:strip_icc()/kly-media-production/medias/4393281/original/093530800_1681360629-pexels-drew-rae-580679.jpg)
Pada 20 Juni 1955, sebuah gerhana matahari total dengan durasi 7 menit 8 detik terjadi, menjadikannya gerhana terpanjang dalam satu abad terakhir. Gerhana luar biasa ini melintasi jalur totality yang mencakup Samudra Hindia, Seychelles Britania, Maladewa, Ceylon (kini Sri Lanka), Kepulauan Andaman, Burma (kini Myanmar), Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam Selatan, Kepulauan Paracel, Scarborough Shoal, Filipina, Atol Kayangel di Palau, Kepulauan Nukumanu di Papua Nugini, hingga Atol Ontong Java di Kepulauan Solomon Britania. Fenomena astronomi ini, yang terjadi sekitar 14,5 jam setelah perigee Bulan, di mana diameter Bulan tampak lebih besar, merupakan yang terlama dalam seri Saros 136 dan tercatat sebagai gerhana matahari total terpanjang sejak abad ke-11 hingga abad ke-22.
Durasi yang luar biasa panjang ini dihasilkan dari kombinasi faktor astronomis langka, termasuk posisi Bulan yang sangat dekat dengan Bumi (perigee) dan Bumi yang relatif jauh dari Matahari (aphelion), membuat cakram Bulan tampak cukup besar untuk menutupi Matahari sepenuhnya untuk periode yang diperpanjang. Selain itu, jalur gerhana yang melintasi dekat khatulistiwa, di mana kecepatan rotasi Bumi paling tinggi, turut memperlambat pergerakan bayangan umbra Bulan di permukaan Bumi, memaksimalkan waktu kegelapan total.
Meskipun terjadi beberapa dekade lalu, daya tarik gerhana matahari total berdurasi panjang seperti peristiwa 1955 tetap relevan bagi para pelancong dan ilmuwan. Pada masa itu, pengamatan gerhana telah menarik perhatian para astronom. Sebagai contoh, astronom Frank G. Back melakukan pengamatan spektroskopi dari jet T-33 yang terbang dengan kecepatan 600 mph untuk mengejar bayangan Bulan pada gerhana 1955, yang memungkinkan pengamatan totalitas hingga 12 menit dan 15 detik. Upaya ini menandai salah satu pengejaran pesawat yang berhasil paling awal untuk studi gerhana ilmiah.
Saat ini, gerhana matahari total telah menjadi pendorong pariwisata signifikan. Gerhana Amerika Besar tahun 2017 menunjukkan lonjakan besar dalam pariwisata, dengan beberapa wilayah melaporkan jumlah pengunjung beberapa kali lipat dari populasi mereka. Wyoming mencatat peningkatan ekonomi sebesar 63,5 juta dolar AS karena peningkatan perjalanan dan pengeluaran turis selama gerhana tersebut. Demikian pula, gerhana April 2024 diproyeksikan menghasilkan 6 miliar dolar AS dalam aktivitas ekonomi, dengan hotel-hotel penuh dan mengenakan tarif hingga dua kali lipat. Negara bagian seperti Ohio dan Indiana diperkirakan menerima suntikan ekonomi masing-masing sekitar 100 juta dolar AS dan 150 juta dolar AS. Wakil Presiden Operasional Pemasaran North Country Chamber of Commerce, Kristy Kennedy, memuji dampak ekonomi gerhana 2024 di wilayah New York, menyoroti bagaimana hal itu mendukung perusahaan lokal dan menciptakan lapangan kerja.
Bagi para pengamat dan ahli, pengalaman gerhana matahari total digambarkan sebagai sesuatu yang mendalam. Neil deGrasse Tyson, astrofisikawan terkemuka, mencatat kebetulan unik di mana Bulan Bumi, yang sekitar 1/400 diameter Matahari, juga berjarak 1/400 kali dari kita, membuat Matahari dan Bulan tampak memiliki ukuran yang sama di langit. Emily M. Levesque, seorang astronom, menggambarkan totalitas sebagai "kekosongan hitam pekat yang menakjubkan di tempat Matahari, dikelilingi oleh lingkaran cahaya putih bergerigi yang hampir membuat saya meneteskan air mata." Brother Guy Consolmagno, Direktur Observatorium Vatikan, menekankan aspek universal dari peristiwa ini: "Ini adalah momen yang dibagikan. Ini adalah pengalaman yang dibagikan. Dan yang terbaik adalah langit milik semua orang. Itu tidak terikat pada agama, politik, atau tim olahraga Anda. Itu adalah sesuatu yang dapat dialami semua orang."
Melihat ke depan, gerhana matahari total dengan durasi luar biasa panjang akan kembali menarik perhatian para pelancong. Pada 2 Agustus 2027, gerhana matahari total lain yang dijuluki "gerhana abad ini" diperkirakan akan memiliki durasi hingga 6 menit 23 detik di dekat Luxor, Mesir. Gerhana ini akan melintasi Afrika Utara, sebagian Spanyol, dan Timur Tengah, menjadikannya gerhana terpanjang hingga tahun 2132. Peristiwa ini memberikan kesempatan unik untuk penelitian ilmiah yang diperpanjang, termasuk pengamatan korona Matahari, studi angin Matahari dan aktivitas magnetik, serta pemahaman yang lebih baik tentang perubahan atmosfer dan suhu selama gerhana. Meskipun ada gerhana pada 12 Agustus 2026 yang terlihat dari Islandia dan Spanyol, durasi totalitas maksimumnya hanya mencapai 2 menit 18 detik. Antusiasme untuk gerhana 2027 mencerminkan daya tarik abadi dari peristiwa langit langka ini yang terus mendorong perjalanan dan penemuan ilmiah.