:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470778/original/081330400_1768225359-000_36TP7KJ.jpg)
Ratusan batang bambu di Hutan Arashiyama yang ikonik di Kyoto, Jepang, telah menjadi korban vandalisme ukiran oleh pengunjung, dengan inspeksi terbaru pada akhir tahun 2025 menunjukkan setidaknya 350 batang bambu rusak parah akibat grafiti. Sebagian besar ukiran ditemukan dalam huruf Romawi, serta karakter Cina, Korea, dan bahkan Jepang, yang menurut pejabat lokal, sebagian besar dilakukan oleh turis asing. Insiden yang berulang ini mengancam salah satu lanskap alam yang paling disayangi Jepang dan simbol keindahan Kyoto, memicu kekhawatiran serius di tengah lonjakan pariwisata pascapandemi.
Kerusakan pada bambu bukan sekadar kosmetik. Ukiran yang dalam dapat menyebabkan batang bambu membusuk, layu, dan akhirnya tumbang, karena sel-sel bambu tidak dapat beregenerasi setelah rusak. Takayuki Suzuki, manajer hutan bambu, menyatakan kesedihan mendalam atas perilaku semacam ini, menjelaskan bahwa kerusakan pada satu pohon dapat mempengaruhi seluruh hutan, sehingga tidak ada pilihan lain selain menebang pohon yang rusak untuk melindungi ekosistem. Perusahaan layanan becak lokal, Ebisuya, memperingatkan bahwa "jumlah pohon akan berkurang secara bertahap" dan "situs wisata yang indah akan hilang" jika vandalisme terus berlanjut.
Masalah vandalisme di Arashiyama bukanlah hal baru. Pada tahun 2018, sekitar 100 batang bambu ditemukan dirusak dengan ukiran dalam bahasa Inggris, Cina, dan Korea. Namun, masalah ini meningkat secara signifikan dengan kembalinya pariwisata internasional. Jepang mencatat rekor sekitar 36,87 juta pengunjung pada tahun 2024, melampaui tingkat prapandemi. Kebijakan visa yang longgar dan nilai yen yang lemah telah menarik gelombang wisatawan, namun bersamaan dengan itu muncul pula tantangan "meiwaku tourism" atau pariwisata yang mengganggu.
Rekaman video yang beredar pada November 2025 menangkap sekelompok turis Malaysia sedang mengukir nama mereka di batang bambu di Arashiyama. Ketika ditanya oleh wartawan Jepang apakah mereka tahu tindakan tersebut dilarang, mereka menjawab bahwa mereka "tidak tahu," menunjukkan kurangnya kesadaran atau rasa hormat terhadap peraturan setempat dan warisan budaya. Ishikawa Keisuke, kepala Asosiasi Pusat Perbelanjaan Arashiyama, mengungkapkan kekecewaannya, "Pemandangan indah dirusak oleh grafiti. Meskipun menyedihkan harus menebang bambu, ini perlu untuk mencegah vandalisme peniru." Dia menyerukan agar pengunjung "meninggalkan kenangan mereka di hati mereka - bukan di bambu."
Pemerintah kota Kyoto telah mengambil beberapa langkah untuk mengatasi masalah ini, termasuk memasang rambu-rambu multibahasa yang memperingatkan wisatawan agar tidak merusak pohon dan mempertimbangkan untuk menaikkan tinggi pagar. Ada juga upaya sukarela untuk menutupi ukiran dengan selotip hijau, meskipun tindakan ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi merusak pemandangan. Yang lebih drastis, pejabat kini mempertimbangkan untuk menebang batang bambu yang rusak parah demi alasan keamanan dan untuk mencegah vandalisme lebih lanjut. Sebuah uji coba penjarangan bambu telah dilakukan untuk menjaga batang-batang tertentu di luar jangkauan pengunjung.
Masalah vandalisme di Arashiyama adalah gejala dari masalah "overtourism" yang lebih luas di seluruh Jepang, di mana situs-situs bersejarah dan alami lainnya juga mengalami tekanan serupa, mulai dari Gion di Kyoto hingga Kuil Watazumi di Tsushima. Kasus di Kuil Watazumi bahkan menyebabkan larangan total bagi sebagian besar turis, dengan pernyataan pejabat kuil bahwa "penghancuran tempat-tempat, benda-benda, dan orang-orang yang dihargai oleh Jepang oleh pariwisata masuk tidak lain adalah penghancuran budaya Jepang." Solusi jangka panjang kemungkinan akan memerlukan pendekatan multifaset, termasuk pendidikan pengunjung tentang perilaku yang bertanggung jawab, peningkatan penegakan hukum, dan potensi pengenaan denda yang lebih ketat, serupa dengan yang diterapkan di Singapura. Namun, tantangan utama tetap pada penyeimbangan manfaat ekonomi pariwisata dengan keharusan untuk melindungi warisan alam dan budaya Jepang yang tak ternilai.