:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477562/original/022471000_1768869683-WhatsApp_Image_2026-01-19_at_22.56.19.jpeg)
PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor aviasi dan pariwisata, menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO2e pada tahun 2026. Komitmen ini merupakan bagian dari upaya InJourney untuk memastikan pariwisata berkelanjutan di Indonesia tidak hanya menjadi "kosmetik" semata, melainkan fondasi fundamental dalam operasionalnya. Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyatakan bahwa target tersebut akan direalisasikan melalui aksi nyata mulai tahun ini, sejalan dengan visi perseroan untuk mengintegrasikan ekosistem aviasi dan pariwisata nasional menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers "4 Tahun InJourney: Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia" di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.
Watono menjelaskan bahwa dengan mengelola 37 bandara, destinasi pariwisata, dan puluhan hotel di seluruh Indonesia, InJourney memiliki jejak karbon yang signifikan. Pada tahun 2024, destinasi di bawah InJourney mencatat sekitar 98 juta kunjungan, sementara bandara yang dikelola melayani 157 juta penumpang. Skala operasi ini menuntut tanggung jawab besar dalam pengelolaan lingkungan. Untuk mencapai target pengurangan emisi, InJourney akan fokus pada empat pilar utama. Pertama, pemanfaatan panel surya di bandara-bandara. Saat ini, panel surya telah terpasang di Bandara Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai, yang berkontribusi mengurangi emisi sekitar 2.000 ton CO2e. Pemanfaatan energi surya ini akan diperluas ke 37 bandara yang dikelola InJourney Airports. Inisiatif ini berpotensi menurunkan emisi hingga 9.860 ton CO2e per tahun secara keseluruhan, setara dengan penyerapan karbon oleh 272 ribu pohon.
Pilar kedua adalah penerapan manajemen limbah di seluruh hotel dan destinasi wisata yang dikelola. Ketiga, penggantian kendaraan operasional dengan kendaraan listrik (EV) di berbagai aset destinasi wisata. Hingga kini, sebanyak 716 unit kendaraan dan peralatan listrik telah dioperasikan, seperti ground support equipment, buggy car, dan moda transportasi di berbagai destinasi wisata. Keempat, program reforestasi, termasuk penanaman 40.000 pohon mangrove di Mandalika, Nusa Dua Bali, dan wilayah operasional lainnya. Penanaman mangrove ini diharapkan memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dan mendukung keberlanjutan destinasi pariwisata.
Herdy Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney, menekankan bahwa keberlanjutan dan praktik bisnis yang bertanggung jawab menjadi fondasi transformasi pariwisata nasional. Ia menambahkan bahwa InJourney ingin membangun pariwisata berkualitas yang memberikan warisan bagi generasi penerus. Untuk memastikan inisiatif ini tidak hanya sebatas "kosmetik" atau seremoni, InJourney menyiapkan dashboard untuk memantau dan mengukur emisi karbon dan carbon offset yang telah dilakukan. Hal ini sejalan dengan agenda ESG (Environmental, Social, and Governance) perusahaan dan dukungan terhadap target Net Zero Emission Pemerintah Indonesia.
Komitmen InJourney ini muncul di tengah meningkatnya kesadaran global akan dampak lingkungan dari pariwisata. Sektor pariwisata, yang melibatkan transportasi, komersial, dan kuliner, menyumbang sekitar 8% dari emisi gas rumah kaca global, dengan jejak karbon yang meningkat pesat dari tahun ke tahun. Indonesia, dengan keindahan alam dan warisan budayanya, menghadapi tantangan kerusakan lingkungan dan overtourism akibat popularitas destinasi wisatanya. Pariwisata berkelanjutan dipandang sebagai solusi untuk menjaga kelestarian alam dan budaya serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
InJourney sendiri berambisi menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan kontribusi PDB nasional sebesar 4,1 hingga 6 persen hingga tahun 2029. Namun, pencapaian target emisi 4.000 ton CO2e ini menandai langkah konkret yang lebih jauh dari sekadar retorika, mengukuhkan pendekatan InJourney terhadap pariwisata sebagai investasi lintas generasi yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan sosial. Integrasi ekosistem pariwisata nasional yang menyatukan atraksi, aksesibilitas, dan amenitas, seperti yang digagas InJourney, menjadi kunci dalam mewujudkan model pariwisata yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis.