
Seekor orangutan betina berusia 14 tahun bernama Jennifer dari Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor telah tiba di Kebun Binatang Tobe, Prefektur Ehime, Jepang, pada 11 Desember 2025, untuk program perjodohan kooperatif dengan orangutan jantan bernama Hayato. Kedatangan Jennifer merupakan puncak dari upaya konservasi lintas negara yang bertujuan memperkuat populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terancam punah melalui peningkatan keanekaragaman genetik di penangkaran.
Inisiatif ini menegaskan komitmen Indonesia dan Jepang dalam menjaga kelangsungan hidup spesies kunci. Gubernur Prefektur Ehime, Tokihiro Nakamura, secara pribadi terlibat dalam proses perizinan yang memakan waktu tiga tahun, berkoordinasi langsung dengan Kementerian Kehutanan dan BKSDA Indonesia. Nakamura mengungkapkan antusiasmenya terhadap kedatangan Jennifer, bahkan berencana mengadakan "resepsi pernikahan" bagi kedua orangutan tersebut pada musim panas mendatang, menyoroti tingkat perhatian yang diberikan pada program ini.
Orangutan Kalimantan, spesies Jennifer, diklasifikasikan sebagai "Sangat Terancam Punah" (Critically Endangered) dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Ancaman utamanya mencakup hilangnya habitat akibat konversi hutan untuk perkebunan kelapa sawit, penebangan liar, pertambangan, kebakaran hutan, serta perburuan ilegal dan konflik dengan manusia. Data tahun 2016 menunjukkan bahwa populasi orangutan Kalimantan di alam liar tersisa sekitar 57.350 hingga 71.820 individu, sebuah penurunan drastis sekitar 80% dari estimasi 288.500 individu pada tahun 1973. Populasi orangutan di penangkaran di Jepang saat ini berjumlah 26 ekor, menjadikan program Cooperative Breeding ini krusial untuk menjaga viabilitas genetik.
Founder TSI, Jansen Manansang, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah satwa, tetapi juga mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Jepang, khususnya dalam aspek riset konservasi. Jepang akan memberikan dukungan teknologi, sementara Indonesia berkontribusi dengan keanekaragaman hayatinya. TSI sendiri memiliki rekam jejak kolaborasi dengan beberapa kebun binatang di Jepang, termasuk Taman Zoologi Tama, Kebun Binatang Ueno, dan Kebun Binatang Sapporo Maruyama, yang menunjukkan pola kerja sama jangka panjang.
Saat ini, Jennifer tengah menjalani masa karantina dan adaptasi di lingkungan barunya yang bersalju, meskipun perjodohan dengan Hayato, yang berusia antara 10-15 tahun, direncanakan berlangsung pada musim panas. Kebun Binatang Tobe telah menyiapkan kandang gajah yang tidak terpakai dan merenovasinya khusus untuk proses perjodohan ini. Eriko Inoue, pengasuh Jennifer di Tobe Zoo, melaporkan bahwa Jennifer telah mulai beradaptasi dengan baik, menikmati makanan seperti jeruk mandarin dan kesemek. Inoue berharap kehadiran Jennifer dapat meningkatkan kesadaran publik Jepang tentang kondisi kritis orangutan liar di ambang kepunahan. Harapan besar disematkan pada pasangan Jennifer dan Hayato untuk menghasilkan keturunan, yang akan menjadi kontribusi vital bagi konservasi genetik orangutan di penangkaran global.