:strip_icc()/kly-media-production/medias/4775045/original/014399900_1710647684-lukas-souza-5KRFOTnpnnY-unsplash.jpg)
Tiga ratus satu penumpang Singapore Airlines (SIA) penerbangan SQ661 tujuan Singapura mengalami penundaan parah di Bandara New Chitose, Sapporo, Jepang, pada Sabtu, 10 Januari 2026, setelah pesawat Airbus A350-900 yang mereka tumpangi terpaksa kembali ke bandara asal karena masalah teknis, menjebak mereka di dalam kabin selama lebih dari enam jam sebelum akhirnya diturunkan. Insiden ini memicu keluhan serius dari penumpang mengenai kondisi di dalam pesawat dan lambatnya proses penanganan di darat.
Penerbangan SQ661 awalnya dijadwalkan berangkat dari Sapporo pukul 10.14 pagi waktu setempat. Namun, sekitar satu jam setelah mengudara, masalah teknis terdeteksi pada pesawat, memaksa pilot untuk melakukan pendaratan kembali darurat di Bandara New Chitose pada pukul 11.30 pagi waktu setempat. Alih-alih segera diturunkan, pesawat ditempatkan di area parkir terpencil di bandara, dengan 301 penumpang tetap berada di dalam kabin sementara teknisi berusaha menyelidiki dan memperbaiki masalah.
Para penumpang melaporkan kondisi yang tidak nyaman di dalam pesawat selama penantian panjang tersebut. Pendingin udara dilaporkan mati untuk beberapa waktu, menyebabkan kabin terasa panas dan pengap. Seorang penumpang mengeluhkan kurangnya sirkulasi udara dan bahkan menyebut beberapa orang merasa sesak napas. Harapan untuk melanjutkan penerbangan pada sore hari memudar seiring berjalannya waktu. Pada pukul 14.15 waktu setempat, Singapore Airlines akhirnya membatalkan penerbangan SQ661 untuk hari itu.
Meskipun penerbangan dibatalkan, proses penurunan penumpang tidak berjalan cepat. Keterbatasan bus antar-jemput di Bandara New Chitose, yang disebabkan oleh musim puncak perjalanan musim dingin di Sapporo, menjadi kendala signifikan. Hanya satu bus yang beroperasi pada satu waktu, mengangkut sekitar 20 penumpang per perjalanan, sehingga kelompok penumpang terakhir baru dapat turun dari pesawat pada pukul 17.00 waktu setempat, atau bahkan setelah pukul 17.30, lebih dari lima jam setelah pesawat mendarat kembali. Setelah berhasil turun, penumpang menghadapi kebingungan lebih lanjut di terminal bandara mengenai pengaturan hotel, penjadwalan ulang penerbangan, dan pengambilan bagasi, dengan beberapa di antaranya baru menerima arahan jelas pada larut malam.
Menanggapi insiden tersebut, juru bicara Singapore Airlines menyampaikan permintaan maaf atas penundaan dan ketidaknyamanan yang dialami penumpang. Maskapai mengonfirmasi bahwa ketersediaan bus ramp di Sapporo terbatas karena kepadatan lalu lintas musiman. SIA menyatakan telah mengatur akomodasi hotel, makanan, transportasi darat jika memungkinkan, serta membantu proses penjadwalan ulang penerbangan. Penerbangan yang terganggu tersebut akhirnya dijadwalkan ulang sebagai SQ9661 dan berangkat keesokan paginya, 11 Januari, tiba di Singapura pada pukul 18.24 waktu setempat, lebih dari 24 jam setelah jadwal keberangkatan semula.
Insiden ini menyoroti tantangan berkelanjutan dalam manajemen krisis dan hak-hak penumpang di industri penerbangan, terutama terkait penundaan di landasan (tarmac delay). Aturan penerbangan internasional memiliki standar yang bervariasi. Misalnya, di Amerika Serikat, pesawat dilarang berada di landasan pacu selama lebih dari empat jam tanpa memberikan kesempatan kepada penumpang untuk turun, kecuali ada masalah keamanan atau keselamatan. Sementara itu, peraturan Uni Eropa, EC 261/2004, memungkinkan penumpang untuk mengklaim kompensasi hingga €600 untuk keterlambatan lebih dari tiga jam, kecuali jika disebabkan oleh "keadaan luar biasa" seperti cuaca buruk atau pemogokan di luar kendali maskapai. Namun, Singapura sendiri belum mengadopsi kerangka kerja universal serupa dan lebih mengandalkan kontrak maskapai dengan penumpang. Indonesia memiliki Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 89 Tahun 2015 yang mengatur kompensasi bagi penumpang, termasuk makanan dan minuman untuk penundaan di atas 180 menit, dan kompensasi uang tunai sebesar Rp 300.000 untuk penundaan lebih dari 240 menit.
Meskipun Singapore Airlines memiliki rencana kontingensi penundaan di landasan yang mencakup penyediaan makanan, fasilitas toilet, dan bantuan medis selama penundaan, serta pemberitahuan status setiap 30 menit, insiden di Sapporo menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih menghadapi hambatan. Ini bukan insiden terisolasi; pada September 2023, penerbangan Singapore Airlines SQ833 dari Shanghai ke Singapura juga mengalami penundaan delapan jam di landasan karena masalah teknis, dengan penumpang melaporkan matinya pendingin udara dan lambatnya proses penurunan. Pola insiden serupa menggarisbawahi perlunya maskapai untuk tidak hanya memiliki prosedur yang jelas, tetapi juga memastikan kapasitas operasional di bandara mitra memadai untuk menangani gangguan secara efisien, terutama selama musim puncak perjalanan. Kegagalan dalam komunikasi yang konsisten dan penyediaan fasilitas dasar selama penundaan yang berkepanjangan dapat merusak reputasi maskapai dan mengikis kepercayaan penumpang, meskipun masalah teknis terkadang tidak dapat dihindari.