untuk pekan sekolah turut merasakan dampaknya.
Sementara itu, Virgin Australia, yang mengoperasikan empat pesawat A320 untuk bisnis regional Australia Barat, sedang berupaya mengatasi gangguan dengan kapasitas armada Boeing 737 yang ada. Qantas menyatakan masalah ini tidak akan memengaruhi jadwal mereka, meskipun mereka mengoperasikan beberapa jenis A320.
Tak hanya masalah penarikan pesawat, Bandara Melbourne juga menghadapi insiden kebakaran di Terminal 1 yang digunakan Qantas pada Jumat (28/11/2025). Kebakaran tersebut memaksa evakuasi terminal dan menyebabkan penundaan lalu lintas penerbangan serta pembatalan sejumlah penerbangan Qantas menuju dan dari Brisbane, Sydney, dan Adelaide. Api berhasil dipadamkan, dan terminal telah dinyatakan aman untuk dibuka kembali sebagian.
Sebelumnya pada bulan September 2025, Bandara Sydney dilanda kekacauan akibat kekurangan staf pengawas lalu lintas udara. Sejumlah pengawas melaporkan sakit secara bersamaan, menyebabkan penundaan penerbangan dan sempat mengancam pembatalan total keberangkatan antara pukul 15.30 hingga 16.00 waktu setempat, memicu antrean panjang dan frustrasi di kalangan pelancong akhir pekan.
Cuaca buruk juga menjadi pemicu signifikan. Pada awal Juli 2025, Bandara Sydney membatalkan 285 penerbangan dalam dua hari akibat cuaca ekstrem, termasuk 140 penerbangan pada Rabu (2/7/2025) saja. Pembatalan ini terjadi menjelang periode liburan sekolah tersibuk, menyebabkan sekitar 2,6 juta penumpang terganggu.
Di Bandara Perth, masalah teknis pada sistem pengisian bahan bakar pesawat pada 1 Juni 2024 menyebabkan penundaan dan pembatalan setidaknya 30 keberangkatan dan 40 kedatangan. Gangguan ini meluas ke beberapa bandara lain di Australia dan bahkan memengaruhi penumpang yang terlantar di Doha, Qatar, yang menunggu penerbangan ke Perth.
Pemerintah Australia sedang mempertimbangkan reformasi baru untuk memastikan penumpang menerima kompensasi atas penerbangan yang ditunda atau dibatalkan, menyusul serangkaian insiden ini. Kondisi ini menggarisbawahi tantangan kompleks yang dihadapi industri penerbangan Australia, mulai dari masalah teknis global hingga kendala operasional lokal, yang secara kolektif menciptakan periode sulit bagi penumpang dan maskapai.