Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Misteri Hilang Kontak ATR 42-500 di Maros: Jejak Pesawat di Balik Awan Pekat

2026-01-18 | 00:03 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T17:03:02Z
Ruang Iklan

Misteri Hilang Kontak ATR 42-500 di Maros: Jejak Pesawat di Balik Awan Pekat

Pesawat turboprop ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT) yang membawa sebelas orang—terdiri dari delapan awak dan tiga penumpang—kehilangan kontak dengan menara kontrol udara Makassar pada Sabtu pagi, 17 Januari 2026, saat mendekati Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Maros, Sulawesi Selatan. Insiden tersebut terjadi pada pukul 04.23 UTC atau sekitar 13.17 Waktu Indonesia Tengah, setelah pesawat yang dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar itu teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, memicu deklarasi fase darurat DETRESFA oleh Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC). Pencarian intensif sedang berlangsung di wilayah pegunungan karst Bantimurung, Maros, meskipun kondisi cuaca buruk dan medan sulit menghambat upaya tim SAR.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa menjelaskan bahwa pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut, dipiloti oleh Kapten Andy Dahananto, diarahkan oleh ATC untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21. Namun, saat proses pendekatan, pesawat teridentifikasi keluar jalur, mendorong ATC untuk memberikan instruksi koreksi posisi. Komunikasi dengan pesawat terputus setelah instruksi terakhir disampaikan. Menurut informasi awal dari Kementerian Perhubungan, kondisi cuaca di sekitar area kejadian dilaporkan sedikit berawan dengan jarak pandang sekitar 8 kilometer. Kendati demikian, pencarian di lapangan dilaporkan terkendala kabut tebal dan kondisi geografis pegunungan yang terjal.

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman telah mengerahkan tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, serta relawan setempat untuk menyisir area yang diduga menjadi titik terakhir kontak. Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Bangun Nawoko menyebutkan adanya laporan dari warga tentang suara ledakan dan penampakan titik api di Gunung Bulusaraung, Maros, yang kini tengah diverifikasi sebagai lokasi jatuhnya pesawat. Basarnas Makassar juga telah mendirikan posko di dekat lokasi koordinat terakhir, yang mengarah ke kawasan Taman Nasional Bantimurung yang didominasi pegunungan kapur ekstrem.

Insiden ini kembali menyoroti kompleksitas keselamatan penerbangan di Indonesia, terutama dalam menghadapi dinamika cuaca lokal dan topografi yang menantang. Pesawat ATR 42-500 dikenal sebagai pesawat regional yang handal, namun usianya yang mencapai 26 tahun menuntut standar pemeliharaan yang ketat dan kewaspadaan awak pesawat yang tinggi, terutama di wilayah dengan cuaca yang sering kali tidak terprediksi. Pengamat penerbangan Gerry Soejatman berpendapat bahwa cuaca "sedikit berawan" saja tidak cukup menjadi penyebab utama kecelakaan, mengingat pesawat lain yang mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin pada waktu berdekatan tidak mengalami kendala. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa faktor-faktor lain, seperti potensi masalah teknis atau navigasi, kemungkinan besar juga berperan dalam insiden ini.

Kementerian Perhubungan telah menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi intensif dengan AirNav Indonesia, Basarnas, operator penerbangan, TNI Angkatan Udara, serta instansi terkait lainnya. Pabrikan pesawat ATR juga telah mengonfirmasi pengerahan tim ahli mereka untuk mendukung investigasi yang dipimpin oleh otoritas Indonesia dan memberikan dukungan teknis kepada IAT. Penyelidikan mendalam oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan krusial untuk mengidentifikasi penyebab pasti hilangnya kontak dan potensi jatuhnya pesawat, guna merumuskan rekomendasi keselamatan penerbangan di masa mendatang. Proses ini diharapkan dapat memberikan pelajaran berharga untuk peningkatan protokol keselamatan, terutama dalam fase pendekatan dan pendaratan di wilayah pegunungan atau dalam kondisi cuaca buruk yang umum terjadi di Indonesia.