:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475923/original/097245800_1768690448-WhatsApp_Image_2026-01-15_at_11.16.07.jpeg)
Di tengah lanskap tropis pedalaman Ubud, Bali, sebuah tren arsitektur yang merangkul keberlanjutan dan estetika lokal sedang berkembang, menarik pasangan dari seluruh dunia untuk merayakan pernikahan privat mereka di paviliun terbuka berbahan bambu. Fenomena ini tidak hanya menyoroti keindahan alam Bali, tetapi juga menunjukkan pergeseran menuju pariwisata yang lebih bertanggung jawab, dengan tempat-tempat seperti Puspaka Sky Wedding Chapel di The Kayon Jungle Resort dan Aksari Bamboo Chapel di Aksari Resort Ubud menjadi sorotan utama.
Industri pernikahan destinasi di Bali mengalami lonjakan signifikan pasca-pandemi, dengan perkiraan pertumbuhan 10-15% setiap tahun. Bali bahkan dinobatkan sebagai destinasi pernikahan terpopuler kedua di dunia pada tahun 2024, berdasarkan laporan Bounce, dengan lebih dari 1,3 juta unggahan menggunakan tagar #baliwedding di Instagram. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, secara konsisten menyuarakan niatnya untuk memasarkan Bali sebagai destinasi pernikahan terkemuka, terutama untuk wisatawan India, yang menyebutkan biaya lebih terjangkau sebagai daya tarik utama.
Paviliun bambu terbuka ini menawarkan alternatif unik dari venue pernikahan tradisional, memadukan kemewahan dengan kesadaran ekologis. Bambu, sebagai material yang melimpah dan cepat terbarukan di Indonesia, menyediakan fondasi untuk konstruksi yang minim dampak lingkungan. Resort seperti The Jungle Club Ubud dan Bambu Indah secara eksplisit mengintegrasikan material berkelanjutan seperti bambu dan kayu daur ulang dalam desain mereka, mencerminkan komitmen terhadap sumber daya alam Bali. Ruang terbuka ini mengundang sirkulasi udara alami dan cahaya matahari, mengurangi ketergantungan pada pendingin atau penerangan buatan.
Pilihan terhadap arsitektur bambu bukan sekadar tren visual, melainkan refleksi filosofi yang lebih dalam mengenai keharmonisan dengan alam. “Kapel ini bukan hanya tempat untuk mengucapkan 'Saya bersedia,' tetapi sebuah tempat perlindungan di mana impian menjadi kenyataan di tengah keindahan alam,” ujar Wayan Sucitra, General Manager The Kayon Valley Resort, mengenai Puspaka Wedding Chapel. Dengan kapasitas tempat duduk hingga 30 orang, kapel ini menyediakan suasana intim dengan pemandangan hutan tropis yang menakjubkan.
Implikasi jangka panjang dari tren ini melampaui estetika. Penggunaan bambu dalam konstruksi pariwisata berkelanjutan di Ubud dapat meningkatkan pendapatan lokal dan menciptakan lapangan kerja baru, seiring dengan meningkatnya permintaan akan akomodasi ramah lingkungan, pertanian organik, dan aktivitas berbasis komunitas. Praktik pariwisata hijau, yang memprioritaskan keberlanjutan dan pelestarian lingkungan, membuka peluang ekonomi baru di era yang semakin peduli ekologi. Banyak akomodasi kini mengintegrasikan desain berkelanjutan, sistem hemat energi, dan langkah-langkah konservasi air untuk meminimalkan jejak lingkungan mereka.
Meskipun demikian, penggunaan bambu dalam skala besar juga menghadirkan tantangan. Durabilitas bambu terhadap cuaca tropis yang lembap dan potensi serangan hama memerlukan perlakuan dan perawatan khusus agar strukturnya tetap kokoh dan tahan lama. Inovasi dalam pengolahan bambu, seperti laminasi dan teknik pengawetan modern, menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan material ini dalam jangka panjang.
Kehadiran paviliun bambu terbuka sebagai venue pernikahan privat di Ubud mengindikasikan evolusi pasar pariwisata. Pasangan modern kini mencari pengalaman yang lebih autentik, intim, dan selaras dengan nilai-nilai lingkungan. Ini mendorong operator pariwisata di Bali untuk terus berinovasi, tidak hanya dalam menawarkan keindahan visual, tetapi juga dalam mempromosikan praktik-praktik yang mendukung pelestarian budaya dan alam pulau Dewata untuk generasi mendatang.