
Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia mengusulkan agar Provinsi Banten mengadopsi model promosi wisata transit seperti yang diterapkan Singapura dan Turki, menjadikan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) sebagai etalase utama. Usulan ini disampaikan Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, di Pendopo Gubernur Banten pada Jumat, 16 Januari 2026, menyayangkan minimnya promosi potensi wisata Banten di bandara tersibuk di Indonesia tersebut.
Evita Nursanty menekankan pentingnya memanfaatkan lokasi Bandara Soetta yang berada di wilayah Banten untuk meningkatkan branding pariwisata daerah. Beliau menyarankan pemanfaatan teknologi digital seperti videotron atau layar LCD besar untuk menampilkan video singkat berdurasi tiga menit yang memikat mengenai destinasi wisata unggulan Banten. Strategi ini dinilai efektif untuk menarik minat wisatawan mancanegara, terutama mereka yang memiliki waktu transit cukup lama. Singapura dan Turki berhasil menerapkan konsep tur kota gratis (free city tour) bagi penumpang transit, yang memperkenalkan potensi pariwisata mereka.
Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, menyambut baik rekomendasi tersebut, namun menekankan bahwa pembenahan tata ruang menjadi krusial sebelum promosi digencarkan. Menurut Dimyati, kawasan pariwisata harus steril dari polusi industri agar layak dijual kepada wisatawan asing yang datang melalui bandara. Komisi VII DPR juga menyoroti masalah tata ruang di Banten yang masih tumpang tindih.
Potensi Banten dalam sektor pariwisata sangat besar, didukung oleh beragam destinasi mulai dari pantai seperti Anyer dan Tanjung Lesung, hingga wisata budaya dan religi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten menunjukkan kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) ke Banten mencapai 3,78 juta perjalanan pada November 2024, naik 4,20 persen dibandingkan November 2023. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke Banten pada Oktober 2025 mencapai 254.968 kunjungan, naik 16,87 persen dibandingkan Oktober 2024. Meskipun demikian, rata-rata lama menginap tamu hotel bintang di Banten pada September 2025 hanya mencapai 1,29 malam.
Meskipun memiliki potensi, pengembangan pariwisata Banten menghadapi sejumlah tantangan, termasuk infrastruktur yang belum memadai, kurangnya promosi yang efektif, serta kebutuhan akan kesadaran masyarakat atau sadar wisata. Bank Indonesia (BI) bahkan mengidentifikasi sektor pariwisata sebagai solusi utama masalah ekonomi di Banten, dengan menekankan perlunya koordinasi antar-instansi dan pendekatan budaya untuk membangkitkan kesadaran masyarakat.
Integrasi sistem transportasi yang efisien dan terintegrasi menjadi fondasi penting untuk mendukung sektor pariwisata Indonesia secara keseluruhan, termasuk Banten. Bandara Soekarno-Hatta sendiri menunjukkan komitmennya dalam pelestarian ekosistem maritim di pesisir Banten melalui program "InJourney Airports Alam Lestari" di Tanjung Lesung, yang bertujuan merehabilitasi terumbu karang dan menghidupkan pariwisata bahari berkelanjutan, dengan alokasi dana hingga Rp120.000.000 untuk konservasi terumbu karang pada 2025. Inisiatif ini juga melibatkan masyarakat lokal dalam upaya pelestarian.
Pengembangan pariwisata transit di Banten memerlukan sinergi kuat antara pemerintah daerah, pengelola bandara, dan pelaku industri pariwisata. Membangun konektivitas yang lancar dari Bandara Soetta ke destinasi wisata terdekat, seperti desa wisata unggulan di Pandeglang yang menawarkan pengalaman edukatif dan alami, dapat menjadi langkah awal. Perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Banten dapat ditempuh melalui bus atau taksi. Dengan potensi yang besar dan dorongan kebijakan dari legislatif, masa depan Banten sebagai gerbang pariwisata transit yang terintegrasi membutuhkan implementasi strategi yang komprehensif dan berkelanjutan.