Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

9 Permata Tersembunyi Kulon Progo Jogja: Jelajahi Pesona yang Belum Terjamah

2026-01-16 | 20:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T13:05:27Z
Ruang Iklan

9 Permata Tersembunyi Kulon Progo Jogja: Jelajahi Pesona yang Belum Terjamah

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tengah serius menggarap potensi pariwisata yang tersebar di wilayahnya, khususnya destinasi yang masih jarang terjamah, sebagai bagian dari strategi untuk mendiversifikasi daya tarik wisatawan dan mendorong ekonomi lokal. Dengan beroperasinya Yogyakarta International Airport (YIA), aksesibilitas ke kabupaten ini meningkat signifikan, membuka peluang bagi "hidden gems" untuk dikenal lebih luas. Pergeseran preferensi wisatawan global menuju pengalaman otentik dan alami menjadi momentum bagi Kulon Progo untuk menonjolkan keindahan alam dan kekayaan budayanya yang tersembunyi.

Upaya pengembangan pariwisata Kulon Progo berlandaskan pemberdayaan masyarakat, sebuah pendekatan yang telah membuahkan hasil, terbukti dari pengakuan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) selama empat tahun berturut-turut. "Kulon Progo itu sudah menetapkan pembangunan pariwisatanya berbasis pemberdayaan masyarakat," kata Joko Mursito, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo, pada Juni 2024. Fokus pada pengembangan homestay dan aktivitas "live-in" yang berbaur dengan masyarakat lokal menjadi inti dari konsep ini.

Sejumlah destinasi menawarkan pesona yang belum banyak diketahui publik. Pantai Congot, misalnya, menyuguhkan pemandangan senja eksotis di pertemuan muara Sungai Bogowonto dengan Samudra Hindia, lengkap dengan hamparan pasir hitam yang unik dan suasana tenang ideal untuk memancing dan relaksasi. Pantai ini, bersama Pantai Glagah, menjadi primadona dengan kunjungan hampir 600.000 wisatawan setiap tahunnya. Bergeser ke perbukitan Menoreh, Air Terjun Kedung Pedut memukau dengan kolam alami dua warna—hijau toska dan putih jernih—dikelilingi hutan lebat, menawarkan sensasi berenang yang menyegarkan. Air terjun lainnya seperti Curug Sidoharjo atau Kembang Soka juga menawarkan keindahan alam serupa.

Tidak hanya air terjun, bentang alam perbukitan Menoreh juga menyimpan puncak-puncak dengan panorama menakjubkan. Puncak Kleco, Puncak Widosari, dan Puncak Gunung Lanang menawarkan pemandangan Pegunungan Menoreh yang hijau, bahkan samar-samar terlihat deburan ombak Samudra Hindia. Sementara itu, Goa Kebon di Desa Krembangan, Panjatan, menyajikan kombinasi gua alami dan air terjun setinggi lima meter di tengah kebun rimbun, yang diyakini memiliki nilai sejarah sebagai tempat Kiai Abdul Soleh mengajar murid-muridnya sejak tahun 1510. Ada pula Tebing Gunung Gajah yang menawarkan suasana asri dan sejuk.

Meskipun potensi besar, pengembangan pariwisata Kulon Progo menghadapi sejumlah tantangan. Data Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo menunjukkan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) wisata pada tahun 2024 mencapai Rp7,37 miliar, sekitar 84,27 persen dari target Rp8,7 miliar. Angka kunjungan wisatawan juga mengalami sedikit penurunan pada 2024, terutama di destinasi Perbukitan Menoreh karena cuaca hujan yang membuat akses jalan rawan, serta di Pantai Trisik akibat jembatan rusak dan abrasi. Sekretaris Dinas Pariwisata Kulon Progo, Trusta Hendraswara, mengakui bahwa kondisi cuaca dan kendala infrastruktur jalan menjadi faktor signifikan. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam hal kefasihan bahasa, sertifikasi pemandu wisata, hingga fasilitas pariwisata masih menjadi pekerjaan rumah.

Penjabat Bupati Kulon Progo, R. Agung Setyawan, pada November 2025 menekankan pentingnya intervensi kebijakan sebagai "trigger" atau daya ungkit bagi pengembangan desa wisata. Ia juga menyoroti perlunya peningkatan kemampuan pengelola dalam menyusun "storytelling" dan mengoptimalkan media sosial untuk promosi, serta pentingnya menjaga kebersihan, kenyamanan, dan pelayanan terbaik bagi pengunjung. Dinas Pariwisata Kulon Progo melalui program "Sambanggo" telah aktif menyelenggarakan pelatihan pemasaran digital dan pengelolaan desa wisata yang didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk meningkatkan kapasitas SDM kepariwisataan lokal.

Melihat ke depan, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sedang menyusun Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) periode 2026–2045. Dokumen ini bertujuan menjadi panduan pembangunan pariwisata berkelanjutan, meningkatkan PAD, memperluas kesempatan usaha, dan menciptakan lapangan kerja. Bupati Agung Setyawan menyatakan optimismenya bahwa RIPPARDA akan memperkuat fondasi pembangunan berbasis pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan, menarik minat investor, serta memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan komitmen pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat, Kulon Progo berupaya untuk menyeimbangkan promosi destinasi tersembunyi dengan prinsip keberlanjutan, memastikan keindahan yang jarang terjamah ini dapat dinikmati secara bertanggung jawab oleh generasi mendatang.