Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak 10 Destinasi Ramah Muslim Asia Paling Berpotensi 2026: Permata Tersembunyi Terkuak

2026-01-17 | 06:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T23:42:38Z
Ruang Iklan

Menguak 10 Destinasi Ramah Muslim Asia Paling Berpotensi 2026: Permata Tersembunyi Terkuak

Pariwisata ramah Muslim di Asia menunjukkan pergeseran signifikan menuju destinasi yang sebelumnya kurang dikenal, dengan Siem Reap di Kamboja dan Galle di Sri Lanka muncul sebagai pusat perhatian baru pada tahun 2026, didorong oleh peningkatan infrastruktur dan komitmen lokal terhadap kebutuhan pelancong Muslim. Laporan Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025 mencatat pertumbuhan jumlah wisatawan Muslim internasional mencapai 176 juta orang pada tahun 2024, melonjak 25 persen dari tahun sebelumnya, dan diproyeksikan mencapai 245 juta wisatawan pada tahun 2030, dengan estimasi belanja wisata sebesar USD 230 miliar. Tren ini mendorong kota-kota di luar pusat wisata konvensional untuk mengadaptasi layanan dan fasilitas mereka, memperlihatkan potensi ekonomi yang belum sepenuhnya tergali.

Pergeseran dinamika ini berakar pada meningkatnya kesadaran global akan potensi pasar pariwisata halal yang signifikan sejak awal dekade 2010-an. Meskipun negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia dan Malaysia secara konsisten menduduki peringkat teratas dalam GMTI, bahkan Malaysia berada di garis depan GMTI sejak 2015, dan Indonesia pernah memuncaki peringkat pada 2019, kini lanskapnya melebar. Negara-negara non-Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Asia mulai berinvestasi serius dalam pengembangan ekonomi halal. Thailand, misalnya, menargetkan pendapatan hingga Rp 2,4 triliun per tahun dari sektor halal, dengan peta jalan yang solid menuju ASEAN Halal Hub 2027. Pemerintah Thailand secara aktif mendorong sertifikasi "Muslim-Friendly Hotel" agar pelaku industri non-Muslim dapat berpartisipasi aktif, serta mengembangkan lima subsektor strategis: makanan, kosmetik, farmasi, modest fashion, dan pariwisata halal. Kesadaran ini merangsang inovasi dan adaptasi yang mendalam di berbagai kota yang berupaya menarik segmen pasar yang berkembang pesat ini.

AsiaOne, melalui indeksnya yang mengukur tujuh elemen penting bagi wisatawan Muslim termasuk kemudahan makanan halal, akses salat, dan penginapan ramah Muslim, menyoroti beberapa permata tersembunyi. Siem Reap, Kamboja, yang dikenal sebagai gerbang menuju Angkor Wat, kini menawarkan warisan Islam yang tak terduga berkat komunitas Muslim Cham lokal. Masjid Neak Mah dan desa Muslim ramah di Steung Thmey menjadi pusat bagi wisatawan Muslim, menawarkan makanan halal otentik mulai dari kari Amok Kamboja hingga daging panggang sederhana, serta kedekatan dengan situs-situs kuno. Pengunjung didorong membawa sajadah untuk salat yang tenang di halaman Angkor Wat, menunjukkan adaptasi praktis dalam berwisata.

Di sisi lain Samudra Hindia, Galle di Sri Lanka, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO dengan benteng kuno bergaya Eropa, menampilkan komunitas Muslim Moor yang telah tinggal di sana selama beberapa generasi. Kota berbenteng ini memungkinkan wisatawan berjalan kaki dari mercusuar ke Masjid Meera sambil menikmati makanan ringan halal atau gelato, sebuah pengalaman yang kontras dengan hiruk pikuk ibu kota Kolombo. Perkembangan serupa terlihat di Hua Hin, Thailand, yang meskipun merupakan negara mayoritas non-Muslim, berkat permukiman pekerja kereta api Muslim historis, area di belakang Stasiun Kereta Api Hua Hin kini menjadi destinasi ramah Muslim dengan Masjid Nurul Ehsan dan pasar malam yang melimpah makanan laut.

Filipina juga menunjukkan peningkatan signifikan, dengan Manila diakui sebagai "Destinasi Ramah Muslim yang Sedang Berkembang Tahun Ini" karena upaya antusiasnya menyambut wisatawan halal. Distrik Intramuros dan Quiapo, rumah bagi Masjid Emas (Masjid Al-Dahab), kini menjadi pusat kuliner dan budaya Muslim yang ramai. Peningkatan kapasitas Filipina dalam melayani pelancong Muslim melalui akses makanan halal yang lebih baik dan fitur ramah Muslim di situs-situs wisata utama terus berkembang. Hong Kong muncul sebagai destinasi non-OKI terkemuka, menempati peringkat ketiga dalam GMTI 2025, setelah berinvestasi signifikan dalam infrastruktur ramah Muslim, termasuk 61 hotel terakreditasi CrescentRating dan 153 restoran bersertifikat halal.

Lebih jauh ke barat, Asia Tengah menawarkan permata historis dengan populasi Muslim yang besar. Kazakhstan, dengan Islam sebagai agama mayoritas, memiliki suasana Islami yang kental di kota-kota seperti Astana (Nur-Sultan) dan Almaty, dilengkapi masjid indah, restoran halal, dan tempat salat di area umum. Demikian pula Uzbekistan, yang dulunya merupakan bagian penting dari Jalur Sutra, kaya akan warisan Islam di kota-kota seperti Samarkand, Bukhara, dan Khiva, dengan arsitektur Islam megah dan makanan halal yang tersedia luas. Pemerintah Indonesia sendiri, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, terus mendorong pariwisata syariah, dengan provinsi seperti Aceh yang melakukan langkah-langkah strategis mengemas potensi alam dan budayanya dalam bingkai standar pelayanan internasional yang syar'i, menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai pusat edukasi arsitektur dan sejarah Islam di Asia Tenggara yang dilengkapi teknologi panduan digital multibahasa.

Pertumbuhan segmen ini mencerminkan kebutuhan fundamental wisatawan Muslim untuk berlibur tanpa mengabaikan nilai-nilai keagamaan mereka. Tantangan ke depan termasuk menjaga otentisitas pengalaman lokal sembari memenuhi standar halal internasional, serta memastikan keberlanjutan pengembangan pariwisata. Keterlibatan pemerintah dalam sertifikasi produk dan layanan, serta promosi terpadu, menjadi krusial untuk menarik investasi dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor ini. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat diharapkan dapat mentransformasi kota-kota ini dari "permata tersembunyi" menjadi destinasi ramah Muslim yang berdaya saing global, memberikan dampak ekonomi positif yang signifikan melalui peningkatan lapangan kerja dan pendapatan daerah.