Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Baduy: Pilar Adat dengan Keteguhan Hitam Putih

2025-11-29 | 22:51 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-29T15:51:44Z
Ruang Iklan

Baduy: Pilar Adat dengan Keteguhan Hitam Putih

Melangkah ke wilayah Kanekes di Pegunungan Kendeng, Banten, adalah memasuki sebuah dunia yang secara konsisten mempertahankan warisan leluhur di tengah hiruk pikuk modernitas. Di sinilah bersemayam Suku Baduy, atau yang mereka sebut "Urang Kanekes", masyarakat adat Sunda yang teguh sebagai "penjaga adat". Kehidupan mereka terbagi menjadi dua kelompok utama yang masing-masing memiliki karakteristik unik, terutama yang tercermin dari filosofi "Hitam dan Putih" pada pakaian adatnya.

Suku Baduy Dalam, yang mendiami tiga kampung inti yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik, dikenal karena ketaatannya yang paling ketat terhadap adat istiadat. Mereka menghindari penggunaan teknologi modern, termasuk listrik, alat transportasi, bahkan alas kaki. Pakaian sehari-hari bagi Baduy Dalam didominasi warna putih polos, tanpa kancing atau kerah, yang melambangkan kesucian, kesederhanaan, kejujuran, serta kehidupan yang tidak terpengaruh budaya luar. Larangan keras juga berlaku bagi mereka untuk difoto atau direkam, guna menjaga keaslian budaya mereka.

Berbeda dengan Baduy Dalam, kelompok Baduy Luar atau "Urang Panamping" lebih terbuka terhadap pengaruh dari dunia luar, meskipun tetap berpegang pada tradisi mereka. Mereka sering menjadi perantara antara Baduy Dalam dan masyarakat luar. Pakaian adat mereka sebagian besar berwarna hitam atau biru tua, yang beberapa sumber mengartikannya sebagai kesetiaan, ketabahan, dan keteguhan, atau sebagai kontras yang melambangkan dinamika interaksi dengan dunia luar. Pada Baduy Luar, penggunaan ponsel mulai diterima secara bijak, dan pakaian mereka mungkin sudah memiliki kantong atau kancing. Perbedaan "hitam dan putih" ini secara keseluruhan dianggap melambangkan pasangan alamiah seperti siang dan malam, terang dan gelap, yang tidak dapat dipisahkan.

Sebagai penjaga adat, Suku Baduy menganut kepercayaan Sunda Wiwitan yang mengedepankan harmoni antara manusia dan alam, dengan Gunung Kendeng dianggap sebagai tempat suci. Mereka hidup berdampingan dengan alam, melarang penggunaan bahan kimia dalam bertani, menebang pohon sembarangan, atau membuang sampah. Hingga Agustus 2023, total populasi masyarakat Baduy Dalam maupun Luar mencapai 9.297 jiwa.

Kawasan Desa Kanekes telah dibuka sebagai destinasi wisata sejak akhir 1980-an, namun kunjungan ke Baduy lebih dari sekadar berwisata; ini adalah tentang belajar dan menghormati kearifan lokal. Para pengunjung wajib mematuhi serangkaian aturan ketat. Di Baduy Dalam, perangkat teknologi seperti radio, speaker, tablet, laptop, serta kamera dan ponsel untuk dokumentasi sangat dilarang. Wisatawan juga tidak diperkenankan membawa atau menggunakan produk berbahan kimia seperti sabun, sampo, dan pasta gigi, serta dilarang membuang sampah sembarangan, terutama plastik. Selama berada di sana, pengunjung harus berbicara dengan sopan dan tidak menebang atau mencabut tanaman. Khusus selama bulan Kawalu, yang berlangsung sekitar tiga bulan (biasanya Februari hingga April), Baduy Dalam tertutup bagi wisatawan untuk memungkinkan ritual penyucian diri berlangsung. Wisatawan mancanegara umumnya hanya diperbolehkan mengunjungi Baduy Luar. Meskipun tidak ada tiket masuk resmi, sumbangan untuk pengelolaan desa dan pemandu lokal sangat dianjurkan, dengan biaya pemandu berkisar Rp 150.000 hingga Rp 250.000 per hari. Membawa uang tunai juga penting karena tidak ada ATM di kawasan ini.

Kehidupan dan tradisi Suku Baduy, dengan filosofi "Hitam dan Putih" yang mendalam, menawarkan pengalaman otentik dan inspirasi tentang bagaimana menjaga warisan budaya dan harmoni dengan alam di tengah tantangan zaman modern.