
Lonjakan wisatawan yang belum pernah terjadi sebelumnya telah membanjiri Desa Shirakawa-go, Situs Warisan Dunia UNESCO di Prefektur Gifu, Jepang, menimbulkan tekanan serius pada infrastruktur lokal dan mengancam keharmonisan hidup komunitas penduduknya yang berjumlah sekitar 500 orang. Pada tahun 2024, desa yang terkenal dengan rumah-rumah tradisional gassho-zukuri beratap jerami curam ini mencatat dua juta pengunjung, dengan sekitar 1,11 juta di antaranya adalah turis internasional, angka ini meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan tahun 2014. Peningkatan dramatis ini, yang sebagian besar didorong oleh kebijakan visa yang lebih longgar, nilai tukar yen yang melemah, dan visibilitas media sosial, telah mengubah desa pegunungan yang dulunya tenang ini menjadi pusat pariwisata yang ramai, memicu kekhawatiran yang mendalam di kalangan penduduk dan otoritas setempat.
Shirakawa-go, bersama dengan desa-desa Gokayama di dekatnya, diakui sebagai Situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 1995, sebuah pengakuan tidak hanya atas kecerdikan arsitektur rumah-rumah gassho-zukuri yang berusia lebih dari 250 tahun, tetapi juga atas sistem gotong royong lama yang dikenal sebagai yui. Rumah-rumah ini, dirancang untuk menahan salju lebat, telah menjadi simbol budaya pedesaan Jepang. Sebelum penetapan Warisan Dunia, pariwisata tetap terbatas, namun pembukaan Jalan Tol Tokai-Hokuriku pada tahun 2007 secara signifikan meningkatkan aksesibilitas dan jumlah pengunjung, yang melampaui 1,5 juta pada tahun itu.
Dampak langsung dari "overtourism" ini terasa berat oleh penduduk. Sebuah survei desa tahun 2024 mengungkapkan 59,4 persen responden memiliki kesan negatif terhadap turis asing. Lalu lintas padat kini terjadi sekitar 30 hari setiap tahun di jalan utama Shirakawa yang hanya memiliki satu jalur, mempersulit perjalanan penduduk dan akses ke layanan sehari-hari. Insiden-insiden seperti perkelahian bola salju di depan rumah pribadi, pembuatan manusia salju tanpa izin, dan sampah yang berserakan, termasuk kaus kaki dan sarung tangan yang dibuang setelah salju mencair, telah mengganggu ketenangan dan privasi masyarakat. "Kami hampir mencapai batas kami," kata Hiroaki Nishimura, Ketua Asosiasi Pariwisata Shirakawa-go. Ketegangan yang meningkat antara penduduk dan pengunjung menyoroti kesulitan yang dihadapi komunitas kecil dan terpencil dalam menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi pariwisata dan kualitas hidup lokal.
Selain itu, lonjakan pengunjung membebani pelestarian fisik rumah-rumah gassho-zukuri. Pemeliharaan dan penggantian atap jerami, yang terjadi setiap 20 hingga 30 tahun, membutuhkan biaya besar, dan keausan akibat banyaknya pengunjung menimbulkan tantangan baru bagi integritas struktur bersejarah ini. Meskipun desa telah membentuk skema untuk mengamankan sumber daya keuangan dengan menyisihkan 30% dari pendapatan parkir turis untuk dana konservasi, tantangan pelestarian tetap signifikan.
Dalam menghadapi tekanan ini, Shirakawa-go telah menerapkan serangkaian langkah penanggulangan. Pada tahun 2023, desa tersebut mengadopsi kebijakan "pariwisata bertanggung jawab", mendesak pengunjung untuk mengikuti lima aturan dasar, termasuk menggunakan area parkir yang ditentukan dan berhati-hati dalam menangani api. Mulai tahun fiskal 2026, bus wisata diwajibkan melakukan reservasi di muka untuk membatasi volume pengunjung selama periode puncak. Sistem reservasi penuh untuk acara iluminasi musim dingin yang populer juga telah diberlakukan, membatasi pengunjung menjadi 5.000 per acara untuk mencegah kepadatan ekstrem. Desa juga telah mengatur lalu lintas kendaraan pribadi sejak tahun 2014, melarang akses melalui jalan desa pusat antara pukul 09:00 dan 16:00 setiap hari dan mendorong penggunaan area parkir umum di dekatnya dengan layanan bus antar-jemput.
Secara lebih luas, situasi Shirakawa-go mencerminkan tren nasional di Jepang, di mana pariwisata masuk secara keseluruhan melonjak tajam pasca-pandemi, mencapai 39,06 juta pengunjung asing dari Januari hingga November 2025. Badan Pariwisata Jepang sedang mengintensifkan upaya untuk menarik pengunjung ke daerah pedesaan, menyalurkan pariwisata menjauh dari "Rute Emas" Tokyo, Kyoto, dan Osaka yang sudah padat, dan ke wilayah-wilayah yang kurang dikenal. Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan budaya, memastikan bahwa kekayaan warisan Jepang dapat dinikmati oleh generasi mendatang tanpa mengorbankan komunitas lokal.