
Pengelola Desa Adat Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, memberlakukan penutupan sementara bagi wisatawan sejak 16 Januari 2026, menyusul kondisi cuaca ekstrem yang menyebabkan pohon tumbang di jalur trekking. Keputusan ini diambil untuk menjamin keselamatan pengunjung setelah hujan lebat dan angin kencang melanda wilayah pegunungan tersebut.
Pekerja pariwisata setempat, Obhy Dermawan, mengonfirmasi bahwa kondisi cuaca saat ini tidak aman untuk aktivitas wisata, dengan beberapa pohon besar tumbang menghalangi akses jalan menuju desa yang berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Aloysius, seorang pejabat terkait, menambahkan bahwa hujan dan angin kencang telah menyebabkan banyak pohon tumbang di sepanjang rute menuju destinasi yang sering dijuluki "surga di atas awan" tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang periode 17-23 Januari 2026. Prediksi BMKG menyebutkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang di sebagian besar wilayah, termasuk Manggarai. Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi NTT, Alpin Palute, sebelumnya telah memprediksi puncak musim hujan di NTT akan terjadi pada Januari hingga Februari 2026 dengan curah hujan di atas normal, meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Penutupan ini bukan kali pertama bagi Wae Rebo. Desa adat ini pernah ditutup sementara pada September 2025 akibat tanah longsor yang menutup jalur trekking setelah hujan deras berhari-hari. Pada Januari 2025, penutupan serupa juga diberlakukan karena jalur pendakian menjadi licin dan berbahaya akibat curah hujan tinggi, dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Aloisius Jebarut, menekankan bahwa keputusan tersebut demi menjaga keselamatan wisatawan. Frekuensi penutupan ini menyoroti kerentanan Wae Rebo terhadap kondisi cuaca ekstrem, terutama mengingat lokasi geografisnya yang terpencil dan jalur akses yang menantang sejauh 5 kilometer.
Implikasi dari penutupan ini meluas pada sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Wae Rebo, yang terkenal dengan tujuh rumah adat Mbaru Niang berbentuk kerucutnya, menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya. Terhentinya kunjungan secara otomatis menghentikan aliran pendapatan bagi masyarakat desa yang sebagian besar menggantungkan hidup dari pariwisata, termasuk penyedia jasa homestay, pemandu lokal, dan penjualan kerajinan tangan.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, melalui Bupati Edistasius Endi, telah mengambil langkah proaktif dengan mengeluarkan tujuh poin imbauan kewaspadaan cuaca ekstrem pada 15 Januari 2026. Imbauan tersebut meminta pemerintah kecamatan, kelurahan, dan desa untuk memantau wilayah rawan banjir dan longsor, serta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat, angin kencang, petir, dan gelombang laut tinggi, serta menghindari aktivitas berisiko di bantaran sungai dan lereng perbukitan. Ini menunjukkan kesadaran pemerintah daerah akan risiko bencana hidrometeorologi yang meningkat di seluruh Flores. Bahkan desa wisata lain di dekatnya, Wae Lolos, mengalami kerusakan gapura ikoniknya akibat pohon tumbang dihantam cuaca ekstrem pada 12 Januari 2026.
Ke depan, manajemen risiko bencana pariwisata di Wae Rebo memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif. Meskipun sudah tersedia helipad untuk kondisi darurat, upaya mitigasi jangka panjang untuk jalur trekking dan edukasi pengunjung mengenai risiko cuaca menjadi krusial. Keterlibatan Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo dalam tata kelola pariwisata menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan, namun tantangan pembiayaan dan pemeliharaan infrastruktur tetap menjadi perhatian utama. Keseimbangan antara daya tarik unik budaya dan alam Wae Rebo dengan kebutuhan akan keamanan dan kelestarian lingkungan menjadi krusial dalam menghadapi pola cuaca yang semakin tidak menentu.