Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Restoran Kontestan Culinary Class Wars S2 yang Merambah Amerika: Kisah Ekspansi Gemilang

2026-01-16 | 04:56 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T21:56:44Z
Ruang Iklan

Restoran Kontestan Culinary Class Wars S2 yang Merambah Amerika: Kisah Ekspansi Gemilang

Kompetisi memasak global Culinary Class Wars Musim Kedua, yang tayang perdana di Netflix pada 16 Desember 2025, telah menjadi katalisator signifikan bagi ekspansi dan visibilitas restoran para kontestannya, dengan beberapa di antaranya kini menjangkau pasar internasional, termasuk Amerika Serikat. Ajang yang mempertemukan 100 koki profesional "White Spoon" dan koki non-profesional "Black Spoon" ini tidak hanya memicu lonjakan minat kuliner, tetapi juga secara konkret meningkatkan reservasi restoran kontestan hingga 148 persen pasca-penayangan musim sebelumnya, menurut data dari CatchTable.

Culinary Class Wars, yang dikenal karena formatnya yang intens dan penilaian ketat dari juri seperti Baek Jong Won dan Ahn Sung Jae, berfungsi sebagai platform unik yang dapat mengubah karier juru masak dan membawa masakan mereka ke panggung dunia. Musim kedua memperkenalkan 20 koki profesional "White Spoon" dari berbagai latar belakang bergengsi, termasuk pemilik restoran berbintang Michelin dan veteran industri kuliner, berhadapan dengan 80 koki "Black Spoon" yang mewakili bakat-bakat baru dan juru masak rumahan. Dinamika ini menciptakan narasi kompetitif yang menarik, mendorong inovasi dan kreativitas yang resonansi secara global.

Di antara kontestan yang menunjukkan dampak nyata dari partisipasi dalam kompetisi ini adalah Chef Edward Lee, seorang koki asal Amerika yang mengelola restoran 610 Magnolia di Kentucky, Amerika Serikat, yang menyajikan hidangan ala Southern. Lee, yang telah sembilan kali dinominasikan untuk James Beard Award, merepresentasikan koneksi langsung acara ini dengan kancah kuliner AS. Meskipun restorannya sudah mapan di AS sebelum kompetisi, partisipasinya dalam ajang global seperti Culinary Class Wars memperkuat profil internasionalnya dan memperkenalkan gaya masaknya kepada audiens yang lebih luas.

Lebih jauh, acara ini menyoroti keberadaan chef yang gaya masakan atau restorannya telah meraih popularitas di luar Korea Selatan. Misalnya, chef di balik restoran Okdongsik di Mapo, Seoul, dikenal dengan hidangan sup tulang babi beningnya yang sangat disukai di New York, AS, meski cabangnya sendiri berlokasi di Seoul. Hal ini menggarisbawahi bagaimana paparan global dari kompetisi semacam ini dapat menciptakan reputasi lintas batas bagi para koki dan hidangan mereka, bahkan tanpa kehadiran fisik cabang di negara lain.

Selain itu, beberapa kontestan "White Spoon" lainnya telah sukses membangun jaringan restoran ternama di Seoul. Chef Lee Jun, yang dikenal sebagai pelopor kuliner mewah Korea dan pemilik restoran berbintang dua Michelin Soigné, juga mengoperasikan Rudbeckia yang menyajikan masakan Barat di Jongno, Seoul. Chef Son Jong Won memimpin dua restoran berbintang satu Michelin, L'Amant Secret yang menawarkan hidangan fusion Korea-Barat inovatif dan Eatanic Garden dengan masakan Korea di Josun Palace Hotel. Sementara itu, Jeong Ji Seon, dijuluki "Queen of Dim Sum," memiliki dua cabang restoran Tian Mi Mi yang menyajikan aneka hidangan Cina di Seoul.

Dampak ekonomi dari program kuliner televisi tidak dapat diremehkan. Lonjakan reservasi restoran kontestan setelah Culinary Class Wars menyoroti efek multiplier yang signifikan terhadap industri makanan dan minuman. Fenomena ini sejalan dengan data pertumbuhan industri makanan dan minuman yang mencapai 10,17 persen pada triwulan II-2024 di Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan vitalitas sektor kuliner di tengah persaingan. Kompetisi semacam ini memacu inovasi, menarik investasi, dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan pariwisata kuliner.

Dalam konteks yang lebih luas, ekspansi kuliner ini mendukung inisiatif "gastrodiplomasi" yang diusung banyak negara, termasuk Indonesia melalui program "Indonesia Spice Up The World" (ISUTW). Program tersebut menargetkan pendirian 4.000 bisnis kuliner Indonesia di berbagai negara pada tahun 2024 dan ekspor rempah senilai 2 miliar dolar AS, dengan sekitar 89 restoran Indonesia telah beroperasi di AS. Menteri Perdagangan Indonesia, Budi Santoso, pada Oktober 2025, optimistis kuliner Indonesia memiliki potensi mendunia, membuka akses pasar ke lima negara dan berpotensi memberikan efek berganda bagi ekonomi Indonesia.

Namun, keberhasilan ekspansi internasional juga dihadapkan pada tantangan regulasi, preferensi pasar, dan kebutuhan akan dukungan berkelanjutan. Kerjasama antara pemerintah, diaspora, dan asosiasi kuliner menjadi krusial untuk memastikan restoran-restoran ini dapat beradaptasi dan bersaing di pasar global. Kisah sukses restoran kontestan Culinary Class Wars Musim Kedua menunjukkan bahwa acara televisi dapat menjadi lebih dari sekadar hiburan; mereka adalah inkubator bisnis dan duta budaya yang kuat, membentuk lanskap kuliner global dan membuka jalan bagi talenta baru untuk meraih pengakuan di pasar yang semakin terhubung.