Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menpar Bangga: Bali Sabet Gelar Destinasi Terbaik Dunia, Indonesia Kian Kokoh Jadi Magnet Wisata Global

2026-01-17 | 03:09 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T20:09:51Z
Ruang Iklan

Menpar Bangga: Bali Sabet Gelar Destinasi Terbaik Dunia, Indonesia Kian Kokoh Jadi Magnet Wisata Global

Penobatan Bali sebagai destinasi terbaik kedua di dunia oleh TripAdvisor Travelers' Choice Awards 2025 dan predikat destinasi paling romantis secara global dua tahun berturut-turut dari World Travel Awards, menggarisbawahi posisi strategis pulau ini sebagai jantung pariwisata Indonesia dan magnet global. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Widiyanti Putri Wardhana menekankan bahwa capaian tersebut memvalidasi upaya Indonesia dalam membangun sektor pariwisata yang tidak hanya menarik kunjungan, tetapi juga menawarkan pengalaman berkualitas tinggi dan berkelanjutan bagi wisatawan.

Transformasi Bali menjadi ikon pariwisata global bukan fenomena baru. Sejak pertengahan abad ke-20, daya tarik budaya Hindu yang kental, keindahan alam, dan keramahan penduduk telah menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Namun, lonjakan pengunjung pascapandemi COVID-19 telah mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk meninjau ulang model pariwisata, beralih dari fokus kuantitas menuju pariwisata berkualitas yang memprioritaskan keberlanjutan dan pelestarian budaya.

Pada tahun 2024, Bali mencatat rekor kunjungan lebih dari 6,3 juta wisatawan internasional, melampaui angka prapandemi sebesar 6,28 juta pada tahun 2019, sementara total pengunjung domestik dan internasional mencapai 16,4 juta jiwa. Proyeksi untuk tahun 2025 menargetkan 6,5 juta hingga 6,8 juta kedatangan internasional. Australia tetap menjadi pasar utama dengan kontribusi 24,78% dari seluruh kedatangan pada tahun 2024, diikuti oleh India sebesar 9,76% dan Tiongkok 5,75%. Peningkatan konektivitas udara dan strategi pemasaran yang efektif, seperti kampanye "Wonderful Indonesia", "Keep the Wonder", dan #diIndonesiaAja, turut berperan dalam peningkatan angka ini.

Meskipun kesuksesan ini mengukuhkan citra Indonesia di mata dunia, Bali menghadapi tantangan serius akibat overtourism. Salah satu isu krusial adalah pengelolaan sampah, dengan hanya 48% sampah yang terkelola dengan baik dan sekitar 33.000 ton sampah plastik mencemari lingkungan setiap tahunnya. Kemacetan lalu lintas menjadi masalah lain, terutama di Bali Selatan, dengan lebih dari 5,31 juta kendaraan terdaftar pada awal tahun 2025. Krisis air juga mengancam, di mana lebih dari 65% air tawar Bali dialokasikan untuk sektor pariwisata, mengakibatkan separuh dari 400 sungai di pulau itu mengering.

Menanggapi tekanan ini, pemerintah telah mengambil langkah konkret. Sejak 14 Februari 2024, pungutan wisata sebesar IDR 150.000 diberlakukan bagi setiap wisatawan internasional, dengan dana yang terkumpul mencapai IDR 318 miliar (sekitar USD 19,2 juta) pada tahun 2024, melampaui target awal. Dana ini dialokasikan untuk pelestarian budaya dan lingkungan alam Bali. Selain itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di bawah kepemimpinan Widiyanti Putri Wardhana, dengan didukung Wakil Menteri Ni Luh Puspa, secara aktif mempromosikan inisiatif pariwisata berkualitas dan berkelanjutan sejak tahun 2024. Ini mencakup upaya untuk mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan berinteraksi lebih dalam dengan budaya lokal, serta mengembangkan destinasi di luar kantong-kantong pariwisata utama seperti Jatiluwih yang telah diakui sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik oleh UN Tourism pada tahun 2024.

Ke depan, strategi "Bali dan Sekitarnya" menjadi fokus utama pemerintah untuk mendistribusikan manfaat pariwisata dan mengurangi beban di Bali, melalui pengembangan destinasi Super Prioritas lainnya di seluruh nusantara. Upaya ini selaras dengan visi Menteri Widiyanti Putri Wardhana yang menargetkan 14,6 juta hingga 16 juta kunjungan wisatawan internasional ke Indonesia pada tahun 2025, sekaligus menekankan pentingnya pemasaran yang efektif dan pembangunan berkelanjutan. Meskipun demikian, tantangan keberlanjutan, terutama terkait infrastruktur dan lingkungan, memerlukan pengawasan berkelanjutan dan komitmen kolektif dari semua pihak untuk memastikan Bali tetap menjadi "Paradise on Earth" yang mempesona, selaras dengan semangat melestarikan warisan budaya dan alamnya.