:strip_icc()/kly-media-production/medias/3207885/original/047376500_1597304891-bts6.jpg)
Ketika grup idola global BTS bersiap untuk menggelar konser reuni penuh pertama mereka dalam empat tahun di Busan pada 12 dan 13 Juni 2026, lima bulan dari sekarang, tarif kamar hotel di kota pelabuhan bagian tenggara Korea Selatan itu telah melonjak hingga lebih dari sepuluh kali lipat dari harga normal, memicu kemarahan di kalangan penggemar dan menimbulkan pertanyaan tentang praktik penetapan harga di industri pariwisata. Beberapa properti dilaporkan menaikkan harga hingga sepuluh kali lipat dan bahkan meminta tamu dengan pemesanan yang sudah ada untuk membatalkan agar mereka dapat menjual kembali kamar dengan tarif yang lebih tinggi.
Kenaikan harga ini bukan fenomena baru di Busan saat acara besar. Pada Oktober 2022, ketika BTS mengadakan konser gratis "Yet to Come in Busan" untuk mendukung tawaran kota tersebut menjadi tuan rumah World Expo 2030, akomodasi di dekat lokasi konser ditemukan mengenakan harga 20 hingga 30 kali lipat dari tarif biasanya. Situasi ini memicu banyaknya keluhan dan kritik di kalangan penggemar, atau yang dikenal sebagai ARMY.
Konser yang akan datang memiliki makna khusus karena akan menjadi penampilan grup lengkap pertama setelah semua anggota menyelesaikan wajib militer mereka. Busan adalah satu-satunya lokasi domestik di luar Seoul untuk tur ini, dan tanggal 13 Juni bertepatan dengan ulang tahun debut BTS. Selain itu, Busan adalah kampung halaman anggota Jimin dan Jung Kook, yang semakin meningkatkan permintaan dari ARMY domestik maupun internasional.
Hanya dalam beberapa jam setelah jadwal konser diumumkan, banyak hotel di kawasan wisata utama seperti Haeundae, Gwangalli, dan Gijang sudah terjual habis di platform pemesanan lokal. Kamar-kamar yang tersisa menunjukkan kenaikan harga yang tajam. Sebagai contoh, sebuah fasilitas penginapan di Distrik Dongnae yang biasanya mengenakan biaya 68.000 won per malam pada 10 Juni, menetapkan tarifnya menjadi 769.000 won untuk 12 dan 13 Juni, menunjukkan kenaikan lebih dari sepuluh kali lipat. Properti lain di Kabupaten Gijang menaikkan tarifnya dari 98.000 won pada 10 Juni menjadi 502.000 won pada 12 Juni dan 431.000 won pada 13 Juni. Sebuah hotel bintang lima yang mengenakan biaya sekitar 330.000 won ($224) per malam pada minggu sebelumnya, kini memasang harga lebih dari 1 juta won untuk kamar yang sama selama periode konser. Bahkan akomodasi kelas menengah di Busanjin District yang biasanya sekitar 60.000 hingga 90.000 won per malam telah menetapkan tarif di atas 500.000 won pada hari-hari konser, dengan beberapa hotel kecil memasang harga lebih dari 1,4 juta won untuk satu malam.
Kemarahan publik juga dipicu oleh laporan bahwa beberapa hotel mengirim pesan kepada tamu dengan pemesanan yang sudah ada, meminta mereka untuk membatalkan dengan alasan "permintaan konser BTS" agar kamar dapat dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Seorang tamu membagikan tangkapan layar pesan teks dari sebuah hotel yang menyatakan bahwa setelah pengumuman konser BTS di Busan, mereka menerima ratusan pemesanan pada saat yang bersamaan, menyiratkan adanya tekanan untuk membatalkan pemesanan awal.
Pemerintah Korea Selatan telah memperhatikan masalah penetapan harga yang berlebihan di tempat-tempat wisata. Tahun lalu, Presiden Lee Jae-myung secara umum menginstruksikan para pejabat untuk menyusun langkah-langkah mengatasi praktik penetapan harga yang berlebihan bagi wisatawan, memperingatkan bahwa praktik semacam itu merusak pariwisata regional dan citra negara. Ketika kontroversi serupa muncul pada konser BTS tahun 2022, pemerintah kota Busan mengoperasikan pusat pelaporan harga akomodasi dan melakukan inspeksi di lokasi, menuntut tindakan korektif.
Meskipun demikian, para pejabat kota menyatakan bahwa tangan mereka sebagian besar tetap terikat. Undang-undang saat ini memungkinkan hotel dan wisma untuk menetapkan tarif secara bebas, sehingga sulit untuk menghukum perusahaan hanya karena menaikkan harga selama puncak permintaan. Pihak berwenang hanya dapat campur tangan ketika operator secara sepihak membatalkan reservasi yang sudah dikonfirmasi atau memaksa tamu untuk membayar biaya tambahan, yang dapat mengakibatkan sanksi administratif.
Meskipun konser BTS menghadirkan dorongan ekonomi yang besar, dengan perkiraan dampak ekonomi dari konser mereka sebelumnya mencapai ratusan juta hingga miliaran dolar bagi kota tuan rumah, praktik penetapan harga yang berlebihan berisiko mengikis niat baik dan merusak reputasi jangka panjang Busan sebagai tujuan wisata. Kekhawatiran ini mencerminkan dilema yang lebih luas antara memanfaatkan acara mega-wisata untuk keuntungan ekonomi dan menjaga pengalaman konsumen serta citra pariwisata nasional.