
Pembangunan infrastruktur transportasi publik di Roma terus-menerus menyingkap lapisan-lapisan sejarah kuno kota tersebut, mengubah stasiun-stasiun metro baru menjadi museum arkeologi yang dapat diakses publik. Stasiun San Giovanni di Jalur C Metro Roma telah menjadi contoh utama dari fenomena ini, menampilkan artefak Romawi dan prasejarah yang ditemukan selama konstruksinya. Sementara itu, stasiun Amba Aradam-Ipponio, yang masih dalam pembangunan di jalur yang sama, telah mengungkap barak tentara Romawi kuno yang sangat terawat, menandai tantangan dan peluang signifikan bagi pelestarian warisan budaya Italia di tengah modernisasi perkotaan.
Penemuan di San Giovanni, yang dibuka pada tahun 2018, mencakup spektrum luas dari sejarah Romawi, mulai dari struktur pertanian kuno, artefak prasejarah yang berasal dari 4.000 tahun sebelum Masehi, hingga temuan-temuan dari periode kekaisaran. Stasiun ini kini menampilkan pameran interaktif dengan kotak-kotak kaca yang memperlihatkan temuan-temuan arkeologi secara in situ maupun yang direstorasi, memberikan gambaran langsung kepada penumpang mengenai evolusi kota. Beberapa temuan paling menarik termasuk kolam buah persik dari zaman Kaisar Hadrianus dan bagian dari Aqueduct Aqua Claudia. Dr. Simona Morretta, seorang arkeolog yang terlibat dalam proyek tersebut, menyatakan bahwa San Giovanni adalah "museum yang terintegrasi sepenuhnya dengan stasiun metro," sebuah konsep yang mendefinisikan kembali interaksi publik dengan sejarah perkotaan.
Di sisi lain, proyek stasiun Amba Aradam-Ipponio telah menyoroti skala tantangan arkeologi yang dihadapi oleh pengembangan Jalur C. Di lokasi ini, para arkeolog menemukan barak tentara Romawi yang luar biasa, berukuran sekitar 900 meter persegi dan berasal dari abad ke-2 Masehi. Barak ini memiliki 39 kamar yang dihiasi dengan lukisan dinding dan mozaik, serta sebuah nekropolis yang berdekatan. Penemuan ini begitu signifikan sehingga Superintendency for Archaeological Heritage of Rome dan otoritas transportasi harus merevisi rencana pembangunan. Dario Franceschini, Menteri Kebudayaan Italia saat itu, menyebut penemuan ini "luar biasa" dan menggarisbawahi pentingnya melestarikan situs tersebut. Otoritas telah memutuskan untuk membongkar dan memindahkan barak tersebut ke lokasi lain untuk direkonstruksi di masa depan, kemungkinan di dekat Colosseum atau di dalam stasiun itu sendiri setelah pembangunannya selesai, sebuah proses yang rumit dan mahal. Proyek pembangunan Jalur C, yang diperkirakan menelan biaya €3,7 miliar, telah mengalami penundaan bertahun-tahun sebagian besar karena kompleksitas arkeologi ini.
Integrasi artefak kuno ke dalam ruang publik modern seperti stasiun metro mencerminkan pendekatan ganda Italia terhadap warisan budayanya: pelestarian dan aksesibilitas. Ini bukan hanya sebuah upaya untuk memitigasi dampak pembangunan, tetapi juga strategi untuk menjadikan sejarah lebih relevan dan mudah dijangkau oleh warga dan jutaan wisatawan yang mengunjungi Roma setiap tahun. Arkeolog dan kritikus perkotaan menganggap ini sebagai model penting untuk kota-kota lain yang berhadapan dengan pembangunan di atas situs bersejarah. Namun, proses ini tidak tanpa kritik, terutama terkait dengan biaya tambahan, penundaan proyek, dan etika pemindahan artefak dari lokasi aslinya. Keputusan untuk memindahkan barak di Amba Aradam, misalnya, memicu perdebatan sengit di kalangan komunitas arkeologi mengenai metode terbaik untuk melestarikan situs semacam itu. Meskipun demikian, stasiun-stasiun ini berfungsi sebagai kapsul waktu yang unik, menawarkan sekilas pandang ke masa lalu Roma yang berlapis-lapis, sekaligus melayani kebutuhan transportasi masa kini dan masa depan.