:strip_icc()/kly-media-production/medias/5179010/original/094151500_1743473609-000_38H22T2.jpg)
Tokyo diprediksi akan menjadi salah satu kota pertama di Jepang yang menyaksikan mekarnya bunga sakura varietas Somei Yoshino pada musim semi 2026, dengan perkiraan awal mekar pada 22 Maret dan mencapai puncaknya sekitar 29 Maret. Prakiraan terbaru ini, yang dirilis oleh Japan Meteorological Corporation (JMC) pada 22 Januari 2026 sebagai pembaruan ketiga mereka, mengindikasikan bahwa sebagian besar wilayah di Jepang diperkirakan akan mengalami periode mekar yang mendekati rata-rata tahunan, meskipun dengan beberapa penyesuaian hari.
Fenomena mekarnya bunga sakura merupakan indikator iklim yang sensitif, dan pengamatan selama berabad-abad menunjukkan tren pergeseran yang signifikan. JMC, yang mendasarkan prediksinya pada pola suhu musim gugur sebelumnya dan kini mengintegrasikan kecerdasan buatan, melaporkan bahwa Tokyo dan Fukuoka memiliki tanggal mekar awal yang serupa. Fukuoka diperkirakan akan mulai berbunga pada 22 Maret dan mencapai mekar penuh pada 30 Maret. Kota-kota besar lainnya di Honshu, seperti Kyoto, diperkirakan akan mulai mekar pada 25 Maret dan mencapai puncak pada 2 April. Osaka juga diperkirakan akan mulai mekar pada 25 Maret dan mekar penuh pada 1 April. Sementara itu, wilayah utara Jepang akan mengalami mekarnya bunga sakura lebih lambat, dengan Sapporo di Hokkaido diprediksi mulai mekar pada 26 April dan mencapai puncak pada 30 April.
Pergeseran pola mekar bunga sakura telah menjadi subjek kekhawatiran di kalangan ilmuwan iklim. Data historis menunjukkan bahwa bunga sakura di Jepang telah mengalami periode mekar puncak yang lebih awal secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Sebagai contoh, pada tahun 2021, bunga sakura di pusat kota bersejarah Kyoto mencapai puncaknya pada 26 Maret, tanggal berbunga penuh paling awal dalam 1.200 tahun sejarah observasi. Yasuyuki Aono, seorang peneliti dari Osaka Metropolitan University, yang telah meneliti tanggal berbunga bunga sakura, menjelaskan bahwa krisis iklim dan pemanasan urban telah mendorong maju periode mekar puncak hingga 11 hari. Peningkatan suhu rata-rata bulan Maret di Kyoto, yang telah naik beberapa derajat sejak era pra-industri, dipercaya menjadi faktor utama. Fenomena "pulau panas" perkotaan, di mana bangunan dan jalan menyerap lebih banyak panas matahari dibandingkan area pedesaan, turut mempercepat proses ini.
Implikasi dari perubahan ini tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi. Musim bunga sakura adalah daya tarik wisata utama di Jepang, menarik jutaan pengunjung domestik dan internasional. Pergeseran waktu mekar dapat mempengaruhi perencanaan perjalanan, festival lokal, dan industri pariwisata secara keseluruhan. Jika emisi gas rumah kaca terus berlanjut pada tingkat saat ini, proyeksi menunjukkan bahwa bunga sakura Kyoto dapat berbunga hampir tiga minggu lebih awal pada akhir abad ini. Hal ini tidak hanya mengubah lanskap musiman Jepang, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat visual tentang dampak nyata perubahan iklim global.